Minggu, 13 Mei 2018

Rakernas Pertama Puan Hayati

Anggun dan bersahaja dalam balutan busana kebaya putih dan selendang merah, perempuan – perempuan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa nampak hikmat mengikuti upacara pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Puan Hayati Tingkat Nasional di Bromo meeting room Hotel Aria Centra Surabaya, siang kemarin, Sabtu (12/5). Tari Jejer Banyuwangi disuguhkan menjadi pembuka acara tersebut.

Bergelora lagu mars Puan Hayati untuk pertama kalinya berkumandang dipimpin langsung oleh sang pencipta lagu Rohayani, perempuan penghayat asal Bandung. Dilanjutkan dengan pembukaan secara resmi oleh  Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Ir. Drs. Nono Adyo Supriyatna, MM, Mmt, yang sekaligus didaulat menjadi keynote speaker.

Rakernas diikuti 90 orang peserta yang terdiri dari perwakilan Puan Hayati tingkat provinsi se Indonesia, perwakilan departemen wanita MLKI se Jatim, perwakilan organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan organisasi wanita lintas iman Jawa Timur.

Rakernas ini baru pertama kali dilaksanakan pasca terbentuknya Puan Hayati Pusat, 13 Mei 2017. Acara yang dihelat tgl 12-13 Mei 2018 ini diselenggarakan oleh Puan Hayati Pusat berkat dukungan dari Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan tradisi dan para simpatisan.

Dian Jennie Tjahjawati, Ketua Umum Puan Hayati Pusat menyatakan bahwa rakernas telah merumuskan agenda organsasi untuk meneguhkan sikap dan komitmen pada kebangsaan, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. “Kebutuhan peran tersebut telah menyatakan diri dalam tragedi bom di Surabaya pagi ini akibat lemahnya penghayatan terhadap nilai-nilai warisan para pendiri bangsa dan leluhur kita,” ungkapnya prihatin.

Rakernas juga telah merumuskan hal terkait eksistensi perempuan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, terutama pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal pencatuman identitas Kepercayaan pada kolom agama di Kartu Tanda Penduduk. Berbagai perkembangan aktual tersebut telah menjadi faktor yang sangat menentukan perlunya pemupukan identitas Penghayat, sekaligus menjadi tantangan besar untuk semakin meneguhkan komitmen perempuan Penghayat terhadap kebangsaan Indonesia.

Inilah salah satu pokok pikiran yang disampaikan Eva K. Sundari dalam sesi pleno terakhir Rakernas tersebut. “ Puan Hayati hadir pada momen yang tepat, di tengah tantangan kebangsaan dan Bhineka Tunggal Ika yang tengah diserang oleh kekuatan radikalisme dan terorisme. Puan Hayati harus berkiprah karena bangsa sudah memanggil,” paparnya.

Eva Sundari, ketua Kaukus Pancasila mengajak seluruh pengurus dan anggota Puan Hayati untuk melakukan hening cipta bagi para korban aksi terorisme di Surabaya.

Adapun materi dan narasumber acara tersebut antara lain Ustad  Nakhoi (Perwakilan Komnas Perempuan) tentang Kesetaraan gender dan hak Perempuan dalam akses perempuan, Dian Jennie Cahyawati, S.sos, tentang Peran Perempuan dalam transformasi nilai-nilai ajaran, Akhol Firdaus, M.ag, M.pd (Akademisi) tentang Perempuan sebagai aktor kunci perubahan, Eva Sundari tentang Perempuan Penghayat sebagai Pilar Kebangsaan dan Kebhinekaan, Sri Hartini, M.si (Sekretaris Dirjen Kebudayaan) tentang Membangun Eksistensi Perempuan Penghayat Kepercayaan dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

Sabtu, 12 Mei 2018

Ternyata pakai Iket, lebih ganteng

Ratusan pelajar di Kabupaten Cilacap tampak berbeda siang itu, Jumat (11/5). Mereka terlihat lebih ganteng dengan memakai iket (jawa : ikat kepala) dalam acara Workshop Seni dan Budaya yang digelar di Aula Diklat Praja, Cilacap.

Tidak hanya pelajar laki-laki, antusias pun juga terlihat dari pelajar perempuan yang juga serius belajar memakai iket.

Iket merupakan busana daerah yang dipakai khusus dikepala, yang mempunyai filosofi sebagai pengikat antara pikiran dan hati agar tetap selalu berpikir dan berperilaku yang baik, jelas Muslam, salah satu narasumber di acara tersebut.

Panji, salah satu peserta mengatakan bahwa memakai pakai iket itu ternyata kelihatan lebih ganteng. Setelah mengikuti workshop tersebut, semua peserta diwajibkan mengikuti lomba memakai iket yang digelar langsung usai materi disampaikan.

Acara yang diselenggarakan Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Tengah ini juga menghadirkan narasumber dari Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Joko Wicaksono.

Minggu, 06 Mei 2018

Deklarasi Puan Hayati Jawa Tengah

Ada yang berbeda dari Sarasehan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa wilayah Jateng, Jatim dan DIY tahun ini. Pada tengah acara, usai sesi diskusi yang disampaikan oleh Ir. Drs. Nono Adyo Supriyatno, MM, M.T, Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Msha Esa dan tradisi, Kemendikbud RI dua belas perempuan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dari dua generasi di Jawa Tengah nampak berdiri bersatu padu dalam kebaya nuansa ungu.

Pada siang itu Direktorat memberikan ruang terselenggaranya pelantikan dan deklarasi Puan Hayati Provinsi Jawa Tengah. Puan Hayati adalah wadah perempuan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Msha Esa Indonesia yang berada dibawah naungan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI).

Pengucapan Panca Ikrar Puan Hayati Jateng pada saat pelantikan oleh Dian Jennie Cahyawati, S.sos, ketua Puan Hayati Pusat, menjadi tanda bahwa kepengurusan Puan Hayati Jawa Tengah telah dikukuhkan.

Berikut ini merupakan point dari Panca ikrar Puan Hayati  :
1. Puan Hayati adalah anak bangsa yang selalu setia kepada Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.
2. Puan Hayati adalah insan pertiwi yang menjunjung tinggi kepribadian bangsa Indonesia sebagai karakter perempuan penghayat sejati
3. Puan hayati senantiasa menjunjung tinggi nilai nilai kearifan lokal sebagai pencerminan dari nilai-nilai ajaran luhur bangsa.
4.Puan hayati adalah perempuan Indonesia yang berhati mulia, berperilaku jujur, pantang menyerah, berani membela kebenaran dan keadilan.
5. Puan hayati adalah perempuan pendidik anak bangsa yang berbudi pekerti luhur, cerdas serta memiliki jiwa nasionalisme.

Dalam sambutannya, Ir. Drs. Nono Adyo Suprayatno, MM, MT, sangat mengapresiasi terbentuknya kepengurusan Puan Hayati Jawa Tengah. Ia berharap dengan terbentuknya kepengurusan ini,  regenerasi dan pelestarian ajaran Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dapat berjalan baik dan tetap terjaga secara berkesinambungan.

Dian Jennie Cahyawati, S.sos, pada sesi pemaparannya yang mengulas Peran Perempuan dalam mewariskan nilai Kepercayaan terhadap keluarga, juga  terhadap Tuhan YME Jawa Tengah semakin menunjukkan eksistensinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. “Memang berat mengawali langkah setelah sekian lama tertidur, tapi dengan tekad dan semangat yang tinggi, mulailah dengan membuat kegiatan seperti anjangsana dan workshop” ujarnya memberikan semangat.

Kamis, 03 Mei 2018

Indonesia Raya 3 Stansa berkumandang di Sarasehan Penghayat Kepercayaan

Lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan 3 stansa berkumandang di Hotel Solo Paragon, tepatnya saat pembukaan Sarasehan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Rabu malam (2/5).

Baru kali ini saya ikuti sebuah pembukaan acara yang menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan 3 stansa, jelas Kinkin Sultanul Hakim saat membuka sarasehan tersebut. Ditambahkannya bahwa dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 stansa tersebut, akan lebih memberikan kita semangat kebangsaan, jika kita mampu meresapi dan menghayati setiap lirik yang sesaat masih terasa asing ditelinga kita.

Acara yang diselenggarakan Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud RI ini diikuti 124 peserta dari organisasi/paguyuban Kepercayaan diwilayah Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur, perwakilan dinas/OPD yang membidangi Kebudayaan dan beberapa LSM yang konsen terhadap permasalahan Penghayat Kepercayaan.

Sarasehan yang digelar selama 4 hari ini menghadirkan beberapa narasumber baik tingkat pusat maupun daerah. Diantaranya Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI, Drs. Nono Adya Supriyatno, MM, MT, Ketua Umum Puan Hayati (Perempuan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia) Dian Jeany, S.Sos, Akademisi UNAIR Dr. Dra. Pinky Saptandari, MA, Presidium MLKI Dr. Andri Hernandi, ST, MT, Akademisi UNY Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum, Pengurus Pusat MLKI Ir. Engkus Ruswana, MM, MLKI Jawa Tengah bidang Kepemudaan, Adi Pratikto, Akademisi UNDIP Adi Prasetijo, dan Akademisi Universitas Negeri Malang, Dr. Abdul Latif Bustami.



Minggu, 29 April 2018

Warna baru Karnaval Paskah Kota Semarang

Karnaval Paskah kembali di gelar. Ribuan warga kota semarang turut menyemarakkan
Karnaval Paskah tahun ini, sebelum pelepasan masyarakat antusias melihat visualisasi
penyaliban Yesus di kawasan kota lama, Jumat siang (27/4).

Peserta diberangkatkan dengan ditandai pelepasan bendera oleh Ketua DPRD Jawa Tengah Rukma Setiabudi, Ketua Komisi Hubungan Antar Umat Beragama Keuskupan Agung Semarang Romo Aloysius Budi Purnomo, Pendeta Natanael Setiabudi, dan Romo Eduard Didik.

Ada warna baru pada acara yang diadakan oleh Pemerintah Kota Semarang yang bertema
“Dengan Kebangkitan-Nya, Kita Srawung Dalam Keberagaman”  ini, pasalnya peringatan
paskah kali ini turut melibatkan komunitas lintas agama yang tergabung dalam Persaudaraan
Lintas Agama (PELITA) Semarang.

Adapun komunitas keagamaan yang turut meramaikan acara ini adalah GMKI, HMJ Studi Agama-Agama UIN Walisongo, PMII Semarang, JAGI, KPMKB, Persatuan Warga Sapta Dharma, STT Abdiel, dan Forum Perantara.

Selama Karnaval berlangsung, barisan Lintas Agama serentak menyanyikan lagu-lagu nasional dan daerah. Iringan saxophone oleh Romo Aloysius Budi Purnomo menambah semangat peserta Lintas Agama ini, mulai dari lagu Indonesia Pusaka, Ibu Kita Kartini, hingga lagu Yaa Lal Wathan menambah semangat nasionalisme dan persatuan.

Menurut Hendi (Walikota Semarang), karnaval ini sebagai bukti bahwa Kota Semaran tidak hanya mengakui keragaman, namun juga merayakan keberagaman itu sendiri. Karnaval ini bukan milik warga Semarang yang beragama Kristen dan Katolik saja. Tuturnya dalam penyambutan peserta di Balaikota Semarang.


Oleh : Rizky Amboen

Rabu, 25 April 2018

Terhanyut dalam kisah Kartini


Ny. Nur Inayah Salim, finalis dari Jepara
saat tampil dipanggung
Selasa (24/4), ratusan penonton yang berada dalam Gedung Dharma Wanita Persatuan, Jl. Menteri Supeno Semarang, seakan terhanyut dalam kisah Kartini. Kisah ini diceritakan dalam sebuah lomba Story Telling RA. Kartini yang diikuti anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) se Provinsi Jawa Tengah.

Lomba yang diadakan DWP Jateng ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Kartini ke 139 tahun 2018. Lomba ini diikuti 13 finalis, dimana para finalis tersebut merupakan hasil proses penyaringan dari 70 peserta yang berasal dari kabupaten/kota dan OPD provinsi Jawa Tengah.

Kisah Kartini sejak lahir hingga wafat diceritakan dengan penuh penjiwaan secara bergantian oleh para finalis menjadi 13 episode yang berbeda-beda. Mereka membawakan kisah Kartini dengan seni dan gayanya masing-masing. Bermacam-macam property dari meja, kursi, buku, boneka bayi, lampu teplok, foto Kartini, hingga perangkat gamelan saling bergantian menghiasi panggung. Beberapa finalis juga ada yang menunjukkan bakatnya dalam olah tembang macapat, seolah para penonton dibawa pada masa itu yang kental dengan budaya jawa.

Selain itu beberapa peserta juga melibatkan beberapa orang sebagai peraga untuk mengilustrasikan ceritanya. Sebagai contoh ada yang memerankan Kardinah (adik Kartini), Sosorokartono (kakak Kartini), Rosa Abendanon (sahabat Kartini), dll.

Lomba ini dibuka oleh Sekda Jateng Dr. Ir. Sri Puryono KS MP yang sekaligus Penasihat DWP Provinsi Jateng. Dalam sambutanya, Sri Puryono menjelaskan, seperti yang disampaikan RA Kartini, dengan pendidikan yang berorientasi kepada nalar dan akhlak, diharapkan mampu menempatkan diri dan bersikap sebagai bangsa yang berharkat dan bermartabat. Bila orang hendak sungguh-sungguh memajukan peradaban, kecerdasan pikiran dan pertumbuhan budi juga harus dimajukan.

“Semua itu juga mengandung makna, bahwa sejatinya tugas kaum perempuan itu juga tidak lebih ringan dari tugas kaum laki-laki. Sama, bahkan relatif lebih berat, karena pendidikan juga diawali saat anak masih dalam kandungan,” jelasnya.

"Saya berharap, sekolah, masyarakat, keluarga semua terlibat untuk membentuk generasi muda sebagai generasi berkarakter, santun, berbudi pekerti baik, dan cerdas,” bebernya. Hal ini selaras dengan tema Hari Kartini 2018, yaitu “Dengan Semangat Kartini, Kita Tingkatkan Kualitas Keluarga Dalam Menguatkan Pendidikan Karakter Generasi Penerus Bangsa”, maka jadikan generasi muda sebagai generasi masa kini yang berkarakter, serta cerdas secara total, baik secara intelektual, spiritual maupun emosional."

Ketua DWP Jateng, Ny. Rini Sri Puryono
berfoto besama dengan para pemenang lomba

Senada disampaikan Ketua DWP Jateng Ny. Rini Sri Puryono. RA Kartini merupakan tokoh wanita Jawa yang mampu membangun dan mendukung peradaban. Guna mendukung hal itu, semua warga Indonesia termasuk keluarga anggota Dharma Wanita untuk meneladani perjuangan RA Kartini.

"Generasi penerus negeri diharapkan merupakan generasi yang beriman, berintegritas, sehat, cerdas, kreatif, inovatif, mandiri, demokratis, bertanggung jawab, berdaya saing, kewirausahaan, kepeloporan, serta berbudaya", tambahnya.
 
Dewan juri lomba ini terdiri dari unsur budayawan, sastrawan, sekaligus jurnalis bidang sastra, yakni Maston Lingkar, Hendry TM, dan Triyanto Triwikromo. Dari sidang dewan juri menghasilkan 6 pemenang. Diantaranya sebagai Juara I diraih Ny. Nur Inayah Salim dari DWP Kabupaten Jepara, Juara II oleh Ny. Rika Budi Antowati dari DWP Undip, dan Juara III diraih Ny. Novia Rizki Hapsari dari DWP Kabupaten Pati.

Sedangkan Juara Harapan I diraih Ny. Eny Haryanti Bambang dari DWP Setda Prov Jateng, disusul Ny. Anif Maghfiroh dari Setwan DPRD Jateng dan Harapan III diraih Ny. Yunita Kuswarjanti Murtiningsih dari DWP Kabupaten Klaten.

Rabu, 18 April 2018

Persada Jateng Gelar Penataran Rohani

Untuk pertama kalinya Persatuan Warga Sapta Darma (PERSADA) Provinsi Jawa Tengah menggelar acara penataran rohani berupa Sujud Penggalian Pribadi Manusia tingkat Jawa Tengah.

Acara yang dilaksanakan 6 hari 6 malam, mulai Minggu (15/4) sampai dengan Sabtu (21/4) di Sanggar Candi Busana (SCB) Blater Kabupaten Semarang ini, mendapat antusias positif dari Warga Kerokhanian Sapta Darma (KSD).

Dari 40 Peserta yang mengikuti penggalian, 27 orang merupakan peserta laki-laki dan 13 orang peserta perempuan. Antara lain dari Kabupaten Semarang, Kota Semarang, Kabupaten Kendal, Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Banyumas, Kab Pati, dan Kabupaten Cilacap.

Biasanya warga KSD Jawa Tengah  aktif mengikuti kegiatan penggalian yang dilaksanakan 4-5 kali dalam satu tahun di Sanggar Candi Sapta Rengga Yogyakarta yang biasa disebut “Sanggar Agung” atau Sanggar Pusat.

Sujud Penggalian Pribadi Manusia merupakan penataran rohani bagi warga Sapta Darma sebagai sarana untuk meningkatkan mutu kerokhanian demi terwujudnya pembangunan dan pembinaan mental spiritual dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Ajaran Sapta Darma bukan sekedar ajaran untuk warga KSD saja, tetapi memberikan penerangan dan pencerahan bagi umat manusia yang sedang dalam kegelapan, sebagai wujud pengamalan budi pakarti yang luhur.

Tiga hal yang menjadi tujuan acara ini antara lain adalah menyempurnakan pengabdiannya kepada Hyang Maha Kuasa dan umat manusia, meningkatkan mutu kerokhanian warga Sapta Darma dan membentuk Satrio Utomo yang berbudi luhur, berkepribadian dan berkewaspadaan tinggi. Manusia yang dapat memayu hayu bagya bawana. Hal ini sesuai wewarah kerokhanian Sapta Darma yang disampaikan oleh Slamet Haryanto selaku Tuntunan Kerokhanian Sapta Darma Provinsi Jawa Tengah.

Ketidakpercayaan publik, kebrutalan massa dan gejolak lain dalam kehidupan berbangsa bernegara yang terjadi selama ini mempresentasikan sebuah kemerosotan dan kemunduran moral warganya.

Penataran rohani (Sujud Penggalian) ini merupakan salah satu solusi untuk membangun mental dan moral masyarakat serta mengembalikan jati diri bangsa Indonesia yang sopan santun, ramah tamah, beradab dan berbudi luhur.

Oleh : Dwi S Utami

Minggu, 15 April 2018

Ritual "Bangun Tulak" bawa Jateng sebagai Penyaji Terbaik pada Pawai Budaya Nusantara

Kontingen Jateng saat menampilkan Ritual Bangun Tulak
Sebuah upacara adat masyarakat Wonogiri Jawa Tengah yang bernama Ritual Bangun Tulak, siang tadi menghebohkan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Ritual yang biasa dilaksanakan saat panen padi di desa Tanggulangin kecamatan Jatisrono itu dipentaskan dalam bentuk pawai budaya.

Persembahan provinsi Jawa Tengah ini pun dinobatkan sebagai penyaji terbaik sekaligus menjadi juara umum, pada Pawai Budaya Nusantara 2018. Perhelatan tingkat nasional ini diselenggarakan oleh pihak TMII dalam acara Pekan Ulang Tahun TMII ke 43.

Sebanyak 17 provinsi ikut andil dalam ajang bergengsi ini. Setiap kontingen berjalan sekitar 400 meter, dengan mengambil start di depan Candi Bentar dan finish di Tugu Api Pancasila, tepatnya setelah podium kehormatan. Selama berjalan setiap kontingen diharuskan menampilkan atraksinya tanpa putus, karena tim pengamat tersebar disepanjang rute pawai. Tim pengamat tersebut diantaranya Abdul Rohim, Frans Sartono, dan Sigit Gunarjo.

Abdul Rohim yang menjadi ketua tim pengamat menyampaikan bahwa secara keseluruhan peserta tahun ini lebih baik dari pada tahun-tahun sebelumnya. Tim pengamat pun harus bekerja keras untuk memberikan penilaian, namun beberapa kriteria pokok yang ada didalam juknis menjadi panduan utama dalam tim pengamat menilai. "Ini bukan seni panggung, melainkan seni berjalan dan disini dibutuhkan kontinuitas dalam gerak sepanjang rute pawai", tambahnya.

Dengan meraih penyaji terbaik, kontingen Jawa Tengah berhak memboyong piala dan piagam penghargaan dari Menteri Pariwisata RI serta uang pembinaan sebesar 10 juta rupiah dari Dirut TMII. Hadiah diterima oleh Eny Haryanti, S.Pd. M.Pd. Kasubbag Pendidikan Kebudayaan dan Perpustakaan, Biro Kesra Sekda Provinsi Jawa Tengah sebagai penanggungjawab kontingen.

"Ini adalah kerja keras tim, baik dari peserta maupun tim pendukung semua bekerja siang malam, bahkan sampai disini (TMII) kami hanya tidur beberapa jam saja untuk mempersiapkan segalanya baik properti maupun untuk gladi" Jelasnya.


foto bersama dengan Kepala Biro Kesra Setda Prov Jateng,
Drs. Supriyono, MM. (di belakang tengah membawa piala)
Kepala Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Tengah, Drs. Supriyono, MM, yang juga hadir di acara ini menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah bekerja keras dan mampu mengharumkan nama Jawa Tengah dikancah nasional. Ini disampaikannya setelah menyerahkan hadiah uang pembinaan dari dirut TMII kepada ketua kontingen, Loediro Pantjoko.

Sebelum diumumkan sebagai penyaji terbaik, Jawa Tengah masuk dalam 5 penyaji unggulan bersama dengan provinsi DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan dan DKI Jakarta.

PBN kali ini juga merebutkan 3 pemenang kategori lainnya. Diantaranya Penata Gerak Terbaik yang jatuh pada provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan berhak mendapatkan piala dan piagam dari Menteri Pariwisata RI dan uang pembinaan dari Dirut TMII sebesar 3 juta rupiah.

Untuk kategori Penata Musik/Iringan Terbaik jatuh pada provinsi Riau, dan berhak mendapatkan piala dan uang pembinaan sebesar 3 juta rupiah dari Direktur TMII. Sedangkan Penata Busana dan Rias Terbaik diraih provinsi Kalimantan Selatan dan mendapatkan piala dan piagam dari Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI serta uang pembinaan dari Dirut TMII sebesar 3 juta rupiah.


Minggu, 08 April 2018

Pondok Damai, Merajut Harmoni Memupus Prasangka

Bertempat di Muria Training Center (MTC) Salatiga, Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang menggelar sebuah kegiatan dengan nama Pondok Damai 2018. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari, dibuka Jumat malam (6/4) dan ditutup Minggu siang (8/4).

Merajut Harmoni, Memupus Prasangka, menjadi tema kegiatan ini karena diikuti perwakilan generasi muda dari berbagai agama dan kepercayaan di wilayah Semarang dan sekitarnya. Bahkan ada peserta datang langsung dari Singaraja (Bali) dan Jayapura (Papua).

Pondok Damai merupakan kegiatan yang mengumpulkan para pemuda lintas agama dan kepercayaan untuk membangun dan menanamkan benih-benih  perdamaian didalam keragamaan, berbagi pengalaman perjumpaan dengan orang yang berbeda agama dan keyakinan, serta saling memahami perbedaan masing-masing. 

Pondok Damai ini diikuti 22 peserta. Diantaranya mereka dari Islam NU, Islam Ahmadiyah, Islam Syiah, Katolik, Kristen Trinitarian, Kristen Unitarian, Hindu, Budha dan Sapta Darma yang mewakili Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Setyawan Budi, koordinator Pelita sekaligus ketua penitia menjelaskan bahwa sasaran utama dari kegiatan ini adalah generasi muda sehingga kesadaran mereka sebagai agent of peace (agen perdamaian) terbentuk. Mereka lah yang kelak mempertahankan pondasi perdamaian yang sudah diletakkan oleh para pendiri bangsa Indonesia. 

Kegiatan Pondok Damai merupakan salah satu upaya untuk memenuhi panggilan sebagai anak bangsa dalam menjaga keutuhan NKRI. Sebab, untuk menginternalisasikan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam Pancasila dan menjaga keluhuran Pancasila sebagai ideologi negara, diperlukan peran aktif generasi muda, tambahnya.

Kegiatan ini terdiri atas beberapa sesi. Untuk sesi dialog, disini dimunculkan bukan tentang teori bagaimana manusia beragama melainkan dialog yang lebih membahas tentang perjalanan spiritual anggota komunitas masing- masing. Dialog seperti ini jarang dilakukan oleh lembaga kerukunan umat beragama yang formal, karena lebih membuka ruang kepada peserta untuk menyampaikan hal yang private. Sehingga afeksi antar peserta lintas agama dan kepercayaan terbangun. Prasangka-prasangka buruk yang ada diantara para peserta pun akan terkikis.  

Tidak hanya berdialog, pada hari kedua, para peserta diajak berkunjung ke beberapa tempat ibadah yang ada di kota Salatiga. Diantara di Klenteng Hok Tek Bio, Gereja Katolik Santo Paulus Miki, Vihara Damma Phala dan Masjid Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI).

Kunjungan ke beberapa tempat ibadah tersebut juga dibuka ruang dialog antara peserta Pondok Damai dengan pihak tempat ibadah. Dari tanya jawab tersebut banyak membuka pemahaman tentang cara pendang tentang ibadah dan konsep-konsep ketuhanan dari masing-masing agama yang dikunjungi. 

Meskipun komunitas  ini masih dalam lingkup terbatas  dan informal. Namun, aktivitas- aktivitas yang dilakukan oleh peserta Pondok Damai akan sangat  berdampak positif bagi keutuhan Negara Republik Indonesia. Pondok Damai dapat menciptakan kerukunan umat beragama. Para perintis  Pondok Damai tetap konsisten menyemai benih-benih perdamaian, seiring berjalannya waktu apa yang telah mereka rintis telah membuahkan hasil.  

Para alumni Pondok Damai pun hingga sekarang masih berkontribusi dalam tiap kegiatan damai lintas agama. Dari berbagai testimoni yang dikumpulkan, gerakan kultural seperti ini memiliki ikatan yang lebih kuat dibanding dengan organisasi formal. Karena para peserta disini membuktikan bahwa kerukunaan beragama itu dipromosikan dan dihidupkan oleh kita sendiri, selaku masyarakat yang ber-Bhineka Tunggal Ika, pungkas Wawan, panggilan akrab koordinator Pelita.

Pondok Damai adalah kegiatan rutin yang diadakan setiap tahun sejak tahun 2007. Kali  ini merupakan kegiatan yang ke 11 dan diselenggarakan oleh Pelita Semarang. 

Pelita merupakan jaringan yang menghubungkan berbagai organisasi, lembaga, maupun komunitas yang bergerak dalam isu sosial keagamaan di Semarang dan sekitarnya.  Pelita terbentuk atas inisiasi kolektif yang bertujuan untuk menjaga keragaman dan kerukunan antar agama dan keyakinan, khususnya di Kota Semarang.



Minggu, 25 Maret 2018

Brandal Raseno "gegerkan" Taman Mini

Sabtu malam (24/3) seorang brandal (jawa:perampok) yang bernama Raseno dari Jepara Jateng menggegerkan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tepatnya di Anjungan Jawa Tengah. Dia menjadi sosok yang dicari pihak aparat keamanan karena perilakunya meresahkan masyarakat tingkat atasnya khususnya para saudagar kaya.

Berbanding terbalik, keberadaanya jusru dipuji-puji masyarakat miskin, yang dalam kehidupan sehari-harinya untuk makan saja susah. Tak ayal, Raseno merupakan sosok perampok yang sering merampas kekayaan para saudagar kaya, dan hasil rampoknya diberikan kepada rakyat miskin.

Dramatari Brandal Raseno ini diambil dari cerita rakyat yang merupakan satu dari sajian hiburan pada malam Paket Acara Khusus (PAK) di Anjungan Jawa Tengah, TMII. Khusus kali ini dipersembahkan oleh Pemkab Jepara.

Acara ini dihadiri wakil bupati Jepara dan beberapa duta besar dan senat negara-negara sahabat. Hadir pula anggota DPRD Jawa Tengah, pejabat di jajaran Pemprov Jateng.

Dalam sambutannya, wakil bupati Jepara Dian Kritiandi menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh tamu undangan, khususnya para duta besar negara-negara sehabat. "Ini merupakan sebagian kecil dari potensi yang kami punya, selebihnya kami undang bapak ibu semua untuk datang ke Jepara", tambahnya.


Sabtu, 17 Maret 2018

JAMU, WAYANG DAN TOPENG DALANG MENJADI TARGET DI JEJAK BUDAYA JATENG 2018

Ada 3 (tiga) karya budaya yang menjadi tujuan utama dalam kegiatan Jejak Budaya Jawa Tengah tahun 2018. Diantaranya Jamu Tradisional di Sukoharjo, Wayang di Wonogiri dan Topeng Dalang di Klaten.

Kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Dindikbud Provinsi Jawa Tengah ini diikuti 70 pelajar SMA/SMK se Jawa Tengah dan dilaksanakan selama 3 (tiga) mulai Selasa (13/3) sampai dengan Kamis (15/3).

Jejak Tradisi ini dibuka oleh Kepala Pembinaan Kebudayaan Dindikbud Jateng Drs. Bambang Supriyanto, M.Pd di Hotel Brothers Solo Baru, Sukoharjo, Selasa malam (13/3). Sebelumnya para peserta kegiatan dihibur oleh tampilan Tari Mundong (Jamu Gendong) yang ditampilkan apik oleh 5 siswi SMA 1 Sukoharjo

Kunjungan ke 3 lokasi karya budaya tersebut dilaksanakan semalam sehari penuh. Tujuan pertama adalah di Pasar Jamu Nguter, Sukoharjo. Disini para peserta diajak menjelajahi ke semua sudut pasar. Mereka mencari data sebanyak-banyaknya tentang Jamu Tradisional, dari bahan, cara pembuatan, dan lain lainnya.

Setelah cukup berkeliling di pasar, semua peserta diajak ke sekeratariat Kojai (Koperasi Jamu Indonesia) di Desa Nguter, Sukoharjo. Disini mereka diajak berdialog dengan ketua Kojai. Setelah itu mereka mengikuti workshop singkat pembuatan jamu. Kemudian dilanjutkan minum jamu bersama.

Tak hanya itu mereka juga diajak ke salah satu perusahaan kecil penghasil jamu. Para peserta bisa melihat berbagai tanaman herbal sebagai bahan jamu. Disini mereka juga diperlihatkan proses singkat pembuatan jamu instan, dari pencucian, pengeringan, uji lab, pengemasan, hingga penjelasan distribusi jamu instan tersebut.

Selasa, 27 Februari 2018

Tari Angguk Grobogan, tambah koleksi tarian khas Jawa Tengah

Tari Angguk Grobogan, menambah satu lagi kekayaan tari tradisi di provinsi Jawa Tengah yang berasal dari kabupaten Grobogan. Tari ini diangkat menjadi bahan ajar pada acara Workshop Seni Tari Tradisi yang digelar di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo, Selasa (27/2).

Workshop ini diikuti 40 pengajar tari dari kabupaten dan kota se Solo Raya, meliputi Surakarta, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, Boyolali, Klaten, dan Karanganyar.

Tari Angguk Grobogan merupakan sebuah tari garapan yang diciptakan Warsito, S.Sn atau biasa dipanggil Sitek, seorang seniman tari lulusan ISI Surakarta yang sekarang bekerja di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Grobogan. Warsito juga dipercaya sebagai narasumber pada pelatihan ini, dan didampingi oleh Suyandari, S.Sn.

Sejarah Tari Angguk tidak lepas dari perjuangan Pangeran Diponegoro. Tari ini adalah satu dari kesenian rakyat Mataram yang menggambarkan gagah berani rakyat yang sedang mengadakan latihan perang untuk melawan kolonialis Belanda.

Tari Angguk yang terkenal berasal dari Kulonprogo (DIY) ini merupakan pengembangan dari Tari Dolalak asal Purworejo (Jawa Tengah). Terlihat ada beberapa kesamaan dari gerak, iringan musik, kostum yang mengenakan topi, baju berpangkat, kacamata hitam, celana pendek selutut dan lain-lainnya.

Tari Angguk Grobogan pertama kali ditampilkan pada acara pembukaan Lomba MTQ Pelajar ke 29 Tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun 2014, dimana kabupaten Grobogan terpilih menjadi tuan rumah.

Untuk kostum tidak baku, silakan kami bebaskan kepada para peserta pelatihan untuk berkreasi, tapi harus ada unsur tutup kepala seperti topi, kalung kace, baju berpangkat, kipas dan kaca mata serta untuk garapan tari bisa dirubah tapi ada hal yang baku seperti nyapu kipas, Shalawatan karena itu semua khas Tari Angguk Grobogan, jelas Warsito.

Permadi, pengamat seni tradisi dari Semarang mengatakan bahwa jika dari segi gerak, tari Angguk Grobogan ini memang punya pijakan tradisi. Tetapi jika dilihat dari segi iringan musiknya, kemungkinan tari ini akan susah berkembang lebih luas karena ada syair Shalawatan yang biasa digunakan dalam acara-acara keagamaan (islam).

Garapan musik tersebut berpengaruh besar pada terbatasnya segmen pasar penikmat tari tradisi, meskipun dipertengahan musik tersebut juga ada syair Lir - ilir. Tari ini lebih tepat disebut sebagai tari garapan bernuansa islami dan mungkin hanya bisa berkembang dilingkungan ponpes atau sekolah-sekolah berbasis islam, imbuhnya.

Salah satu peserta dari Wonogiri, Ludiro mengatakan bahwa Tari Angguk tersebut berpijak pada tari tradisi yang sudah dikreasikan. Saya lebih mengapresiasi gerak tarinya, untuk garapan musiknya mungkin nanti akan saya ubah dan kembangkan lagi, menyesuaikan kebutuhan konsumsi masyarakat, jelasnya.

Seksi Pertunjukan TBJT, Bagus Jatmiko menjelaskan bahwa Tari Angguk Grobogan ini bisa menjadi kekayaan materi bahan ajar di sekolah, dan bisa dikembangkan didaerah masing-masing. Untuk tahun ini dipilih Angguk, mungkin tahun depan bisa Lengger, Barongan, Jaranan, atau tari-tari lainnya yang menjadi identitas Jawa Tengah, sehingga apresiasi masyarakat terhadap kesenian tradisi akan terpelihara.


Minggu, 18 Februari 2018

SPEKTAKULER, OPERA ADEGING KUTHA SALA

Solo, Minggu pagi (18/1), Sepanjang jalan Slamet Riyadi dan Jalan Jend. Sudirman dipenuhi ribuan masyarakat Solo dan sekitarnya. Dari anak-anak hingga lanjut usia rapi berdiri dipinggir jalan tersebut, dan penuh didepan Kantor Pos Solo, sebelum Kantor Balai Kota.

Didepan Kantor Pos Solo inilah, suatu opera kolosal dengan judul Adeging Kutha Sala digelar. Sebuah mahakarya yang menceritakan pindahnya ibu kota Mataram dari Kartasura ke Sala ini menjadi hiburan yang sangat spektakuler dan dipertontonkan secara terbuka, gratis untuk masyarakat umum.

Opera ini hasil karya sutradara muda Agung Kusumo Widagdo, seorang koreografer tari asal kota Solo sekaligus pengasuh group tari Studio Moncar Iswara.

Sabtu, 17 Februari 2018

KERATON SURAKARTA, MAU DIBAWA KEMANA ?

Rencana pemerintah untuk menjadikan Keraton Surakarta Hadiningrat sebagai salah satu UPT (Unit Pengelola Teknis) dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dinilai pihak keraton sangat merugikan dan tidak berpihak bagi keutuhan dan kelestarian keraton berikut seluruh unsur pembentuk keraton yang punya peran besar sebagai pusat kebudayaan jawa.

Hal ini disampakan oleh Dra. GKR. Koes Moertiyah Wandansari, M.Pd atau yang akrab dipanggil dengan Gusti Moeng, dalam Sarasehan Warga Karaton Surakarta yang digelar di nDalem Kayonan, Keraton Surakarta Hadiningrat, Jumat Pahing (16/2).

Seperti yang sudah diberitakan oleh banyak media, bahwa proses pembentukkan penyerahan pengelolaan dari pihak keraton kepada pemerintah, tinggal menunggu tanda tangan surat kuasa dari Sinuhun Paku Buwana (PB) XIII.



Jumat, 16 Februari 2018

KEMERIAHAN IMLEK DI TIONGKOK KECIL, LASEM

Tahun baru Imlek merupakan perayaan tahunan yang sangat penting bagi masyarakat Tionghoa. Di kota Lasem, salah satu kota kecamatan di kabupaten Rembang, perayaan Imlek kali ini tak kalah meriah dibandingkan kota-kota lain.

Kamis malam (15/2), seluruh warga Lasem berduyun-duyun mendatangi sebuah gedung besar di area Klenteng Poo An Bio dengan nama Gedung Balai Kedamaian yang berada di Tiongkok Kecil, sebutan untuk sebuah daerah di desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Rembang.

Acara ini dibuka dengan atraksi barongsay, band lokal, tari tradisi dan persembahan kuliner khas masyarakat Tionghoa. Dalam laporannya, ketua panitia Rudy Hartono dari T.I.T.D Tri Murti Lasem menyampaikan bahwa perayaan tahun baru Imlek ini menjadi tradisi masyarakat Tionghoa sejak dulu, dan kali ini kami mengambil tema Semangat Membangun Lasem.

"Dengan perayaan ini semoga selalu tercipta kerukunan hidup yang baik antar suku dan umat beragama, dalam lingkungan yang kondusif didalam negara yang  multikutural ini", jelas Rudy.

Harapan senada juga disampaikan oleh Plt. Gubernur Jawa Tengah, Drs, Heru Sudjamoko, M.Si, yang sambutannya dibacakan oleh Kasubbag Pendidikan, Kebudayaan dan Perpustakaan Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Tengah, Eny Haryanti, S.Pd M.Pd.

Dalam sambutannya, Plt Gubernur Jateng menyampaikan harapan bahwa banyak hal yang bisa dilakukan dinegeri yang Bhinneka Tunggal Ika, salah satunya kuatnya persatuan dan kesatuan dalam pengabdian. pembaruan, toleransi yang saling menghargai, dan kemudian bergotong royong dalam kebaikan dinegeri yang plural ini.

Lasem adalah kota kecil yang toleran, untuk itu kuatkan  terus semangat kegotongroyongan, seraya berusaha memberikan yang terbaik untuk negeri ini secara nyata, supaya kelak cucu kita bisa mengerti dan menghargai jerih payah dalam menegakkan Indonesia yang diibaratkan sebuah bunga setaman dalam jambangan, beraneka warna namun saling melengkapi.

Sebagai upaya merealisasikan tema kegiatan tersebut, maka perkuat karya nyata mewujudkan wilayah ini sebagai Kota Pusaka Dunia sebagaimana cita-cita masyarakat Lasem beberapa tahun lalu.

Ciri khas Lasem sebagai penghasil Terasi, Kawis, Lontong Tuyuhan hendaknya bisa dioptimalkan dan dikemas sedemikan rupa serta beberapa daerah di Lasem yang terkenal dengan sebutan Tiongkok Kecil juga bisa dikemas sebagai Desa Wisata.

Hadir juga dalam perayaan Imlek ini Bupati H. Abdul Hafidz, S.Pd, Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto, SE dan seluruh jajaran Fokopimda Rembang, serta Drs. H. Imam Suroso, SH. MM, anggota DPR-RI Fraksi PDI Perjuangan yang biasa dipanggil dengan Mbah Roso .

Tampak pula Cagub Jateng H. Ganjar Pranowo, SH. MIP hadir secara khusus. Ini adalah kehadirannya yang ke 3, sebelumnya 2 kali berturut-turut dihadirinya saat masih menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah. 


Minggu, 11 Februari 2018

MERAYAKAN KEBHINEKAAN DENGAN GREBEG SUDIRO

Hari ini Minggu Pahing 11 Februari 2018, di sekitar Pasar Gede, Solo dipenuhi oleh lautan manusia. Dari anak-anak hingga orang dewasa, siang itu berkumpul menjadi satu, tumpah ruah untuk menyaksikan dan ikut serta dalam sebuah kirab budaya, yaitu Grebeg Sudiro.

Ditengah maraknya kasus intoleransi yang terjadi dikota lain, kali ini kota Solo menangkalnya dengan pesta rakyat dalam kemasan kirab budaya. Ribuan warga masyarakat berbaur menjadi satu dalam Grebeg Sudiro ini. Meski berbeda latar belakang suku, agama/kepercayaan, ras maupun golongan, mereka berpadu menunjukkan indahnya keragaman Nusantara.

Beberapa kelompok berunjuk gigi mementaskan atraksi, di antaranya Barongsai, Reog dan marching band. Peserta lainnya tampil dalam parade kostum, seperti Wayang Orang, Biksu, Busana Tionghoa dan Ogoh-ogoh.

Kirab mengawali perayaan Tahun Baru Imlek 2018/2569 itu diikuti berbagai kalangan masyarakat, mulai pedagang Pasar Gede, kelompok sadar wisata, hingga siswa sekolah. Kirab ini menampilkan sembilan gunungan berisi hasil bumi dan kue keranjang.

Dua gunungan di antaranya berbentuk miniatur Taman Monumen 45 Banjarsari dan rumah dinas wali kota, Loji Gandrung. Ada pula gunungan miniatur Pasar Gede. Selesai diarak, warga berebut kue keranjang yang dibagikan panitia kirab budaya Grebeg Sudiro di depan Pasar Gede. Ada 4.000 kue keranjang yang disediakan panitia dalam acara ini.

Sebanyak 1.500 peserta memulai kirab pukul 14.30 WIB setelah dibuka oleh Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo. Para peserta berjalan dari kawasan Pasar Gede dan mengitari Kelurahan Sudiroprajan yang merupakan perkampungan multietnis.

Ketua panitia Grebeg Sudiro 2018, Bul Hartomo, menyampaikan bahwa Grebeg Sudiro yang ke-11 ini mengangkat tema "Melestarikan Budaya Bangsa Untuk Merajut Kebhinnekaan".

Dengan adanya budaya, terbukti masyarakat dari berbagai kalangan bersatu pada hari ini. Kami mengajak masyarakat jangan memandang perbedaan sebagai kelemahan, namun justru sebagai potensi yang besar," ujarnya.

Lurah Sudiroprajan, Daliman mengatakan, Grebeg Sudiro mengandung makna mempersatukan bangsa dalam kebinekaan. Sebab, kirab budaya ini merupakan perpaduan antara budaya Tionghoa-Jawa.

"Di Sudiroprajan ada dua etnis Tionghoa dan Jawa. Harapannya bisa hidup bersama dan saling berdampingan. Kita satukan dengan budaya," kata Daliman. Masyarakat dari dua etnis Tionghoa-Jawa ikut terlibat dalam peserta kirab budaya Grebeg Sudiro. Hal ini menunjukkan bentuk gotong royong untuk menjaga persatuan dan kesatuan kedua etnis, tambahnya.

Sementara walikota Solo, FX. Hadi Rudyatmo, mengajak masyarakat untuk menjaga keharmonisan masyarakat Solo yang majemuk. Sinergitas antar masyarakat diyakini akan semakin memajukan Kota Solo.

"Merajut kebhinnekaan bukan pekerjaan yang mudah, tapi juga tidak sukar. Yang perlu kita tingkatkan ialah gotong royong, kebersamaan, untuk memajukan Kota Solo," ujarnya.

Solo merupakan kota yang nyaman dihuni. Keberhasilan ini tidak lepas dari peran serta masyarakat dalam menjaga kemajemukan yang ada di Solo dengan baik. Sehingga kemajemukan ini dapat terus bertahan sepanjang masa, tambah Rudy.

Jumat, 19 Januari 2018

BUDAYA SPIRITUAL SEBAGAI MEDIA PENGUATAN IDEOLOGI BANGSA



Menyikapi lahirnya KSBN 

Jauh sebelum negara Indonesia terbentuk, bangsa nusantara pernah mengalami masa kejayaan, setidaknya di era kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Peradaban yang dibangun baik bidang politik, ekonomi, sosial dan keamanan saat itu banyak berlandaskan dengan sistem budaya yang begitu tinggi dan selalu dipegang erat. Hal itu berimbas pada tingginya kualitas spritual, kemakmuran dan kerukunan yang mengakar dalam kehidupan masyarakat nusantara.

Tingginya kebudayaan masyarakat nusantara lebih banyak ditunjang dengan unsur spiritual yang bersumber dari kearifan lokal, lebih tepatnya dari keyakinan/kepercayaan asli nusantara yang jumlah dan variannya sangat banyak dan beragam.

Kekayaan akan budaya spiritual itu mampu membentuk masyarakat nusantara yang mempunyai jatidiri, budi pekerti, kepekaan rasa, gotong royong, saling menghormati dan kasih sayang kepada seluruh isi alam. Sifat karakter yang tumbuh dan melekat tersebut, berkembang sampai sekarang dan mampu memberikan andil dalam pembangunan sumber daya manusia guna mendukung penguatan ideologi bangsa serta menjadi benteng terkuat dalam menjaga Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegera.  

Hal itu seiring dan sejalan dengan sistem keyakinan yang dibangun atas dasar Kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, sebagai sarana penyembahan terhadap sang pencipta, melalui tata cara peninggalan leluhur nusantara, jauh sebelum agama-agama trans masuk ke wilayah nusantara.

Untuk itu kehadiran KSBN (Komite Seni Budaya Nusantara) selain sebagai wadah pengembangan seni budaya yang bersifat lahiriah/material, namun diharapkan juga mampu menyentuh bidang-bidang budaya spiritual. Beberapa diantaranya ada upacara adat dan tradisi yang ada di masyarakat jawa seperti sedekah bumi, ruwatan, selamatan daur hidup, tata ritual kepercayaan, dan lain-lain, dimana semua itu berakar pada konsep Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Ini menjadi catatan penting, agar kehadiran KSBN di provinsi Jawa Tengah ini mampu menjadi wadah untuk semua elemen budaya, baik yang bersifat material maupun spiritual. Keseriusan pengelolaan ini sangat logis karena Jawa Tengah bisa dibilang sebagai pusat budaya spiritual di tanah nusantara ini. Banyak sekali ragam Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa tersebar diseluruh kabupaten dan kota, yang diantaranya membentuk organisasi atau kelompok Penghayat Kepercayaan.

Menurut data di Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Kemendikbud, sebanyak 53 organisasi Kepercayaan tersebar di wilayah Jawa Tengah.  Diantaranya Sapta Darma, Paguyuban Kapribaden, Perguruan Trijaya, Paguyuban Pancasila Handayaningrat, Paguyuban Kawruh Kodrating Pangeran, Roso Manunggal Jati, Cahya Buwana, Paguyuban Budaya Bangsa, Wringin Seto, Kejawen Maneges, Kawruh Jawa Jawata dan lain-lainnya.

Sampai saat ini sudah banyak payung hukum yang melindungi keberadaan para pelaku budaya spiritual tesebut. Diantaranya UUD 1945, UU No. 23 Tahun 2006 jo UU No. 24 Tahun 2013, Permendikbud No. 27 Tahun 2016, dan yang terakhir adalah Putusan MK tentang masuknya Kepercayaan pada kolom agama di KTP.

Oleh karena itu, upacara adat dan tradisi dimana mempunyai makna ritual yang berbasis pada kepercayaan warisan leluhur nusantara ini diharapkan menjadi perhatian besar bagi KSBN. Setidaknya porsinya pun tidak ketinggalan jauh dari bidang budaya lain. Solusi terbaik adalah kolaborasi yang indah antara budaya material dengan budaya spiritual.

Melibatkan unsur seni dalam setiap upacara adat dan tradisi akan meningkatkan efek positif bagi setiap elemen yang terlibat maupun output yang dihasilkan dalam rangka menyiapkan generasi yang berbudi pekerti luhur dan berwawasan kebangsaan menuju kejayaan nusantara, kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.



 oleh : Bambang Permadi, AAN, S.Kom.