Kamis, 15 November 2018

Prajurit Ki Ageng Gringsing bawa Jawa Tengah menjadi Juara Umum

Ki Ageng Gringsing dengan ratusan prajuritnya, Minggu lalu menggegerkan Ibu Kota Jakarta. Kemampuan olah keprajuritannya memang tidak bisa dianggap enteng. Gerak keperkasaan dalam balutan seni gerak tari seolah membius para penonton di kawasan Tugu Api, TMII, Minggu (11/11).

Prajurit Ki Ageng Gringsing, menjadi tema tim kesenian dari Jawa Tengah dalam adegan Karnaval Keprajuritan Nusantara tahun 2018 yang di selenggarakan pihak Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Berdasar penilaian tim juri, akhirnya kontingen Jawa Tengah ini dinobatkan sebagai Juara Umum pada ajang bergengsi tingkat nasional yang digelar setiap tahun ini.

Senin, 29 Oktober 2018

Peningkatan SDM Penghayat Kerohanian Sapta Darma

Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia selalu merupakan hal yang penting untuk dilaksanakan secara berkesinambungan oleh semua kelembagaan dan organisasi. Tak Lepas PERSADA (Persatuan Warga Sapta Darma) Jawa Tengah, selama tiga hari (19-21/10/2018) menyelenggarakan kegiatan “Pendidikan dan Pelatihan Lembaga Kerokhanian Sapta Darma” tingkat Jateng dan DIY yang bertajuk  “Dengan Sumber Daya Manusia Sapta Darma yang Berkualitas, Kita Tingkatkan Kemampuan Berbangsa dan Bernegara”.

Lembaga Tuntunan merupakan kelembagaan tertinggi  di Kerokhanian Sapta Darma dari tingkat Pusat, Provinsi, Wilayah, Kota/Kabupaten, Kecamatan, hingga tingkat sanggar. Selain itu ada  Organisasi Persada dan Yasrad yang berada di bawah koordinasi dan pembinaan dari Tuntunan. 

Masing-masing lembaga memiliki tugas dan perannya sendiri dalam mengabdi kepada warga kerokhanian Sapta Darma. Ajaran Sapta Darma mempunyai tujuan luhur yaitu hendak memayu hayu bahagianya buana. Antara lain membimbing manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan alam langgeng. 

Untuk menjalankan tugas-tugas kelembagaan Kerokhanian Sapta Darma diperlukan bekal kemampuan Sumber Daya Manusia sesuai bidang tugasnya masing-masing. Tuntunan bertugas melayani, membina warga kerokhanian Sapta Darma dan bertanggung jawab menjaga kemurnian ajaran Sapta Darma. Yasrad (Yayasan Srati Darma) merupakan bokor kencono yang bertugas menyrateni ajaran dengan menghimpun sumbangan warga Kerokhanian Sapta Darma dan sumber lain yang sah yang bersifat non komersial dan tidak mengikat. Sedangkan Persada (Persatuan Warga Sapta Darma) bertugas membantu tugas tuntunan untuk melaksanakan tugasnya, yang kaitannya dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan pemerintah dan organisasi masyarakat lainnya serta menjaga eksistensi Persada sebagai organisasi massa yang bersifat kerokhanian dan non politik.

Acara dibuka secara resmi oleh Direktur Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Tradisi, Dra. Christriyati Ariani, M.Hum, di S.E.A.T (Stiper Agro and Edu Tourism) Kabupaten Semarang, yang diikuti oleh 96 peserta dari 22 kota dan kabupaten se Jateng dan DIY. Peserta kegiatan adalah pengurus lembaga-lembaga yang ada di kerokhanian Sapta Darma. 

Hadir pula pada acara pembukaan, Dra Atiek Surniyati, Kepala bidang Ketahanan Bangsa Kesbangpolinmas Jateng, yang sekaligus membacakan sambutan gubernur Jateng,  H. Ganjar Pranowo , SH, M.IP yang berhalangan hadir. Ir. Gunadi, camat  Bawen, Setyawan Budy , Koordinator Persaudaraan Lintas Agama Semarang, Yunantyo Adi S, Ketua Gusdurian Jateng,  Presidium dan pengurus MLKI Jateng, Puanhayati Jawa Tengah, dan Pengurus Lembaga Pusat KSD.   

Adapun narasumber dan materi yang disajikan antara lain, Peran Ormas berbasis agama dan kepercayaan terhadap Tuhan YME dalam kerukunan NKRI oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Jawa Tengah. Realisasi Pendidikan bagi Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME oleh Dra Hermawati, Kepala Seksi Sejarah dan Tradisi bidang Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Peran Polri menjaga keutuhan NKRI dalam Keberagaman Budaya, Agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan YME oleh Direktur Bimas POLDA Jateng,  KBP Drs Budi Utomo,  MH. Kebijakan Administrasi Kependudukan bagi Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi Jawa Tengah, Motivation Training oleh Dr Moh Chairul Alim dan materi-materi kompetensi internal lainnya di bidang kerohanian, sumber daya manusia, organisasi dan budaya. 

Dwi Utami

Saat Anak Alam Nusantara menyatu dengan Alam di Hari Pemuda

Generasi Muda Lintas Agama bersatu dalam Srawung Persaudaraan Sejati

Selasa, 25 September 2018

Malalui Seni dan Budaya, mendorong LDII untuk lebih inklusif, terbuka bagi siapapun


Bertempat di Gedung baru Ponpes Baitul Mahmud, Kalibagor, Banyumas Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Tengah menggelar Workshop Seni Dan Budaya, Selasa (25/9).

Workshop ini diikuti seluruh jamaah LDII se Kabupaten Banyumas sejumlah 100 peserta. Dalam sambutan selamat datang, Ketua LDII Kabupaten Banyumas H. Sutanto mengucapkan terimakasih atas terselenggaranya workshop seni dan budaya ini dan mengambil lokasi di sebuah gedung baru yang belum tuntas pembangunannya. Rencana, gedung serba guna itu tidak hanya diperuntuukan untuk internal Ponpes atau LDII saja, tetapi siapapun boleh menggunakannya.

Selasa, 11 September 2018

Saat bicara Kebudayaan, disitu kita bicara Kehidupan


Saat bicara Kebudayaan, disitu pula kitas sedang membicarakan kehidupan, karena kebudayaan mengatur kehidupan kita dari bangun tidur, samapai dengan tidur lagi dan dari lahir hingga kita mati.

Diatas merupakan sepenggal uraian dari Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI, Hilmar Farid, Ph.D saat menjadi narasumber dalam acara Dialog Kebudayaan Indonesia di Padepokan Wulan Tumanggal, Bojong, Kabupaten Tegal, Minggu Pahing (9/9).

Dialog ini dimoderatori oleh Bambang Permadi, sekretaris KEIMANAN (Kelompok Intelektual Anak Alam Nusantara) yaitu organiasasi bidang kepemudaan dibawah naungan Perguruan Trijaya.

Tampak hadir sebagai peserta dialog Wakapolres Tegal didampigi Kapolsek Bojong, Kasubdit Kepercayaan Dra. Wigati, Kasubdit Kelembagaan Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Lita Rahmiati. Kasubbag Pendidikan Kebudayaan dan Perpustakaan Eny Haryanti, S.Pd. M.Pd, Ketua Yayayan Kanthil Semarang Prof. Soetomo, Dosen UPS Tegal Dr Purwo Sasongko, para Mahasiswa dari UPS Tegal,  

Pada kesempatan ini, Hilmar Farid membuka forum tanya jawab kepada para peserta dialog.
Dialog Kebudayaan ini merupakan satu acara utama dalam rangka peringatan Ulang Tahun Padepokan Wulan Tumanggal yang ke 34.


Merajut Kebersamaan demi Menguatkan Perdamaian

Menjelang hari perdamaian internasional, satu kegiatan dilaksanakan oleh  Perempuan-perempuan penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME Indonesia (Puanhayati) Jawa Tengah. Anjangsana yang bertajuk “Merajut Kebersamaan demi Menguatkan Perdamaian” menjadi program yang dipilih untuk menjalin kerukunan dan komunikasi diantara perempuan-perempuan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME.

Satu kegiatan ini selain sebagai perekat persatuan juga menjadi gerakan pijakan khususnya bagi Puanhayati Jawa Tengah dalam melakukan penguatan dan konsolidasi bahwa Perempuan penghayat  menjadi pemeran kunci dalam eksistensi dan kemajuan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME.

Dwi Setiyani Utami, ketua Puanhayati Jawa Tengah, menyampaikan bahwa acara ini juga bertujuan untuk menginternalisasi penghormatan terhadap keragaman ajaran Ketuhanan sesuai ajaran Kepercayaannya masing-masing. Disanalah Puanhayati hadir dan turut berkontribusi mewujudkan Perdamaian bumi nusantara.

Kunjungan kegiatan anjangsana antara lain ke Pendopo Wiragati Paguyuban Maneges Tegal, Padepokan Wulan Tumanggal Perguruan Trijaya dan diakhiri dengan wisata bersama ke Pemandian Gucci Kab Tegal. Acara ini dihadiri oleh kurang lebih 22 perempuan penghayat dari 9 kota/kabupaten se Jawa Tengah yang mendapat sambutan hangat dari kadhang penghayat Paguyuban Maneges dan pengurus MLKI Kab Tegal.

Malam harinya, di Perguruan Trijaya Tegal, ruangan diliputi suasana gembira dengan gerak dan lagu dari ibu-ibu PPK, anak-anak AAN , serta Putera dari perguruan Trijaya Tegal yang disuguhkan dalam  pesta perayaan HUT Padepokan Wulan Tumanggal ke 34. Usai pemotongan tumpeng, acara dilanjutkan dengan makam malam bersama para tamu yang hadir.

Pada sesi Puanhayati, Dian Jennie Cahyawati, Ssos, ketua Puanhayati tingkat Nasional menyatakan apresiasinya terhadap Perguruan Trijaya dalam membina perempuan dan generasi mudanya ditengah arus globalisasi dan degradasi moral yang terjadi belakangan.

Romo Guru Panji Suryaningrat, pembina perguruan Trijaya juga memberikan arahan dan semangat kepada Puanhayati agar terus maju dengan tetap berpegang pada akar budaya Jawa.

Hadir pula dalam kegiatan itu, Dra. Wigati subdit kelembagaan kepercayaan Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan tradisi,  Eny Haryanti, S.Pd, M.Pd . Kasubbag Pendidikan Kebudayaan dan Perpustakaan, Biro Kesra Sekda Provinsi Jawa Tengah.

Selasa, 28 Agustus 2018

Meneguhkan solidaritas, melalui Grebeg Agustusan

Lurah Tologsari, Sri Lestari saat memberangkatkan Grebeg
Siang itu, Minggu (26/8) sedikit demi sedikit, sekelompok warga berduyun-duyun mendatangai sebuah lapangan tonis, yang berada disamping masjid, disebuah perumahan padat di kota Semarang. Tepatnya di RW.21 kelurahan Tlogosari Kulon, kecamatan Pedurungan.

Mereka berkumpul dalam sebuah acara rutin tahunan yang diadakan setiap bulan Agustusan yaitu Grebeg Agustusan yang kali ini merupakan tahun ke 3 (tiga) sejak tahun 2016. Grebeg Agustusan 2018 merupakan sebuah upacara adat dan tradisi yang dilakukan masyarakat RW.21 Tlogosari Kulon dalam rangka memperingati ulang tahun kemerdekaan Indnonesia.

Menurut ketua RW.21 Bambang Setyabudi, Grebeg ini dilaksanakan dengan tujuan diantaranya untuk memperingati ulang tahun Republik Indonesia dan sebagai sarana untuk meningkatkan watak pekerti bangsa pada generasi muda sekaligus nguri-nguri budaya jawa.

Grebeg Agustusan 2018 dengan mengelilingi komplek perumahan di RW. 21 ini menempuh jarak kurang lebih 1 kilometer. Pemberangkatan Grebeg dilakukan oleh Lurah Tlogosari Kulon, Sri Lestari, pada pukul 16.24 WIB.

Dalam event ini, peserta Grebeg dibagi berkelompok sesuai dengan RT masing-masing, dimana sebanyak 10 (sepuluh) RT yang berada di RW. 21. Yang menarik dalam Grebeg ini, dilakukan perlombaan antar kelompok peserta Grebeg, sehingga masing-masing RT berusaha untuk mengeluarkan kemampuan mereka dalam menjaga kekompakan.

Diantaranya mereka berlomba-lomba dalam menggunakan kostum yang unik dan menarik, seperti busana adat, profesi sampai dengan membuat gerakan tarian khas masing-masing RT. Dari penilaian juri, muncul sebagai kelompok terbaik diraih oleh RT. 10.

Bambang Permadi, bersama jurnalis TVRI Tono Hermawan
berpose dengan gunungan
Menurut pelaku sekaligus pengamat budaya Jawa Tengah, Bambang Permadi mengatakan bahwa acara seperti ini biasa diadakan di masyarakat pedesaan, dan ini menjadi sebuah konsep yang bagus dalam meneguhkan rasa solidaritas dan gotong royong dimasyarakat perkotaan sehingga terbangun persatuan sesama warga negara Indonesia.

Karena dengan persatuan, maka kerukunan dan kemakmuran masyarakat akan mudah diwujudkan, imbuhnya.

Rabu, 22 Agustus 2018

Bedaya Tunggal Jiwo, buka Grebeg Besar Demak 2018

9 (sembilan) gadis cantik menari dengan lembut dan penuh karismatik, di Pendopo Kabupaten Demak, Rabu Wage (22/8).

Mereka menarikan Bedaya Tunggal Jiwo sebagai tarian pembuka pada Kirab Prajurit 40 (patangpuluhan) yang merupakan rangkaian dari Upacara Tradisi Grebeg Besar Demak Tahun 2018.

Menurut Dyah Purwani Setianingsih, yang merupakan pencipta Bedaya Tunggal Jiwo ini, menjelaskan bahwa tarian ini mengandung harapan bahwa agar para pemimpin, pemangku jabatan, dan pembuat kebijakan untuk selalu menyatukan pikiran, perkataan dan perilakunya dengan Jiwa-nya masing-masing. Karena Jiwa mempunyai originalitas/kemurnian, kejujuran, dan nilai - nilai dasar kemanusiaan. 

Dengan kemampuan mengolah Jiwa itu maka seseorang akan mampu menjadi pemimpin yang benar-benar bijaksana, adil, dan menjadi harapan rakyatnya. 

Setelah bedaya ini ditampilkan, dilanjutkan dengan pelepasan Kirab Prajurit Patangpuluhan oleh PLH Bupati Demak, Joko Sutanto. Kirab ini mengambil rute dari Pendopo Kabupaten Demak menuju Makam Sunan Kalijaga, di Kadilangu.

Kirab ini merupakan rangkaian dari upacara tradisi Grebeg Besar Demak, yang secara rutin dilaksanakan setiap tahun, pada tanggal 10 dzulhijah (Besar) saat Idul Adha.

Sabtu, 04 Agustus 2018

Gambang Semarang, Pengantin Kaji dan Kalang Obong Kendal ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Tim ahli dan narasumber Sidang Penetapan WBTB
didepan para peserta sidang
Gambang Semarang, kesenian khas Semarang ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia, pada Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2018 di Hotel Millenium Sirih, Jakarta (4/8).

Selain Gambang Semarang, sama-sama dari Kota Semarang, Pengantin Kaji pun juga lolos ditetapkan sebagai WBTB Indonesia. Kemudian dari Kabupaten Kendal, karya budaya berupa upacara adat (ritus) Kalang Obong Kendal juga ikut ditetapkan.

Acara ini diselengarakan oleh Kemendikbud RI, melalui Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Ditjen kebudayaan dan dilaksanakan selama 4 hari, mulai Rabu (1/8) sampai dengan Sabtu (4/8).
 
Tim WBTB Jawa Tengah terdiri atas 4 orang diantaranya Hermawati, Eny Haryanti, Bambang Permadi dan Iwuk Trika. Mereka mendapatkan jatah untuk memaparkan karya budaya didepan tim ahli, narasumber dan  seluruh peserta sidang pada hari ke 2 (dua), Kamis (2/8). Atas dasar keadilan, jadwal paparan oleh panitia dibuat secara undian yang diikuti sebanyak 34 provinsi dari seluruh Indonesia. 

Anggota tim Jateng, Bambang Permadi saat menjelaskan
sebuah karya budaya pada acara sidang
Jawa Tengah sendiri mengusulkan 10 karya budaya antara lain Gambang Semarang (Kota Semarang), Manten Kaji (Kota Semarang), Kalang Obong (Kab. Kendal), Grebeg Besar Demak (Kab. Demak), Hak Hakan (Kab. Wonosobo), Tari Topeng Endel (Kab. Tegal), Begalan (Kab. Banyumas), Lengger Banyumas (Kab. Banyumas), Kethek Ogleng (Kab. Wonogiri), dan Sedulur Sikep (Kab. Blora).

Dari ke 10 karya budaya tersebut, 9 ditetapkan dan1 ditangguhakan, yaitu lengger Banyumas karena adanya kekurangan kelengkapan data pendukung. Meskipun ditangguhkan penetapannya tetapi Lengger Banyumas sudah dicatatkan dan diagendakan tahun depan tetap diusulkan untuk ditetapkan sebagai WBTB Indonesia Tahun 2019.

Sidang Penetapan WBTB ini ditutup oleh Dirjen Kebudayaan Kemendibud RI, Hilmar Farid. Dalam sambutan penutupannya, Hilmar berpesan agar karya budaya yang sudah ditetapkan ini agar dibuatkan album atau ensiklopedi atau istilah lainnya, agar semua lapisan masyarakat bisa mengetahui kekayaan akan khasanah budaya kita.

Jumat, 03 Agustus 2018

WBTB, Biasa di tempat kita, Berharga di tempat lain

Sesuatu yang biasa terjadi atau dilakukan di tempat kita, di daerah lain bisa menjadi aset yang berharga dan berusaha untuk dipatenkan kepemilikannya.

Setidaknya kalimat ini muncul dari beberapa peserta Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia Tahun 2018 di Hotel Millenium Jakarta, Jumat (3/8).

Sidang Penetapan WBTb yang sudah berlangsung selama 3 (tiga) hari ini diikuti 34 provinsi se Indonesia. Masing-masing provinsi secara bergantian memaparkan beberapa karya budayanya didepan para tim ahli, narasumber, dan seluruh peserta sidang.

Jumlah tim setiap provinsi beragam, mulai dari 2 orang, hingga ada yang 10 orang. Tim tersebut berasal dari dinas yang membidangi kebudayaan, stakeholder, dan pelaku budaya yang diusulkan oleh provinsi tersebut. Bahkan tampak pula bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur yang ikut sebagai pendukung tim provinsi NTT .

Masing-masing provinsi pun beragam dalam jumlah pengusulan karya budaya. Total keseluruhan ada 416 karya budaya yang diusulkan pada tahun ini dengan beberapa domain. Mulai dari Seni Pertunjukan, Adat Istiadat Masyarakat, Ritus & Perayaan-Perayaan, Keterampilan & Kemahiran Kerajinan Tradisional, Tradisi Lisan & Ekpresi, sampai dengan Pengetahuan & Kebiasaan Perilaku Mengenai Alam Semesta.

Sidang Penetapan WBTb yang diselenggarakan oleh Kemendikbud RI ini dibuka oleh Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Dr. Nadjamuddin Ramly, M.Si.

Selasa, 31 Juli 2018

Pelantikan Serentak Pengurus Yayasan Srati Darma Jawa Tengah


Setelah Agustus (2016) lalu, Persada (Persatuan Warga Sapta Darma) Jawa Tengah menata kelembagaan organisasi dengan mengadakan Pelantikan Serentak Persada  tingkat kota/kab Se Jateng. Tahun ini (28/7) Lembaga  Kerokhanian  Sapta Darma (KSD) Provinsi  Jawa Tengah berupaya menata yayasannya dengan melakukan penyegaran pengurus yayasan dalam event “Pelantikan Serentak Pengurus Yayasan Srati Darma  Cabang Utama  Provinsi Jawa Tengah dan Pengurus Yayasan Srati Darma Tingkat Cabang Kota/Kabupaten se Jawa Tengah” di Sanggar Candi Busana Blater, Kab Semarang.

Yayasan Srati Darma adalah yayasan milik Kerokhanian Sapta Darma , yang dibentuk langsung oleh Bapa Sri Gutomo, penerima wahyu ajaran. Didirikan sejak 17 Maret 1959, yayasan ini  merupakan bokor kencono yang menyerateni kebutuhan warga Sapta Darma, seperti sanggaran, penggalian pribadi warga, pembinaan, biaya operasional sanggar dll. Yayasan berfungsi sebagai penerima sumbangan yang bersifat tidak mengikat baik dari warga Sapta Darma maupun dana bantuan dari Pemerintah yang sah. Yayasan juga tidak diperkenankan melakukan usaha bisnis yang sifatnya komersial.

Ketua badan pengurus Yayasan Srati Darma Pusat, I Made Wardana, yang malam hari itu melantik 24 Yayasan tingkat cabang kota/kabupaten se Jateng, mengemukakan rencana strategis dalam hal pengelolaan bokor kencono. Dia berharap bahwa Yayasan Srati Darma Jawa Tengah bisa menjadi salah satu percontohan pengelolaan bokor kencono yang ideal.
Hadir dalam acara itu, Saekoen Partowijono selaku Tuntunan Agung kerokhanian Sapta Darma yang didampingi bapak bapak pengurus lembaga pusat KSD antara lain Naen Soeryono, SH,MH selaku ketua umum Persada Pusat, Ir I Made Wardana selaku ketua Badan Pengurus Yayasan Srati Darma Pusat, R. Bambang Subagyo, SH, MM, dan DJayusman SH, MH selaku sekretaris Tuntunan Agung, Slamet Haryanto selaku Tuntunan Provinsi Jawa Tengah dan Ir. Rahmat Purwantoro selaku ketua Persada Provinsi Jawa Tengah.

Dwi Utami

Jumat, 27 Juli 2018

Apa yang anda bayangkan, jika anak SLB ikut lomba tari ?

Apa yang anda bayangkan, jika anak-anak yang kurang dalam pendengaran dan bicara menarikan sebuah tari tradisi. Bahkan diantara mereka ada yang kurang/gangguan dalam mental.

Hal ini telihat pada sebuah ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tahun 2018 tingkat provinsi Jawa Tengah di Hotel Sahid Jaya Solo, yang berlangsung selama 2 (dua) hari, yakni Kamis (26/7) sampai dengan Jumat (27/7).

Sebanyak 12 peserta didik, dari 12 SLB (Sekolah Luar Biasa) yang tersebar di provinsi Jawa Tengah mengikuti lomba ini dengan penuh semangat. Dari perform mereka dipanggung, nyaris tak terlihat jika mereka adalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Bentuk gerak tari mereka selaras dengan musik iringan, meski sesekali mereka mendapat arahan dari pelatih.

Lomba Tari ini salah satu cabang yang dilombakan dalam FLS2N yang diselenggarakan oleh Bidang Diksus, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jateng.

Rabu, 25 Juli 2018

GADGET, menghabiskan lebih dari separuh nyawa kita

GADGET menghabiskan lebih dari separuh nyawa generasi muda saat ini, sehingga byk yg terjebak pd kemiskinan karya. Butuh perjuangan yg lebih utk bisa menciptakan generasi yg berkarakter sesuai harapan para leluhur, para pendiri bangsa.

Hal itu disampaikan Bambang Supriyono, saat membuka Peningkatan Penanaman Watak dan Pekerti Bangsa, di Gedung Wanita Purworejo, Selasa (24/7). Acara ini digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional dan Hari Anak Nasional.
 

Minggu, 22 Juli 2018

Festival Gejok Lesung, sebagai media pendidikan karakter

Bupati Klaten, Sri Mulyani saat membuka festival
Pemerintah kabupaten Klaten menggelar Festival Gejok Lesung di lapangan Barepan, kecamatan Cawas, Sabtu (21/7). Festival digelar sebagai rangkaian peringatan Hari Jadi ke-214 Kabupaten Klaten dan Peringatan HUT RI ke 73.

Festival dibuka oleh Bupati Klaten, Sri Mulyani dengan menabuh lesung, didampingi Sekda Klaten Joko Sawaldi, anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah, Kadarwati, Kasubbag Pendidikan, Kebudayaan, dan Perpustakaan Biro Kesra Setda provinsi Jawa Tengah, Eny Haryanti, dan Camat Cawas M. Nasir

Sebanyak 31 kelompok gejog lesung mengikuti ajang festival ini.Para peserta Festival Gejog Lesung diberi waktu selama 10 menit untuk menunjukkan kemampuan mereka bermain gejok lesung diiringi penari. Penilaian meliputi harmonisasi, koreografi, kostum, serta kreativitas.
 
Dalam laporan panita, Camat Cawas, M. Nasir, menjelaskan festival itu digelar untuk melestarikan kesian rakyat, khusunya Lesung sebagai seni musik tradisional. Selain itu, festival dimaksudkan sebagai media pendidikan karakter agar seni tradisional tak punah.

Bupati Klaten, Sri Mulyani, berharap festival itu bisa digelar rutin setiap tahun. Ia juga meminta ada inovasi agar festival tak monoton.

"Jangan monoton konsepnya itu-itu saja. Saya harap semakin berinovasi. Kalau monoton nanti jenuh dan akhirnya punah, tidak bisa dilestarikan," katanya

Jumat, 06 Juli 2018

Menggali talenta anak, melalui Festival Wayang Bocah

Sungguh menggetarkan jiwa, jika melihat anak anak kecil dengan penuh perasaan, kepiawaian, dan kelincahannya, menyatukan seni tari, drama, musik, dan macapat dalam sebuah wayang bocah.

Pemkot Surakakarta melalui Dinas Kebudayaan, menggelar Festival Wayang Bocah 2018 di Gedung Wayang Orang Sriwedari, Solo. Acara ini digelar selama 3 hari, yaitu 5-7 Juli 2018.

FWB 2018 adalah salah satu cara yang digunakan untuk mengenalkan budaya bangsa kepada anak, dengan cara yang menyenangkan dan tidak rumit. Lewat cerita dongeng nusantara, permainan tradisional, main alat musik tradisional atau teater, pesan moral dan kearifan lokal dapat tertransfer dengan lembut dan efektif.

Tujuan diadakan festival ini tidak lain untuk menumbuhkan kesadaran generasi penerus bangsa akan pentingnya arti budaya bangsa. Pengenalan budaya sejak dini memberikan edukasi kepada anak tentang keberagaman budaya yang harus saling dihargai sehingga norma dan nilai budaya bangsa akan dapat terwariskan pada generasi selanjutnya.

Kepala Bidang Pelestarian Budaya Dinas Kebudayaan Kota Surakarta Iis Purwaningsih mengatakan dengan mengenalkan budaya melalui Festival Wayang Bocah kepada anak sejak dini akan mengajarkan anak bersentuhan langsung pada budaya. Sehingga kedepan anak-anak kita akan menjadi generasi yang bangga dengan budaya bangsa sendiri, mencintai, dan melestarikan nilai-nilai luhur budaya serta bisa mengembangkan sikap menghargai keberagaman budaya bangsa.

“Ini adalah cara kita untuk menularkan virus baik bahwa budaya lokal itu tidak kalah dengan budaya asing, selama ini ada kecenderungan budaya asing mulai mengikis budaya lokal. Itu yang menjadi fokus kami, karena anak-anak usia SD-SMP merupakan usia golden age di kehidupan.

Dengan mereka mulai memahami indahnya pentas wayang orang mereka diharapkan nantinya bisa menerapkan falsafah-falsafah yang ada di cerita wayang,” ungkap Iis.

Festival ini merupakan yang ke 7 kalinya dan diikuti oleh 9 sanggar yang berasal dari Kota Solo, yaitu Sanggar Sono Puspo Budaya Surakarta, Sanggar Tari Soeryo Soemirat, Sanggar Tari Metta Budaya, Sanggar Eka Santhi Budaya, Sanggar Galuh Art, SD Kasatriyan Surakarta, Sanggar Sarwi Retno Budaya Surakarta, Sanggar Gedhong Kuning dan Paguyuban Guru Tari (PAGUTRI) Surakarta.

Setiap sanggar rata-rata menampilkan 50 peserta yang terdiri dari siswa SD usia 9 tahun hingga siswa kelas 3 SMP. Para peserta memperebutkan kejuaraan yang dibagi dalam dua kategori, yang pertama kategori utama (kelompok) dan yang kedua kategori atribut (perorangan). Dengan total hadiah mencapai Rp 30 juta.

Rabu, 27 Juni 2018

Dengan Paduan Suara, tumbuh karakter kebangsaan

Selasa (26/6), Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Tengah, menggelar audisi Paduan Suara Gita Bahana Nusantara (PS GBN) di Museum Ronggowarsito, Semarang.

Audisi ini diikuti 90 peserta mewakili kabupaten/kota se provinsi Jawa Tengah. Setiap kabupaten diwajibkan untuk memenuhi semua kategori yang dilombakan, yaitu jenis suara alto, sopran, tenor dan bas.

Jumat, 08 Juni 2018

Ada Pelita di Sanggar Sapta Dharma


Sore itu hari Kamis, (7/6) sekitar pukul 16.30 langit biru cerah, nampak mini bus milik Gereja Pantekosta Kota Semarang merapat di halaman Sanggar Candi Busana Blater Desa Jimbaran Bandungan Kabupaten Semarang. Dua puluh dua orang  turun bus dari menyambangi Warga Penghayat Kerokhanian Sapta Darma yang sudah siap menyambut kedatangan mereka.

Beberapa lainnya datang menggunakan kendaraan pribadi. Mereka adalah pemuda pemudi Persaudaraan Lintas Agama (PELITA) Semarang dan alumni Pondok Damai 2018. Latar belakang dan agama yang beragama tidak menepis niat mereka untuk merajut persaudaraan dan rasa persatuan dalam kerangka Silahturahmi Kebangsaan.

Silahturahmi Kebangsaan ini adalah yang ke 6 (enam) kalinya dilaksanakan sejak Pelita dibentuk tahun 2016.  Setyawan Budi, selaku Koordinator Pelita menerangkan hal ini pada sesi pembukaan. Kemudian acara dilanjutkan dengan sesi perkenalan. Peserta memperkenalkan diri satu per satu nama dan latar belakangnya. Anggota Pelita sendiri berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, ada yang mewakili organisasi baik organisasi masyarakat, keagamaan, kepercayaan, akademisi, profesi maupun atas nama diri pribadi. Mewakili organisasi ada dari kalangan pendeta, anggota Ganaspati, Mahasiswa HMJ Studi Agama-Agama (SAA) UIN, eLSA, EIN Institute, Perguruan Trijaya, Gusdurian, dan lain-lain.

Acara dilanjutkan dengan uraian materi seputar Ajaran Kerokhanian Sapta Darma oleh  Slamet Haryanto selaku Tuntunan Kerokhanian Sapta Darma (KSD) Provinsi Jawa Tengah. Hadir juga Hari Suyitno selaku Tuntunan KSD Kabupaten Semarang dan Juari selaku ketua Persada Kabupaten Semarang.

Materi yang disampaikan antara lain tentang sejarah turunnya wahyu Sapta Darma oleh Bapa Panuntun Agung Sri Gutomo pada tahun 1952, kelengkapan wahyu ajaran sapta darma antara lain Sujud, Simbol Pribadi Manusia, Wewarah Tujuh dan Sesanti. Riwayat keberadaan Sanggar Candi Sapta Rengga di tingkat pusat Yogyakarta dan Sanggar candi busana di tingkat daerah.  Struktur kelembagaan Sapta Darma yang terdiri dari Tuntunan sebagai pemegang kelembagaan tertinggi dalam kerokhanian Sapta Darma, Organisasi Persada yang berdiri sejak terbitnya UU no 8 th 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan dan Yayasan Srati Darma sebagai bokor kencono yang menampung sumbangan dari warga Sapta Darma dan sumbangan lain yang tidak mengikat.

Menghormati bulan Ramadhan bagi pemeluk agama Islam yang menjalankan ibadah puasa. Acara direhat sementara saat irine tanda waktu buka puasa berbunyi. Peserta pun beranjak untuk berbuka bersama di lokasi Pemancingan Suharno I yang berada satu area dengan SCB Blater Jimbaran Bandungan. Hidangan yang tersaji antara lain sup buah, teh hangat, ikan lele dan nila plus lalap sambal yang ditata khusus pada pelepah daun pisang.

Pasangan suami istri, pengelola pemancingan, yang juga merupakan penghayat Sapta Darma mengaku gembira dan dengan senang hati menerima kunjungan dari Pelita. “ Kami sangat bangga dan mengapresiasi antusias teman-teman PELITA dan Pondok Damai menyambut undangan kami untuk berkunjung ke SCB Blater milik penghayat Sapta Darma. Semoga Pelita semakin sukses dalam menjaga perdamaian dan kerukunan antar umat beragama dan kepercayaan,” tutur Dwi Setiyani, sang istri yang juga merupakan alumni Pondok Damai 2018.

Usai berbuka puasa dan menjalankan ibadah sholat maghrib, acara kembali dilanjutkan dengan dua sesi tanya jawab antara lain tentang peragaan sujud atau tata cara peribadahan penghayat Sapta Darma, tentang siapakah Sri Pawenang, tata cara perkawinan, kematian, dan juga pendidikan secara Sapta Darma dan kemungkinan agama lokal dapat diteorikan seperti agama-agama monoteisme yang lain.

Satu demi satu pertanyaan dijawab dengan baik “Kami  menjelaskan kebenaran ajaran Sapta Darma yang baru berusia 66 tahun ini, secara manajemen penataan, kami mengakui agama yang lain sudah lebih tertata dengan baik. Hal ini juga karena usianya yang sudah ribuan tahun.  Selebihnya kami serahkan kepada masyarakat untuk menilai”, tukas Slamet Haryanto menutup acara.

Senin, 04 Juni 2018

"Nderek Lampah", perjalanan spiritual terpanjang dan terbesar

Perguruan Trijaya yang merupakan sebuah organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa tingkat nasional yang berpusat di Tegal, beberapa.hari yang lalu telah melakukan sebuah perjalanan spiritual 9 hari, tepatnya mulai 25 Mei - 2 Juni 2018. 

Perjalanan yang diberi nama "Nderek Lampah Satuhu Risang Guru" ini diikuti 170 orang dengan 31 mobil pribadi dengan menemuh jarak kurang lebih 2.300 km. Perjalanan ini melintasi 4 provinsi yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan DIY.

Nderek Lampah dilepas oleh Pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru KRA. Panji Suryaningrat II di Cemoro Kandang, Tawangmangu, Sabtu Legi (26/5) pukul 11.00. Kemudian seluruh rombongan melakukan perjalanan di lokasi berikutnya yaitu Gunung Bromo.






Minggu, 13 Mei 2018

Rakernas Pertama Puan Hayati

Anggun dan bersahaja dalam balutan busana kebaya putih dan selendang merah, perempuan – perempuan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa nampak hikmat mengikuti upacara pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Puan Hayati Tingkat Nasional di Bromo meeting room Hotel Aria Centra Surabaya, siang kemarin, Sabtu (12/5). Tari Jejer Banyuwangi disuguhkan menjadi pembuka acara tersebut.

Bergelora lagu mars Puan Hayati untuk pertama kalinya berkumandang dipimpin langsung oleh sang pencipta lagu Rohayani, perempuan penghayat asal Bandung. Dilanjutkan dengan pembukaan secara resmi oleh  Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Ir. Drs. Nono Adyo Supriyatna, MM, Mmt, yang sekaligus didaulat menjadi keynote speaker.

Rakernas diikuti 90 orang peserta yang terdiri dari perwakilan Puan Hayati tingkat provinsi se Indonesia, perwakilan departemen wanita MLKI se Jatim, perwakilan organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan organisasi wanita lintas iman Jawa Timur.

Rakernas ini baru pertama kali dilaksanakan pasca terbentuknya Puan Hayati Pusat, 13 Mei 2017. Acara yang dihelat tgl 12-13 Mei 2018 ini diselenggarakan oleh Puan Hayati Pusat berkat dukungan dari Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan tradisi dan para simpatisan.

Dian Jennie Tjahjawati, Ketua Umum Puan Hayati Pusat menyatakan bahwa rakernas telah merumuskan agenda organsasi untuk meneguhkan sikap dan komitmen pada kebangsaan, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. “Kebutuhan peran tersebut telah menyatakan diri dalam tragedi bom di Surabaya pagi ini akibat lemahnya penghayatan terhadap nilai-nilai warisan para pendiri bangsa dan leluhur kita,” ungkapnya prihatin.

Rakernas juga telah merumuskan hal terkait eksistensi perempuan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, terutama pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal pencatuman identitas Kepercayaan pada kolom agama di Kartu Tanda Penduduk. Berbagai perkembangan aktual tersebut telah menjadi faktor yang sangat menentukan perlunya pemupukan identitas Penghayat, sekaligus menjadi tantangan besar untuk semakin meneguhkan komitmen perempuan Penghayat terhadap kebangsaan Indonesia.

Inilah salah satu pokok pikiran yang disampaikan Eva K. Sundari dalam sesi pleno terakhir Rakernas tersebut. “ Puan Hayati hadir pada momen yang tepat, di tengah tantangan kebangsaan dan Bhineka Tunggal Ika yang tengah diserang oleh kekuatan radikalisme dan terorisme. Puan Hayati harus berkiprah karena bangsa sudah memanggil,” paparnya.

Eva Sundari, ketua Kaukus Pancasila mengajak seluruh pengurus dan anggota Puan Hayati untuk melakukan hening cipta bagi para korban aksi terorisme di Surabaya.

Adapun materi dan narasumber acara tersebut antara lain Ustad  Nakhoi (Perwakilan Komnas Perempuan) tentang Kesetaraan gender dan hak Perempuan dalam akses perempuan, Dian Jennie Cahyawati, S.sos, tentang Peran Perempuan dalam transformasi nilai-nilai ajaran, Akhol Firdaus, M.ag, M.pd (Akademisi) tentang Perempuan sebagai aktor kunci perubahan, Eva Sundari tentang Perempuan Penghayat sebagai Pilar Kebangsaan dan Kebhinekaan, Sri Hartini, M.si (Sekretaris Dirjen Kebudayaan) tentang Membangun Eksistensi Perempuan Penghayat Kepercayaan dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

Sabtu, 12 Mei 2018

Ternyata pakai Iket, lebih ganteng

Ratusan pelajar di Kabupaten Cilacap tampak berbeda siang itu, Jumat (11/5). Mereka terlihat lebih ganteng dengan memakai iket (jawa : ikat kepala) dalam acara Workshop Seni dan Budaya yang digelar di Aula Diklat Praja, Cilacap.

Tidak hanya pelajar laki-laki, antusias pun juga terlihat dari pelajar perempuan yang juga serius belajar memakai iket.

Iket merupakan busana daerah yang dipakai khusus dikepala, yang mempunyai filosofi sebagai pengikat antara pikiran dan hati agar tetap selalu berpikir dan berperilaku yang baik, jelas Muslam, salah satu narasumber di acara tersebut.

Panji, salah satu peserta mengatakan bahwa memakai pakai iket itu ternyata kelihatan lebih ganteng. Setelah mengikuti workshop tersebut, semua peserta diwajibkan mengikuti lomba memakai iket yang digelar langsung usai materi disampaikan.

Acara yang diselenggarakan Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Tengah ini juga menghadirkan narasumber dari Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Joko Wicaksono.

Minggu, 06 Mei 2018

Deklarasi Puan Hayati Jawa Tengah

Ada yang berbeda dari Sarasehan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa wilayah Jateng, Jatim dan DIY tahun ini. Pada tengah acara, usai sesi diskusi yang disampaikan oleh Ir. Drs. Nono Adyo Supriyatno, MM, M.T, Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Msha Esa dan tradisi, Kemendikbud RI dua belas perempuan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dari dua generasi di Jawa Tengah nampak berdiri bersatu padu dalam kebaya nuansa ungu.

Pada siang itu Direktorat memberikan ruang terselenggaranya pelantikan dan deklarasi Puan Hayati Provinsi Jawa Tengah. Puan Hayati adalah wadah perempuan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Msha Esa Indonesia yang berada dibawah naungan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI).

Pengucapan Panca Ikrar Puan Hayati Jateng pada saat pelantikan oleh Dian Jennie Cahyawati, S.sos, ketua Puan Hayati Pusat, menjadi tanda bahwa kepengurusan Puan Hayati Jawa Tengah telah dikukuhkan.

Berikut ini merupakan point dari Panca ikrar Puan Hayati  :
1. Puan Hayati adalah anak bangsa yang selalu setia kepada Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.
2. Puan Hayati adalah insan pertiwi yang menjunjung tinggi kepribadian bangsa Indonesia sebagai karakter perempuan penghayat sejati
3. Puan hayati senantiasa menjunjung tinggi nilai nilai kearifan lokal sebagai pencerminan dari nilai-nilai ajaran luhur bangsa.
4.Puan hayati adalah perempuan Indonesia yang berhati mulia, berperilaku jujur, pantang menyerah, berani membela kebenaran dan keadilan.
5. Puan hayati adalah perempuan pendidik anak bangsa yang berbudi pekerti luhur, cerdas serta memiliki jiwa nasionalisme.

Dalam sambutannya, Ir. Drs. Nono Adyo Suprayatno, MM, MT, sangat mengapresiasi terbentuknya kepengurusan Puan Hayati Jawa Tengah. Ia berharap dengan terbentuknya kepengurusan ini,  regenerasi dan pelestarian ajaran Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dapat berjalan baik dan tetap terjaga secara berkesinambungan.

Dian Jennie Cahyawati, S.sos, pada sesi pemaparannya yang mengulas Peran Perempuan dalam mewariskan nilai Kepercayaan terhadap keluarga, juga  terhadap Tuhan YME Jawa Tengah semakin menunjukkan eksistensinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. “Memang berat mengawali langkah setelah sekian lama tertidur, tapi dengan tekad dan semangat yang tinggi, mulailah dengan membuat kegiatan seperti anjangsana dan workshop” ujarnya memberikan semangat.

Kamis, 03 Mei 2018

Indonesia Raya 3 Stansa berkumandang di Sarasehan Penghayat Kepercayaan

Lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan 3 stansa berkumandang di Hotel Solo Paragon, tepatnya saat pembukaan Sarasehan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Rabu malam (2/5).

Baru kali ini saya ikuti sebuah pembukaan acara yang menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan 3 stansa, jelas Kinkin Sultanul Hakim saat membuka sarasehan tersebut. Ditambahkannya bahwa dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 stansa tersebut, akan lebih memberikan kita semangat kebangsaan, jika kita mampu meresapi dan menghayati setiap lirik yang sesaat masih terasa asing ditelinga kita.

Acara yang diselenggarakan Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud RI ini diikuti 124 peserta dari organisasi/paguyuban Kepercayaan diwilayah Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur, perwakilan dinas/OPD yang membidangi Kebudayaan dan beberapa LSM yang konsen terhadap permasalahan Penghayat Kepercayaan.

Sarasehan yang digelar selama 4 hari ini menghadirkan beberapa narasumber baik tingkat pusat maupun daerah. Diantaranya Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI, Drs. Nono Adya Supriyatno, MM, MT, Ketua Umum Puan Hayati (Perempuan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia) Dian Jeany, S.Sos, Akademisi UNAIR Dr. Dra. Pinky Saptandari, MA, Presidium MLKI Dr. Andri Hernandi, ST, MT, Akademisi UNY Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum, Pengurus Pusat MLKI Ir. Engkus Ruswana, MM, MLKI Jawa Tengah bidang Kepemudaan, Adi Pratikto, Akademisi UNDIP Adi Prasetijo, dan Akademisi Universitas Negeri Malang, Dr. Abdul Latif Bustami.



Minggu, 29 April 2018

Warna baru Karnaval Paskah Kota Semarang

Karnaval Paskah kembali di gelar. Ribuan warga kota semarang turut menyemarakkan
Karnaval Paskah tahun ini, sebelum pelepasan masyarakat antusias melihat visualisasi
penyaliban Yesus di kawasan kota lama, Jumat siang (27/4).

Peserta diberangkatkan dengan ditandai pelepasan bendera oleh Ketua DPRD Jawa Tengah Rukma Setiabudi, Ketua Komisi Hubungan Antar Umat Beragama Keuskupan Agung Semarang Romo Aloysius Budi Purnomo, Pendeta Natanael Setiabudi, dan Romo Eduard Didik.

Ada warna baru pada acara yang diadakan oleh Pemerintah Kota Semarang yang bertema
“Dengan Kebangkitan-Nya, Kita Srawung Dalam Keberagaman”  ini, pasalnya peringatan
paskah kali ini turut melibatkan komunitas lintas agama yang tergabung dalam Persaudaraan
Lintas Agama (PELITA) Semarang.

Adapun komunitas keagamaan yang turut meramaikan acara ini adalah GMKI, HMJ Studi Agama-Agama UIN Walisongo, PMII Semarang, JAGI, KPMKB, Persatuan Warga Sapta Dharma, STT Abdiel, dan Forum Perantara.

Selama Karnaval berlangsung, barisan Lintas Agama serentak menyanyikan lagu-lagu nasional dan daerah. Iringan saxophone oleh Romo Aloysius Budi Purnomo menambah semangat peserta Lintas Agama ini, mulai dari lagu Indonesia Pusaka, Ibu Kita Kartini, hingga lagu Yaa Lal Wathan menambah semangat nasionalisme dan persatuan.

Menurut Hendi (Walikota Semarang), karnaval ini sebagai bukti bahwa Kota Semaran tidak hanya mengakui keragaman, namun juga merayakan keberagaman itu sendiri. Karnaval ini bukan milik warga Semarang yang beragama Kristen dan Katolik saja. Tuturnya dalam penyambutan peserta di Balaikota Semarang.


Oleh : Rizky Amboen

Rabu, 25 April 2018

Terhanyut dalam kisah Kartini


Ny. Nur Inayah Salim, finalis dari Jepara
saat tampil dipanggung
Selasa (24/4), ratusan penonton yang berada dalam Gedung Dharma Wanita Persatuan, Jl. Menteri Supeno Semarang, seakan terhanyut dalam kisah Kartini. Kisah ini diceritakan dalam sebuah lomba Story Telling RA. Kartini yang diikuti anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) se Provinsi Jawa Tengah.

Lomba yang diadakan DWP Jateng ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Kartini ke 139 tahun 2018. Lomba ini diikuti 13 finalis, dimana para finalis tersebut merupakan hasil proses penyaringan dari 70 peserta yang berasal dari kabupaten/kota dan OPD provinsi Jawa Tengah.

Kisah Kartini sejak lahir hingga wafat diceritakan dengan penuh penjiwaan secara bergantian oleh para finalis menjadi 13 episode yang berbeda-beda. Mereka membawakan kisah Kartini dengan seni dan gayanya masing-masing. Bermacam-macam property dari meja, kursi, buku, boneka bayi, lampu teplok, foto Kartini, hingga perangkat gamelan saling bergantian menghiasi panggung. Beberapa finalis juga ada yang menunjukkan bakatnya dalam olah tembang macapat, seolah para penonton dibawa pada masa itu yang kental dengan budaya jawa.

Selain itu beberapa peserta juga melibatkan beberapa orang sebagai peraga untuk mengilustrasikan ceritanya. Sebagai contoh ada yang memerankan Kardinah (adik Kartini), Sosorokartono (kakak Kartini), Rosa Abendanon (sahabat Kartini), dll.

Lomba ini dibuka oleh Sekda Jateng Dr. Ir. Sri Puryono KS MP yang sekaligus Penasihat DWP Provinsi Jateng. Dalam sambutanya, Sri Puryono menjelaskan, seperti yang disampaikan RA Kartini, dengan pendidikan yang berorientasi kepada nalar dan akhlak, diharapkan mampu menempatkan diri dan bersikap sebagai bangsa yang berharkat dan bermartabat. Bila orang hendak sungguh-sungguh memajukan peradaban, kecerdasan pikiran dan pertumbuhan budi juga harus dimajukan.

“Semua itu juga mengandung makna, bahwa sejatinya tugas kaum perempuan itu juga tidak lebih ringan dari tugas kaum laki-laki. Sama, bahkan relatif lebih berat, karena pendidikan juga diawali saat anak masih dalam kandungan,” jelasnya.

"Saya berharap, sekolah, masyarakat, keluarga semua terlibat untuk membentuk generasi muda sebagai generasi berkarakter, santun, berbudi pekerti baik, dan cerdas,” bebernya. Hal ini selaras dengan tema Hari Kartini 2018, yaitu “Dengan Semangat Kartini, Kita Tingkatkan Kualitas Keluarga Dalam Menguatkan Pendidikan Karakter Generasi Penerus Bangsa”, maka jadikan generasi muda sebagai generasi masa kini yang berkarakter, serta cerdas secara total, baik secara intelektual, spiritual maupun emosional."

Ketua DWP Jateng, Ny. Rini Sri Puryono
berfoto besama dengan para pemenang lomba

Senada disampaikan Ketua DWP Jateng Ny. Rini Sri Puryono. RA Kartini merupakan tokoh wanita Jawa yang mampu membangun dan mendukung peradaban. Guna mendukung hal itu, semua warga Indonesia termasuk keluarga anggota Dharma Wanita untuk meneladani perjuangan RA Kartini.

"Generasi penerus negeri diharapkan merupakan generasi yang beriman, berintegritas, sehat, cerdas, kreatif, inovatif, mandiri, demokratis, bertanggung jawab, berdaya saing, kewirausahaan, kepeloporan, serta berbudaya", tambahnya.
 
Dewan juri lomba ini terdiri dari unsur budayawan, sastrawan, sekaligus jurnalis bidang sastra, yakni Maston Lingkar, Hendry TM, dan Triyanto Triwikromo. Dari sidang dewan juri menghasilkan 6 pemenang. Diantaranya sebagai Juara I diraih Ny. Nur Inayah Salim dari DWP Kabupaten Jepara, Juara II oleh Ny. Rika Budi Antowati dari DWP Undip, dan Juara III diraih Ny. Novia Rizki Hapsari dari DWP Kabupaten Pati.

Sedangkan Juara Harapan I diraih Ny. Eny Haryanti Bambang dari DWP Setda Prov Jateng, disusul Ny. Anif Maghfiroh dari Setwan DPRD Jateng dan Harapan III diraih Ny. Yunita Kuswarjanti Murtiningsih dari DWP Kabupaten Klaten.

Rabu, 18 April 2018

Persada Jateng Gelar Penataran Rohani

Untuk pertama kalinya Persatuan Warga Sapta Darma (PERSADA) Provinsi Jawa Tengah menggelar acara penataran rohani berupa Sujud Penggalian Pribadi Manusia tingkat Jawa Tengah.

Acara yang dilaksanakan 6 hari 6 malam, mulai Minggu (15/4) sampai dengan Sabtu (21/4) di Sanggar Candi Busana (SCB) Blater Kabupaten Semarang ini, mendapat antusias positif dari Warga Kerokhanian Sapta Darma (KSD).

Dari 40 Peserta yang mengikuti penggalian, 27 orang merupakan peserta laki-laki dan 13 orang peserta perempuan. Antara lain dari Kabupaten Semarang, Kota Semarang, Kabupaten Kendal, Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Banyumas, Kab Pati, dan Kabupaten Cilacap.

Biasanya warga KSD Jawa Tengah  aktif mengikuti kegiatan penggalian yang dilaksanakan 4-5 kali dalam satu tahun di Sanggar Candi Sapta Rengga Yogyakarta yang biasa disebut “Sanggar Agung” atau Sanggar Pusat.

Sujud Penggalian Pribadi Manusia merupakan penataran rohani bagi warga Sapta Darma sebagai sarana untuk meningkatkan mutu kerokhanian demi terwujudnya pembangunan dan pembinaan mental spiritual dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Ajaran Sapta Darma bukan sekedar ajaran untuk warga KSD saja, tetapi memberikan penerangan dan pencerahan bagi umat manusia yang sedang dalam kegelapan, sebagai wujud pengamalan budi pakarti yang luhur.

Tiga hal yang menjadi tujuan acara ini antara lain adalah menyempurnakan pengabdiannya kepada Hyang Maha Kuasa dan umat manusia, meningkatkan mutu kerokhanian warga Sapta Darma dan membentuk Satrio Utomo yang berbudi luhur, berkepribadian dan berkewaspadaan tinggi. Manusia yang dapat memayu hayu bagya bawana. Hal ini sesuai wewarah kerokhanian Sapta Darma yang disampaikan oleh Slamet Haryanto selaku Tuntunan Kerokhanian Sapta Darma Provinsi Jawa Tengah.

Ketidakpercayaan publik, kebrutalan massa dan gejolak lain dalam kehidupan berbangsa bernegara yang terjadi selama ini mempresentasikan sebuah kemerosotan dan kemunduran moral warganya.

Penataran rohani (Sujud Penggalian) ini merupakan salah satu solusi untuk membangun mental dan moral masyarakat serta mengembalikan jati diri bangsa Indonesia yang sopan santun, ramah tamah, beradab dan berbudi luhur.

Oleh : Dwi S Utami

Minggu, 15 April 2018

Ritual "Bangun Tulak" bawa Jateng sebagai Penyaji Terbaik pada Pawai Budaya Nusantara

Kontingen Jateng saat menampilkan Ritual Bangun Tulak
Sebuah upacara adat masyarakat Wonogiri Jawa Tengah yang bernama Ritual Bangun Tulak, siang tadi menghebohkan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Ritual yang biasa dilaksanakan saat panen padi di desa Tanggulangin kecamatan Jatisrono itu dipentaskan dalam bentuk pawai budaya.

Persembahan provinsi Jawa Tengah ini pun dinobatkan sebagai penyaji terbaik sekaligus menjadi juara umum, pada Pawai Budaya Nusantara 2018. Perhelatan tingkat nasional ini diselenggarakan oleh pihak TMII dalam acara Pekan Ulang Tahun TMII ke 43.

Sebanyak 17 provinsi ikut andil dalam ajang bergengsi ini. Setiap kontingen berjalan sekitar 400 meter, dengan mengambil start di depan Candi Bentar dan finish di Tugu Api Pancasila, tepatnya setelah podium kehormatan. Selama berjalan setiap kontingen diharuskan menampilkan atraksinya tanpa putus, karena tim pengamat tersebar disepanjang rute pawai. Tim pengamat tersebut diantaranya Abdul Rohim, Frans Sartono, dan Sigit Gunarjo.

Abdul Rohim yang menjadi ketua tim pengamat menyampaikan bahwa secara keseluruhan peserta tahun ini lebih baik dari pada tahun-tahun sebelumnya. Tim pengamat pun harus bekerja keras untuk memberikan penilaian, namun beberapa kriteria pokok yang ada didalam juknis menjadi panduan utama dalam tim pengamat menilai. "Ini bukan seni panggung, melainkan seni berjalan dan disini dibutuhkan kontinuitas dalam gerak sepanjang rute pawai", tambahnya.

Dengan meraih penyaji terbaik, kontingen Jawa Tengah berhak memboyong piala dan piagam penghargaan dari Menteri Pariwisata RI serta uang pembinaan sebesar 10 juta rupiah dari Dirut TMII. Hadiah diterima oleh Eny Haryanti, S.Pd. M.Pd. Kasubbag Pendidikan Kebudayaan dan Perpustakaan, Biro Kesra Sekda Provinsi Jawa Tengah sebagai penanggungjawab kontingen.

"Ini adalah kerja keras tim, baik dari peserta maupun tim pendukung semua bekerja siang malam, bahkan sampai disini (TMII) kami hanya tidur beberapa jam saja untuk mempersiapkan segalanya baik properti maupun untuk gladi" Jelasnya.


foto bersama dengan Kepala Biro Kesra Setda Prov Jateng,
Drs. Supriyono, MM. (di belakang tengah membawa piala)
Kepala Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Tengah, Drs. Supriyono, MM, yang juga hadir di acara ini menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah bekerja keras dan mampu mengharumkan nama Jawa Tengah dikancah nasional. Ini disampaikannya setelah menyerahkan hadiah uang pembinaan dari dirut TMII kepada ketua kontingen, Loediro Pantjoko.

Sebelum diumumkan sebagai penyaji terbaik, Jawa Tengah masuk dalam 5 penyaji unggulan bersama dengan provinsi DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan dan DKI Jakarta.

PBN kali ini juga merebutkan 3 pemenang kategori lainnya. Diantaranya Penata Gerak Terbaik yang jatuh pada provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan berhak mendapatkan piala dan piagam dari Menteri Pariwisata RI dan uang pembinaan dari Dirut TMII sebesar 3 juta rupiah.

Untuk kategori Penata Musik/Iringan Terbaik jatuh pada provinsi Riau, dan berhak mendapatkan piala dan uang pembinaan sebesar 3 juta rupiah dari Direktur TMII. Sedangkan Penata Busana dan Rias Terbaik diraih provinsi Kalimantan Selatan dan mendapatkan piala dan piagam dari Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI serta uang pembinaan dari Dirut TMII sebesar 3 juta rupiah.


Minggu, 08 April 2018

Pondok Damai, Merajut Harmoni Memupus Prasangka

Bertempat di Muria Training Center (MTC) Salatiga, Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang menggelar sebuah kegiatan dengan nama Pondok Damai 2018. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari, dibuka Jumat malam (6/4) dan ditutup Minggu siang (8/4).

Merajut Harmoni, Memupus Prasangka, menjadi tema kegiatan ini karena diikuti perwakilan generasi muda dari berbagai agama dan kepercayaan di wilayah Semarang dan sekitarnya. Bahkan ada peserta datang langsung dari Singaraja (Bali) dan Jayapura (Papua).

Pondok Damai merupakan kegiatan yang mengumpulkan para pemuda lintas agama dan kepercayaan untuk membangun dan menanamkan benih-benih  perdamaian didalam keragamaan, berbagi pengalaman perjumpaan dengan orang yang berbeda agama dan keyakinan, serta saling memahami perbedaan masing-masing. 

Pondok Damai ini diikuti 22 peserta. Diantaranya mereka dari Islam NU, Islam Ahmadiyah, Islam Syiah, Katolik, Kristen Trinitarian, Kristen Unitarian, Hindu, Budha dan Sapta Darma yang mewakili Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Setyawan Budi, koordinator Pelita sekaligus ketua penitia menjelaskan bahwa sasaran utama dari kegiatan ini adalah generasi muda sehingga kesadaran mereka sebagai agent of peace (agen perdamaian) terbentuk. Mereka lah yang kelak mempertahankan pondasi perdamaian yang sudah diletakkan oleh para pendiri bangsa Indonesia. 

Kegiatan Pondok Damai merupakan salah satu upaya untuk memenuhi panggilan sebagai anak bangsa dalam menjaga keutuhan NKRI. Sebab, untuk menginternalisasikan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam Pancasila dan menjaga keluhuran Pancasila sebagai ideologi negara, diperlukan peran aktif generasi muda, tambahnya.

Kegiatan ini terdiri atas beberapa sesi. Untuk sesi dialog, disini dimunculkan bukan tentang teori bagaimana manusia beragama melainkan dialog yang lebih membahas tentang perjalanan spiritual anggota komunitas masing- masing. Dialog seperti ini jarang dilakukan oleh lembaga kerukunan umat beragama yang formal, karena lebih membuka ruang kepada peserta untuk menyampaikan hal yang private. Sehingga afeksi antar peserta lintas agama dan kepercayaan terbangun. Prasangka-prasangka buruk yang ada diantara para peserta pun akan terkikis.  

Tidak hanya berdialog, pada hari kedua, para peserta diajak berkunjung ke beberapa tempat ibadah yang ada di kota Salatiga. Diantara di Klenteng Hok Tek Bio, Gereja Katolik Santo Paulus Miki, Vihara Damma Phala dan Masjid Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI).

Kunjungan ke beberapa tempat ibadah tersebut juga dibuka ruang dialog antara peserta Pondok Damai dengan pihak tempat ibadah. Dari tanya jawab tersebut banyak membuka pemahaman tentang cara pendang tentang ibadah dan konsep-konsep ketuhanan dari masing-masing agama yang dikunjungi. 

Meskipun komunitas  ini masih dalam lingkup terbatas  dan informal. Namun, aktivitas- aktivitas yang dilakukan oleh peserta Pondok Damai akan sangat  berdampak positif bagi keutuhan Negara Republik Indonesia. Pondok Damai dapat menciptakan kerukunan umat beragama. Para perintis  Pondok Damai tetap konsisten menyemai benih-benih perdamaian, seiring berjalannya waktu apa yang telah mereka rintis telah membuahkan hasil.  

Para alumni Pondok Damai pun hingga sekarang masih berkontribusi dalam tiap kegiatan damai lintas agama. Dari berbagai testimoni yang dikumpulkan, gerakan kultural seperti ini memiliki ikatan yang lebih kuat dibanding dengan organisasi formal. Karena para peserta disini membuktikan bahwa kerukunaan beragama itu dipromosikan dan dihidupkan oleh kita sendiri, selaku masyarakat yang ber-Bhineka Tunggal Ika, pungkas Wawan, panggilan akrab koordinator Pelita.

Pondok Damai adalah kegiatan rutin yang diadakan setiap tahun sejak tahun 2007. Kali  ini merupakan kegiatan yang ke 11 dan diselenggarakan oleh Pelita Semarang. 

Pelita merupakan jaringan yang menghubungkan berbagai organisasi, lembaga, maupun komunitas yang bergerak dalam isu sosial keagamaan di Semarang dan sekitarnya.  Pelita terbentuk atas inisiasi kolektif yang bertujuan untuk menjaga keragaman dan kerukunan antar agama dan keyakinan, khususnya di Kota Semarang.



Minggu, 25 Maret 2018

Brandal Raseno "gegerkan" Taman Mini

Sabtu malam (24/3) seorang brandal (jawa:perampok) yang bernama Raseno dari Jepara Jateng menggegerkan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tepatnya di Anjungan Jawa Tengah. Dia menjadi sosok yang dicari pihak aparat keamanan karena perilakunya meresahkan masyarakat tingkat atasnya khususnya para saudagar kaya.

Berbanding terbalik, keberadaanya jusru dipuji-puji masyarakat miskin, yang dalam kehidupan sehari-harinya untuk makan saja susah. Tak ayal, Raseno merupakan sosok perampok yang sering merampas kekayaan para saudagar kaya, dan hasil rampoknya diberikan kepada rakyat miskin.

Dramatari Brandal Raseno ini diambil dari cerita rakyat yang merupakan satu dari sajian hiburan pada malam Paket Acara Khusus (PAK) di Anjungan Jawa Tengah, TMII. Khusus kali ini dipersembahkan oleh Pemkab Jepara.

Acara ini dihadiri wakil bupati Jepara dan beberapa duta besar dan senat negara-negara sahabat. Hadir pula anggota DPRD Jawa Tengah, pejabat di jajaran Pemprov Jateng.

Dalam sambutannya, wakil bupati Jepara Dian Kritiandi menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh tamu undangan, khususnya para duta besar negara-negara sehabat. "Ini merupakan sebagian kecil dari potensi yang kami punya, selebihnya kami undang bapak ibu semua untuk datang ke Jepara", tambahnya.