Jumat, 19 Januari 2018

BUDAYA SPIRITUAL SEBAGAI MEDIA PENGUATAN IDEOLOGI BANGSA



Menyikapi lahirnya KSBN 

Jauh sebelum negara Indonesia terbentuk, bangsa nusantara pernah mengalami masa kejayaan, setidaknya di era kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Peradaban yang dibangun baik bidang politik, ekonomi, sosial dan keamanan saat itu banyak berlandaskan dengan sistem budaya yang begitu tinggi dan selalu dipegang erat. Hal itu berimbas pada tingginya kualitas spritual, kemakmuran dan kerukunan yang mengakar dalam kehidupan masyarakat nusantara.

Tingginya kebudayaan masyarakat nusantara lebih banyak ditunjang dengan unsur spiritual yang bersumber dari kearifan lokal, lebih tepatnya dari keyakinan/kepercayaan asli nusantara yang jumlah dan variannya sangat banyak dan beragam.

Kekayaan akan budaya spiritual itu mampu membentuk masyarakat nusantara yang mempunyai jatidiri, budi pekerti, kepekaan rasa, gotong royong, saling menghormati dan kasih sayang kepada seluruh isi alam. Sifat karakter yang tumbuh dan melekat tersebut, berkembang sampai sekarang dan mampu memberikan andil dalam pembangunan sumber daya manusia guna mendukung penguatan ideologi bangsa serta menjadi benteng terkuat dalam menjaga Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegera.  

Hal itu seiring dan sejalan dengan sistem keyakinan yang dibangun atas dasar Kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, sebagai sarana penyembahan terhadap sang pencipta, melalui tata cara peninggalan leluhur nusantara, jauh sebelum agama-agama trans masuk ke wilayah nusantara.

Untuk itu kehadiran KSBN (Komite Seni Budaya Nusantara) selain sebagai wadah pengembangan seni budaya yang bersifat lahiriah/material, namun diharapkan juga mampu menyentuh bidang-bidang budaya spiritual. Beberapa diantaranya ada upacara adat dan tradisi yang ada di masyarakat jawa seperti sedekah bumi, ruwatan, selamatan daur hidup, tata ritual kepercayaan, dan lain-lain, dimana semua itu berakar pada konsep Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Ini menjadi catatan penting, agar kehadiran KSBN di provinsi Jawa Tengah ini mampu menjadi wadah untuk semua elemen budaya, baik yang bersifat material maupun spiritual. Keseriusan pengelolaan ini sangat logis karena Jawa Tengah bisa dibilang sebagai pusat budaya spiritual di tanah nusantara ini. Banyak sekali ragam Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa tersebar diseluruh kabupaten dan kota, yang diantaranya membentuk organisasi atau kelompok Penghayat Kepercayaan.

Menurut data di Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Kemendikbud, sebanyak 53 organisasi Kepercayaan tersebar di wilayah Jawa Tengah.  Diantaranya Sapta Darma, Paguyuban Kapribaden, Perguruan Trijaya, Paguyuban Pancasila Handayaningrat, Paguyuban Kawruh Kodrating Pangeran, Roso Manunggal Jati, Cahya Buwana, Paguyuban Budaya Bangsa, Wringin Seto, Kejawen Maneges, Kawruh Jawa Jawata dan lain-lainnya.

Sampai saat ini sudah banyak payung hukum yang melindungi keberadaan para pelaku budaya spiritual tesebut. Diantaranya UUD 1945, UU No. 23 Tahun 2006 jo UU No. 24 Tahun 2013, Permendikbud No. 27 Tahun 2016, dan yang terakhir adalah Putusan MK tentang masuknya Kepercayaan pada kolom agama di KTP.

Oleh karena itu, upacara adat dan tradisi dimana mempunyai makna ritual yang berbasis pada kepercayaan warisan leluhur nusantara ini diharapkan menjadi perhatian besar bagi KSBN. Setidaknya porsinya pun tidak ketinggalan jauh dari bidang budaya lain. Solusi terbaik adalah kolaborasi yang indah antara budaya material dengan budaya spiritual.

Melibatkan unsur seni dalam setiap upacara adat dan tradisi akan meningkatkan efek positif bagi setiap elemen yang terlibat maupun output yang dihasilkan dalam rangka menyiapkan generasi yang berbudi pekerti luhur dan berwawasan kebangsaan menuju kejayaan nusantara, kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.



 oleh : Bambang Permadi, AAN, S.Kom.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar