Selasa, 27 Februari 2018

Tari Angguk Grobogan, tambah koleksi tarian khas Jawa Tengah

Tari Angguk Grobogan, menambah satu lagi kekayaan tari tradisi di provinsi Jawa Tengah yang berasal dari kabupaten Grobogan. Tari ini diangkat menjadi bahan ajar pada acara Workshop Seni Tari Tradisi yang digelar di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo, Selasa (27/2).

Workshop ini diikuti 40 pengajar tari dari kabupaten dan kota se Solo Raya, meliputi Surakarta, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, Boyolali, Klaten, dan Karanganyar.

Tari Angguk Grobogan merupakan sebuah tari garapan yang diciptakan Warsito, S.Sn atau biasa dipanggil Sitek, seorang seniman tari lulusan ISI Surakarta yang sekarang bekerja di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Grobogan. Warsito juga dipercaya sebagai narasumber pada pelatihan ini, dan didampingi oleh Suyandari, S.Sn.

Sejarah Tari Angguk tidak lepas dari perjuangan Pangeran Diponegoro. Tari ini adalah satu dari kesenian rakyat Mataram yang menggambarkan gagah berani rakyat yang sedang mengadakan latihan perang untuk melawan kolonialis Belanda.

Tari Angguk yang terkenal berasal dari Kulonprogo (DIY) ini merupakan pengembangan dari Tari Dolalak asal Purworejo (Jawa Tengah). Terlihat ada beberapa kesamaan dari gerak, iringan musik, kostum yang mengenakan topi, baju berpangkat, kacamata hitam, celana pendek selutut dan lain-lainnya.

Tari Angguk Grobogan pertama kali ditampilkan pada acara pembukaan Lomba MTQ Pelajar ke 29 Tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun 2014, dimana kabupaten Grobogan terpilih menjadi tuan rumah.

Untuk kostum tidak baku, silakan kami bebaskan kepada para peserta pelatihan untuk berkreasi, tapi harus ada unsur tutup kepala seperti topi, kalung kace, baju berpangkat, kipas dan kaca mata serta untuk garapan tari bisa dirubah tapi ada hal yang baku seperti nyapu kipas, Shalawatan karena itu semua khas Tari Angguk Grobogan, jelas Warsito.

Permadi, pengamat seni tradisi dari Semarang mengatakan bahwa jika dari segi gerak, tari Angguk Grobogan ini memang punya pijakan tradisi. Tetapi jika dilihat dari segi iringan musiknya, kemungkinan tari ini akan susah berkembang lebih luas karena ada syair Shalawatan yang biasa digunakan dalam acara-acara keagamaan (islam).

Garapan musik tersebut berpengaruh besar pada terbatasnya segmen pasar penikmat tari tradisi, meskipun dipertengahan musik tersebut juga ada syair Lir - ilir. Tari ini lebih tepat disebut sebagai tari garapan bernuansa islami dan mungkin hanya bisa berkembang dilingkungan ponpes atau sekolah-sekolah berbasis islam, imbuhnya.

Salah satu peserta dari Wonogiri, Ludiro mengatakan bahwa Tari Angguk tersebut berpijak pada tari tradisi yang sudah dikreasikan. Saya lebih mengapresiasi gerak tarinya, untuk garapan musiknya mungkin nanti akan saya ubah dan kembangkan lagi, menyesuaikan kebutuhan konsumsi masyarakat, jelasnya.

Seksi Pertunjukan TBJT, Bagus Jatmiko menjelaskan bahwa Tari Angguk Grobogan ini bisa menjadi kekayaan materi bahan ajar di sekolah, dan bisa dikembangkan didaerah masing-masing. Untuk tahun ini dipilih Angguk, mungkin tahun depan bisa Lengger, Barongan, Jaranan, atau tari-tari lainnya yang menjadi identitas Jawa Tengah, sehingga apresiasi masyarakat terhadap kesenian tradisi akan terpelihara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar