Minggu, 15 April 2018

Ritual "Bangun Tulak" bawa Jateng sebagai Penyaji Terbaik pada Pawai Budaya Nusantara

Kontingen Jateng saat menampilkan Ritual Bangun Tulak
Sebuah upacara adat masyarakat Wonogiri Jawa Tengah yang bernama Ritual Bangun Tulak, siang tadi menghebohkan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Ritual yang biasa dilaksanakan saat panen padi di desa Tanggulangin kecamatan Jatisrono itu dipentaskan dalam bentuk pawai budaya.

Persembahan provinsi Jawa Tengah ini pun dinobatkan sebagai penyaji terbaik sekaligus menjadi juara umum, pada Pawai Budaya Nusantara 2018. Perhelatan tingkat nasional ini diselenggarakan oleh pihak TMII dalam acara Pekan Ulang Tahun TMII ke 43.

Sebanyak 17 provinsi ikut andil dalam ajang bergengsi ini. Setiap kontingen berjalan sekitar 400 meter, dengan mengambil start di depan Candi Bentar dan finish di Tugu Api Pancasila, tepatnya setelah podium kehormatan. Selama berjalan setiap kontingen diharuskan menampilkan atraksinya tanpa putus, karena tim pengamat tersebar disepanjang rute pawai. Tim pengamat tersebut diantaranya Abdul Rohim, Frans Sartono, dan Sigit Gunarjo.

Abdul Rohim yang menjadi ketua tim pengamat menyampaikan bahwa secara keseluruhan peserta tahun ini lebih baik dari pada tahun-tahun sebelumnya. Tim pengamat pun harus bekerja keras untuk memberikan penilaian, namun beberapa kriteria pokok yang ada didalam juknis menjadi panduan utama dalam tim pengamat menilai. "Ini bukan seni panggung, melainkan seni berjalan dan disini dibutuhkan kontinuitas dalam gerak sepanjang rute pawai", tambahnya.

Dengan meraih penyaji terbaik, kontingen Jawa Tengah berhak memboyong piala dan piagam penghargaan dari Menteri Pariwisata RI serta uang pembinaan sebesar 10 juta rupiah dari Dirut TMII. Hadiah diterima oleh Eny Haryanti, S.Pd. M.Pd. Kasubbag Pendidikan Kebudayaan dan Perpustakaan, Biro Kesra Sekda Provinsi Jawa Tengah sebagai penanggungjawab kontingen.

"Ini adalah kerja keras tim, baik dari peserta maupun tim pendukung semua bekerja siang malam, bahkan sampai disini (TMII) kami hanya tidur beberapa jam saja untuk mempersiapkan segalanya baik properti maupun untuk gladi" Jelasnya.


foto bersama dengan Kepala Biro Kesra Setda Prov Jateng,
Drs. Supriyono, MM. (di belakang tengah membawa piala)
Kepala Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Tengah, Drs. Supriyono, MM, yang juga hadir di acara ini menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah bekerja keras dan mampu mengharumkan nama Jawa Tengah dikancah nasional. Ini disampaikannya setelah menyerahkan hadiah uang pembinaan dari dirut TMII kepada ketua kontingen, Loediro Pantjoko.

Sebelum diumumkan sebagai penyaji terbaik, Jawa Tengah masuk dalam 5 penyaji unggulan bersama dengan provinsi DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan dan DKI Jakarta.

PBN kali ini juga merebutkan 3 pemenang kategori lainnya. Diantaranya Penata Gerak Terbaik yang jatuh pada provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan berhak mendapatkan piala dan piagam dari Menteri Pariwisata RI dan uang pembinaan dari Dirut TMII sebesar 3 juta rupiah.

Untuk kategori Penata Musik/Iringan Terbaik jatuh pada provinsi Riau, dan berhak mendapatkan piala dan uang pembinaan sebesar 3 juta rupiah dari Direktur TMII. Sedangkan Penata Busana dan Rias Terbaik diraih provinsi Kalimantan Selatan dan mendapatkan piala dan piagam dari Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI serta uang pembinaan dari Dirut TMII sebesar 3 juta rupiah.


1 komentar:

  1. Mau tanya tentang tradisi ritual mbangun tulak dari desa tanggulangin kec.jatisrono kab. Wonogiri,
    Bisa tolong di jelaskan?
    Awal sejarah di lakukan tradisi, dan bertujuan untuk apa?
    Terima kasih
    Wa +6282225296443

    BalasHapus