Minggu, 13 Mei 2018

Rakernas Pertama Puan Hayati

Anggun dan bersahaja dalam balutan busana kebaya putih dan selendang merah, perempuan – perempuan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa nampak hikmat mengikuti upacara pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Puan Hayati Tingkat Nasional di Bromo meeting room Hotel Aria Centra Surabaya, siang kemarin, Sabtu (12/5). Tari Jejer Banyuwangi disuguhkan menjadi pembuka acara tersebut.

Bergelora lagu mars Puan Hayati untuk pertama kalinya berkumandang dipimpin langsung oleh sang pencipta lagu Rohayani, perempuan penghayat asal Bandung. Dilanjutkan dengan pembukaan secara resmi oleh  Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Ir. Drs. Nono Adyo Supriyatna, MM, Mmt, yang sekaligus didaulat menjadi keynote speaker.

Rakernas diikuti 90 orang peserta yang terdiri dari perwakilan Puan Hayati tingkat provinsi se Indonesia, perwakilan departemen wanita MLKI se Jatim, perwakilan organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan organisasi wanita lintas iman Jawa Timur.

Rakernas ini baru pertama kali dilaksanakan pasca terbentuknya Puan Hayati Pusat, 13 Mei 2017. Acara yang dihelat tgl 12-13 Mei 2018 ini diselenggarakan oleh Puan Hayati Pusat berkat dukungan dari Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan tradisi dan para simpatisan.

Dian Jennie Tjahjawati, Ketua Umum Puan Hayati Pusat menyatakan bahwa rakernas telah merumuskan agenda organsasi untuk meneguhkan sikap dan komitmen pada kebangsaan, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. “Kebutuhan peran tersebut telah menyatakan diri dalam tragedi bom di Surabaya pagi ini akibat lemahnya penghayatan terhadap nilai-nilai warisan para pendiri bangsa dan leluhur kita,” ungkapnya prihatin.

Rakernas juga telah merumuskan hal terkait eksistensi perempuan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, terutama pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal pencatuman identitas Kepercayaan pada kolom agama di Kartu Tanda Penduduk. Berbagai perkembangan aktual tersebut telah menjadi faktor yang sangat menentukan perlunya pemupukan identitas Penghayat, sekaligus menjadi tantangan besar untuk semakin meneguhkan komitmen perempuan Penghayat terhadap kebangsaan Indonesia.

Inilah salah satu pokok pikiran yang disampaikan Eva K. Sundari dalam sesi pleno terakhir Rakernas tersebut. “ Puan Hayati hadir pada momen yang tepat, di tengah tantangan kebangsaan dan Bhineka Tunggal Ika yang tengah diserang oleh kekuatan radikalisme dan terorisme. Puan Hayati harus berkiprah karena bangsa sudah memanggil,” paparnya.

Eva Sundari, ketua Kaukus Pancasila mengajak seluruh pengurus dan anggota Puan Hayati untuk melakukan hening cipta bagi para korban aksi terorisme di Surabaya.

Adapun materi dan narasumber acara tersebut antara lain Ustad  Nakhoi (Perwakilan Komnas Perempuan) tentang Kesetaraan gender dan hak Perempuan dalam akses perempuan, Dian Jennie Cahyawati, S.sos, tentang Peran Perempuan dalam transformasi nilai-nilai ajaran, Akhol Firdaus, M.ag, M.pd (Akademisi) tentang Perempuan sebagai aktor kunci perubahan, Eva Sundari tentang Perempuan Penghayat sebagai Pilar Kebangsaan dan Kebhinekaan, Sri Hartini, M.si (Sekretaris Dirjen Kebudayaan) tentang Membangun Eksistensi Perempuan Penghayat Kepercayaan dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar