Selasa, 31 Juli 2018

Pelantikan Serentak Pengurus Yayasan Srati Darma Jawa Tengah


Setelah Agustus (2016) lalu, Persada (Persatuan Warga Sapta Darma) Jawa Tengah menata kelembagaan organisasi dengan mengadakan Pelantikan Serentak Persada  tingkat kota/kab Se Jateng. Tahun ini (28/7) Lembaga  Kerokhanian  Sapta Darma (KSD) Provinsi  Jawa Tengah berupaya menata yayasannya dengan melakukan penyegaran pengurus yayasan dalam event “Pelantikan Serentak Pengurus Yayasan Srati Darma  Cabang Utama  Provinsi Jawa Tengah dan Pengurus Yayasan Srati Darma Tingkat Cabang Kota/Kabupaten se Jawa Tengah” di Sanggar Candi Busana Blater, Kab Semarang.

Yayasan Srati Darma adalah yayasan milik Kerokhanian Sapta Darma , yang dibentuk langsung oleh Bapa Sri Gutomo, penerima wahyu ajaran. Didirikan sejak 17 Maret 1959, yayasan ini  merupakan bokor kencono yang menyerateni kebutuhan warga Sapta Darma, seperti sanggaran, penggalian pribadi warga, pembinaan, biaya operasional sanggar dll. Yayasan berfungsi sebagai penerima sumbangan yang bersifat tidak mengikat baik dari warga Sapta Darma maupun dana bantuan dari Pemerintah yang sah. Yayasan juga tidak diperkenankan melakukan usaha bisnis yang sifatnya komersial.

Ketua badan pengurus Yayasan Srati Darma Pusat, I Made Wardana, yang malam hari itu melantik 24 Yayasan tingkat cabang kota/kabupaten se Jateng, mengemukakan rencana strategis dalam hal pengelolaan bokor kencono. Dia berharap bahwa Yayasan Srati Darma Jawa Tengah bisa menjadi salah satu percontohan pengelolaan bokor kencono yang ideal.
Hadir dalam acara itu, Saekoen Partowijono selaku Tuntunan Agung kerokhanian Sapta Darma yang didampingi bapak bapak pengurus lembaga pusat KSD antara lain Naen Soeryono, SH,MH selaku ketua umum Persada Pusat, Ir I Made Wardana selaku ketua Badan Pengurus Yayasan Srati Darma Pusat, R. Bambang Subagyo, SH, MM, dan DJayusman SH, MH selaku sekretaris Tuntunan Agung, Slamet Haryanto selaku Tuntunan Provinsi Jawa Tengah dan Ir. Rahmat Purwantoro selaku ketua Persada Provinsi Jawa Tengah.

Dwi Utami

Jumat, 27 Juli 2018

Apa yang anda bayangkan, jika anak SLB ikut lomba tari ?

Apa yang anda bayangkan, jika anak-anak yang kurang dalam pendengaran dan bicara menarikan sebuah tari tradisi. Bahkan diantara mereka ada yang kurang/gangguan dalam mental.

Hal ini telihat pada sebuah ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tahun 2018 tingkat provinsi Jawa Tengah di Hotel Sahid Jaya Solo, yang berlangsung selama 2 (dua) hari, yakni Kamis (26/7) sampai dengan Jumat (27/7).

Sebanyak 12 peserta didik, dari 12 SLB (Sekolah Luar Biasa) yang tersebar di provinsi Jawa Tengah mengikuti lomba ini dengan penuh semangat. Dari perform mereka dipanggung, nyaris tak terlihat jika mereka adalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Bentuk gerak tari mereka selaras dengan musik iringan, meski sesekali mereka mendapat arahan dari pelatih.

Lomba Tari ini salah satu cabang yang dilombakan dalam FLS2N yang diselenggarakan oleh Bidang Diksus, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jateng.

Rabu, 25 Juli 2018

GADGET, menghabiskan lebih dari separuh nyawa kita

GADGET menghabiskan lebih dari separuh nyawa generasi muda saat ini, sehingga byk yg terjebak pd kemiskinan karya. Butuh perjuangan yg lebih utk bisa menciptakan generasi yg berkarakter sesuai harapan para leluhur, para pendiri bangsa.

Hal itu disampaikan Bambang Supriyono, saat membuka Peningkatan Penanaman Watak dan Pekerti Bangsa, di Gedung Wanita Purworejo, Selasa (24/7). Acara ini digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional dan Hari Anak Nasional.
 

Minggu, 22 Juli 2018

Festival Gejok Lesung, sebagai media pendidikan karakter

Bupati Klaten, Sri Mulyani saat membuka festival
Pemerintah kabupaten Klaten menggelar Festival Gejok Lesung di lapangan Barepan, kecamatan Cawas, Sabtu (21/7). Festival digelar sebagai rangkaian peringatan Hari Jadi ke-214 Kabupaten Klaten dan Peringatan HUT RI ke 73.

Festival dibuka oleh Bupati Klaten, Sri Mulyani dengan menabuh lesung, didampingi Sekda Klaten Joko Sawaldi, anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah, Kadarwati, Kasubbag Pendidikan, Kebudayaan, dan Perpustakaan Biro Kesra Setda provinsi Jawa Tengah, Eny Haryanti, dan Camat Cawas M. Nasir

Sebanyak 31 kelompok gejog lesung mengikuti ajang festival ini.Para peserta Festival Gejog Lesung diberi waktu selama 10 menit untuk menunjukkan kemampuan mereka bermain gejok lesung diiringi penari. Penilaian meliputi harmonisasi, koreografi, kostum, serta kreativitas.
 
Dalam laporan panita, Camat Cawas, M. Nasir, menjelaskan festival itu digelar untuk melestarikan kesian rakyat, khusunya Lesung sebagai seni musik tradisional. Selain itu, festival dimaksudkan sebagai media pendidikan karakter agar seni tradisional tak punah.

Bupati Klaten, Sri Mulyani, berharap festival itu bisa digelar rutin setiap tahun. Ia juga meminta ada inovasi agar festival tak monoton.

"Jangan monoton konsepnya itu-itu saja. Saya harap semakin berinovasi. Kalau monoton nanti jenuh dan akhirnya punah, tidak bisa dilestarikan," katanya

Jumat, 06 Juli 2018

Menggali talenta anak, melalui Festival Wayang Bocah

Sungguh menggetarkan jiwa, jika melihat anak anak kecil dengan penuh perasaan, kepiawaian, dan kelincahannya, menyatukan seni tari, drama, musik, dan macapat dalam sebuah wayang bocah.

Pemkot Surakakarta melalui Dinas Kebudayaan, menggelar Festival Wayang Bocah 2018 di Gedung Wayang Orang Sriwedari, Solo. Acara ini digelar selama 3 hari, yaitu 5-7 Juli 2018.

FWB 2018 adalah salah satu cara yang digunakan untuk mengenalkan budaya bangsa kepada anak, dengan cara yang menyenangkan dan tidak rumit. Lewat cerita dongeng nusantara, permainan tradisional, main alat musik tradisional atau teater, pesan moral dan kearifan lokal dapat tertransfer dengan lembut dan efektif.

Tujuan diadakan festival ini tidak lain untuk menumbuhkan kesadaran generasi penerus bangsa akan pentingnya arti budaya bangsa. Pengenalan budaya sejak dini memberikan edukasi kepada anak tentang keberagaman budaya yang harus saling dihargai sehingga norma dan nilai budaya bangsa akan dapat terwariskan pada generasi selanjutnya.

Kepala Bidang Pelestarian Budaya Dinas Kebudayaan Kota Surakarta Iis Purwaningsih mengatakan dengan mengenalkan budaya melalui Festival Wayang Bocah kepada anak sejak dini akan mengajarkan anak bersentuhan langsung pada budaya. Sehingga kedepan anak-anak kita akan menjadi generasi yang bangga dengan budaya bangsa sendiri, mencintai, dan melestarikan nilai-nilai luhur budaya serta bisa mengembangkan sikap menghargai keberagaman budaya bangsa.

“Ini adalah cara kita untuk menularkan virus baik bahwa budaya lokal itu tidak kalah dengan budaya asing, selama ini ada kecenderungan budaya asing mulai mengikis budaya lokal. Itu yang menjadi fokus kami, karena anak-anak usia SD-SMP merupakan usia golden age di kehidupan.

Dengan mereka mulai memahami indahnya pentas wayang orang mereka diharapkan nantinya bisa menerapkan falsafah-falsafah yang ada di cerita wayang,” ungkap Iis.

Festival ini merupakan yang ke 7 kalinya dan diikuti oleh 9 sanggar yang berasal dari Kota Solo, yaitu Sanggar Sono Puspo Budaya Surakarta, Sanggar Tari Soeryo Soemirat, Sanggar Tari Metta Budaya, Sanggar Eka Santhi Budaya, Sanggar Galuh Art, SD Kasatriyan Surakarta, Sanggar Sarwi Retno Budaya Surakarta, Sanggar Gedhong Kuning dan Paguyuban Guru Tari (PAGUTRI) Surakarta.

Setiap sanggar rata-rata menampilkan 50 peserta yang terdiri dari siswa SD usia 9 tahun hingga siswa kelas 3 SMP. Para peserta memperebutkan kejuaraan yang dibagi dalam dua kategori, yang pertama kategori utama (kelompok) dan yang kedua kategori atribut (perorangan). Dengan total hadiah mencapai Rp 30 juta.