Sabtu, 04 Agustus 2018

Gambang Semarang, Pengantin Kaji dan Kalang Obong Kendal ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Tim ahli dan narasumber Sidang Penetapan WBTB
didepan para peserta sidang
Gambang Semarang, kesenian khas Semarang ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia, pada Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2018 di Hotel Millenium Sirih, Jakarta (4/8).

Selain Gambang Semarang, sama-sama dari Kota Semarang, Pengantin Kaji pun juga lolos ditetapkan sebagai WBTB Indonesia. Kemudian dari Kabupaten Kendal, karya budaya berupa upacara adat (ritus) Kalang Obong Kendal juga ikut ditetapkan.

Acara ini diselengarakan oleh Kemendikbud RI, melalui Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Ditjen kebudayaan dan dilaksanakan selama 4 hari, mulai Rabu (1/8) sampai dengan Sabtu (4/8).
 
Tim WBTB Jawa Tengah terdiri atas 4 orang diantaranya Hermawati, Eny Haryanti, Bambang Permadi dan Iwuk Trika. Mereka mendapatkan jatah untuk memaparkan karya budaya didepan tim ahli, narasumber dan  seluruh peserta sidang pada hari ke 2 (dua), Kamis (2/8). Atas dasar keadilan, jadwal paparan oleh panitia dibuat secara undian yang diikuti sebanyak 34 provinsi dari seluruh Indonesia. 

Anggota tim Jateng, Bambang Permadi saat menjelaskan
sebuah karya budaya pada acara sidang
Jawa Tengah sendiri mengusulkan 10 karya budaya antara lain Gambang Semarang (Kota Semarang), Manten Kaji (Kota Semarang), Kalang Obong (Kab. Kendal), Grebeg Besar Demak (Kab. Demak), Hak Hakan (Kab. Wonosobo), Tari Topeng Endel (Kab. Tegal), Begalan (Kab. Banyumas), Lengger Banyumas (Kab. Banyumas), Kethek Ogleng (Kab. Wonogiri), dan Sedulur Sikep (Kab. Blora).

Dari ke 10 karya budaya tersebut, 9 ditetapkan dan1 ditangguhakan, yaitu lengger Banyumas karena adanya kekurangan kelengkapan data pendukung. Meskipun ditangguhkan penetapannya tetapi Lengger Banyumas sudah dicatatkan dan diagendakan tahun depan tetap diusulkan untuk ditetapkan sebagai WBTB Indonesia Tahun 2019.

Sidang Penetapan WBTB ini ditutup oleh Dirjen Kebudayaan Kemendibud RI, Hilmar Farid. Dalam sambutan penutupannya, Hilmar berpesan agar karya budaya yang sudah ditetapkan ini agar dibuatkan album atau ensiklopedi atau istilah lainnya, agar semua lapisan masyarakat bisa mengetahui kekayaan akan khasanah budaya kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar