Minggu, 28 April 2019

Menebar toleransi melalui Pondok Damai 2019

Selama 3 (tiga) hari sebuah komunitas pemuda lintas agama Semarang yang bernama Pelita (Persaudaraan Lintas Agama) mengadakan sebuah acara yang bernama Pondok Damai 2019 yang diadakan di Vihara Buddhagaya Watugong Semarang, Jumat s/d Minggu 26 - 28 April 2019.

Kegiatan yang bertema Merajut Harmoni, Memupus Prasangka ini diikuti 29 peserta yang mewakili dari semua agama dan kepercayaan yang ada di tanah air.

Kegiatan ini merupakan Pondok Damai yang ke 10 dilaksanakan beberapa komunitas pemuda di Semarang dan 2 tahun terakhir ini dilaksanakan oleh Pelita.

Yang istimewa di Pondok Damai kali ini, peserta tak hanya dari kota Semarang saja, tetapi dari kota lain di antaranya Surabaya, Jakarta dan bahkan dari luar negeri yaitu, Laos.

Koordinator Pelita, Setyawan Budi menjelaskan bahwa target awal adalah 30 peserta, karena tidak hadir 1 total peserta menjadi 29. Menurut Wawan (panggilan akrab) dibatasinya jumlah peserta karena yang dicari dalam kegiatan ini adalah kualitas, karena semua peserta diharapkan bisa aktif. Di setiap sessi, para peserta diberi kesempatan yang sama untuk sharing, berbicara satu per satu tentang alasan beragama tertentu dan pengalaman baik ataupun buruk dengan orang lain yang berbeda keyakinan.

Yang unik juga kegiatan ini tidak adanya seorang narasumber tetapi fasilitator yang memandu jalannya diskusi disetiap sessi. Disessi pertama hadir sebagai fasilitator adalah Ellen Kristi, Koordinator Nasional PHI (Persatuan Homeschooller Indonesia). Beliau hadir untuk memandu sessi perkenalan dan alasan peserta untuk beragama yang diyakini saat ini.

Dimalam kedua hadir sebagai fasilitator adalah Dr. Tedi Kholiludin. Direktur eLSA Semarang ini memandu jalannya sessi pengalaman buruk peserta dengan pemeluk agama/kepercayaan lain. Sessi ini cukup menarik karena permasalahan dan gesekan umat beragama sering kali ditimbulkan oleh kurang baiknya komunikasi di masyarakat yang heterogen.

Dibantu dari perwakilan panitia yaitu Dwie Utami Setyani yang juga Ketua Puan Hayati (Perempuan Penghayat Indonesia) Jateng, sessi ini pun memiliki aturan khusus yaitu setiap peserta dilarang untuk tersinggung dengan peserta lainnya. Disinilah sebuah pengertian dan kedewasaan beragama dalam bermasyarakat dibangun, sesuai dengan tema Pondok Damai, yaitu merajut harmoni, memupus prasangka.

Dihari terakhir, hadir rohaniawan muda dari Konghucu, Andi Gunawan sebagai fasilitator. Beliau memandu jalannya sessi bercerita pengalaman baik dengan pemeluk agama lain. Pengalaman baik ini yang harus dijaga agar selalu terpupuk rasa toleransi antar umat beragama dalam kehidupan sehari-hari.

Selain sessi indoor, kegiatan ini juga diisi dengan sessi trouring. Hari ke 2 (dua), Sabtu (27/4) para peserta Pondok Damai 2019 diajak kelilling kota Semarang untuk berkunjung 3 (tiga) ibadah, diantaranya Gereje Isa Almasih Pringgading, Klenteng Sinar Samudera (Tek Hay Bio) Gang Pinggir dan Pura Agung Giri Natha Gajahmungkur. Disetiap kunjungan mereka diterima oleh pengasuh masing-masing tempat ibadah dan diajak diskusi tentang semua hal yang berhubungan dengan agama

Kegiatan ini dibuka pada Jumat Sore (26/4) oleh Romo Narto, rohaniawan Vihara Buddhagaya Watugong. Sedangkan acara penutupan pada Minggu siang (28/4) dilakukan oleh Kepala Kesbangpol Kota Semarang Abdul Haris, SH, MM, mewakili Walikota Semarang yang tadinya direncakan akan hadir menutup kegiatan.