Minggu, 25 Agustus 2019

Grebeg Agustusan, konsep tepat mempersatukan warga

Joget Bareng setelah melaksanakan Kirab pada Upacara Adat dan Tradisi "GREBEG AGUSTUSAN 2019" yang digelar di RW 21 Tlogosari Kulon, Pedurungan, Kota Semarang, Minggu Pahing 25 Agustus 2019.

Rasa syukur dalam kebersamaan, bergotong royong melaksanakan kegiatan dalam rangka merayakan HUT ke 74 Republik Indonesia yang dikemas dalam sebuah event adat budaya nusantara.
Dirgahayu Indonesia.

Rumah Budaya. Kemarin, kini dan esok

Minggu, 18 Agustus 2019

9 Karya Budaya Jawa Tengah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2019

Sebanyak 9 (sembilan) Karya Budaya dari Provinsi Jawa Tengah akhirnya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia dalam Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia tahun 2019 di Hotel Millenium Sirih, Jakarta (16/8).

Provinsi Jawa Tengah mendapatkan undian paparan menjelang akhir sudang, tepatnya undian ke 26 dari total 31 provinsi peserta sidang penetapan WBTB tahun 2019 ini . 

Delegasi Jawa Tengah terdiri 7 orang yaitu Agung Kristianto (Kabid Pembinaan Kebudayaan Dinas Dikbud Jateng), Sulistyono (Kasi Nilai Sejarah, Dinas Dikbud Jateng), Dwi Ratna Nurhajarini (Kepala BPNB Yogyakarta), Gunawan Sudharsono (Kabag Dikbud Kesosnakertrans, Biro Kesra Setda Prov Jateng), Eny Haryanti (Kasubbag Dikbud dan Perpus Biro Kesra Setda Prov  Jateng), Mispan (Kasi Sejarah dan Tradisi Dinas Dikbud Banyumas), Iwuk Tri Kiswarsiki (Staf Dinas Dikbud Jateng) dan Bambang Permadi (Budayawan dari Perguruan Trijaya Pusat Tegal).

Berikut ini 9 karya budaya Jawa Tengah yang lolos seleksi sidang WBTB 2019.

1. Dolalak,
2. Suran Tutup Ngisor, Kab. Magelang,
3. Lengger Banyumas,
4. Jaranan Margowati Temanggung,
5. Tari Prajuritan,
6. Ngasa Kabupaten Brebes,
7. Jamu Jawa Tengah,
8. Sintren Kab. Pekalongan
9. Dakon Jawa Tengah. 

Paparan disampaikan ketua delegasi Agung Kristianto, didepan tim ahli yang berjumlah 15 orang dan disaksikan semua peserta sidang dari perwakilan provinsi se Indonesia.

Beberapa pertanyaan dari Tim Ahli dijawab dengan baik, berikut juga dengan beberapa masukkan diantaranya tentang salah satu karya budaya, yaitu Jamu. Tim ahli menyarankan agar Jawa Tengah memperkuat data-data pendukung mengenai Jamu untuk diusulkan ke UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia (World Intangible Cultural Heritage).

Dalam pembacaan hasil sidang, ke 9 karya budaya tersebut seluruhnya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Tahun 2019. Dengan demikian, sampai saat ini, sebanyak 37 Karya Budaya Jawa Tengah yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda.

Dari 272 karya budaya seluruh Indonesia yang lolos seleksi dan disidangkan, hanya 267 karya budaya saja yang ditetapkan sebagai WBTB Indonesia tahun 2019, lima karya budaya sisanya ditangguhkan, namun masih bisa diajukan pada tahun 2020 dengan memperbaiki beberapa persyaratan.

Sidang Penetapan WBTB yang digelar selama (3) tiga hari mulai Selasa (13/8) sampai dengan Jumat (16/8) ini, merupakan kegiatan tahunan Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya (Direktorat WDB), Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud RI. Acara ini ditutup secara resmi oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI, Hilmar Farid. (BP)

Minggu, 11 Agustus 2019

Banyak Unsur terlibat pada Dialog Budaya Spiritual DIY

Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yoyakarta selama 2 (dua) hari kemarin menggelar sebuah acara Dialog Budaya Spiritual D.I Yogyakarta di Burza Hotel, Yogyakarta, 6 - 7 Agustus 2019.

Rabu, 07 Agustus 2019

Berdayakan Perempuan Penghayat, PUANHAYATI Jawa Tengah gelar pelatihan membatik


Goresan canting dan malam pada untaian kain putih menjadi pusat daya tarik dokumentasi siang itu, saat puluhan wanita penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME yang mengatasnamakan diri Puanhayati memainkan jemari, menggoreskan canting dan malam di atas rerumputan hijau beratap langit di halaman tengah klub Merby demi merampungkan syal batik buatannya sendiri.

Pelatihan Membatik dan Kewirausahaan yang bertajuk “Pecinta Warisan Budaya Nusantara,” diselenggarakan oleh Puanhayati Jawa Tengah selama 2 hari mulai tanggal 3 s/d 4 Agustus 2019, diikuti oleh 38 Perempuan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME dari 10 kota/kabupaten se Jawa Tengah. Pesertanya antara lain dari kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Kendal, Kabupaten Batang, Kabupaten Sukoharjo, Surakarta, Kabupaten Klaten, Kabupaten Pati, Kabupaten Cilacap,  dan Kabupaten Banyumas.
    |
    Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan ketrampilan perempuan penghayat dalam rangka pemberdayaan perempuan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME demi kemandirian sosial,  ekonomi dan budaya. Menambah ketrampilan dan wawasan serta menumbuhkan kecintaan terhadap batik sebagai warisan budaya nusantara. “Kami mencoba menggali minat dan potensi perempuan penghayat demi kemandirian ekonomi agar bisa turut berkontribusi dalam pengembangan perekonomian daerah”,  jelas Dwi Setiyani Utami, ketua Puanhayati Jawa Tengah.

    “Rencananya pelatihan ini akan diselenggarakan beberapa tahap agar ada upaya serius yang berkesinambungan demi kemajuan perempuan penghayat dalam memberikan andil dan sumbangsih nyata untuk bangsa dan negara”, tambahnya.

    Sebagai warisan budaya asli nusantara yang sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda, perlu upaya kontinyu untuk merawat dan melestarikan hasil karya batik tulis ini. Diperlukan langkah strategis agar batik tulis bisa lebih lestari, lebih eksis di hati penggemar dan semakin dikenal berbagai kalangan lintas usia baik manca maupun domestik.. Batik tulis Kekuatan budaya bangsa ini perlu dilestarikan dan terus dikembangkan agar tetap lestari dan menjadi nilai lebih bagi bangsa Indonesia.

    Selain berkunjung ke Merby Center Kota Semarang, Puanhayati Jawa Tengah juga melakukan kunjungan kewirausahaan ke kampung batik Bubakan, untuk meninjau langsung dapur batik tulis sekaligus menimba ilmu dari salah seorang pakar batik di Semarang Bpk Eko Haryanto. Praktisi, asesor, sekaligus pendiri kampung batik.

    Hadir pula dalam acara itu Kepala Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Tengah yang diwakili oleh Ibu Eny Haryanti, S. Pd, M. Pd, Sdr. Setyawan Budi selaku koordinator PELITA (Persaudaraan Lintas Agama), Sdri Vanda dan Sdr Addo, pemilik dan pengelola Merby Center. (DSU)