Selasa, 01 Desember 2020

Bupati Karanganyar terima Piagam Watugong, pada Rakor FKUB Solo Raya

Bupati Karanganyar Juliyatmono, menerima Piagam Watugong dari Ketua FKUB Jawa Tengah Taslim Syahlan pada acara Rapat Koordinasi (Rakor) FKUB Solo Raya di Gedung Dakwah Muhammadiyah Karanganyar, Senin (30/11/2020).

Piagam yang berisi 3 (tiga) kesepakatan tentang penguatan ideologi negara, moderasi beragama, toleransi, kurukunan dan silaturahmi kebangsaan tersebut ditandatangani 44 elemen/lembaga/organisasi/mejelis agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa se Jawa Tengah pada Sabtu Wage, tanggal 10 bulan 10 tahun 2020 jam 10.10 WIB di Vihara Buddhagaya Watugong Semarang. 

Rapat Koordinasi (Rakor) Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) se Solo Raya ini digelar dengan mengambil tema ”Meningkatkan kerukunan antar umat beragama di masa pandemi covid-19 ".Acara ini dihadiri seluruh pengurus FKUB Karanganyar, Wonogiri, Klaten, Boyolali, Sragen, dan Sukoharjo.

Bupati Karanganyar dalam sambutan menyampaikan selamat datang dan terima kasih atas pelaksanaan Rakor FKUB se-Solo Raya yang diadakan di Kabupaten Karanganyar.

Dia berharap, FKUB dapat berperan dalam membangun untuk Indonesia yang lebih berkemajuan dari segi keagamaan, pembangunan, kerukunan antar umat beragama, dan semua bidang di masa pandemi covid-19.

“Dalam upaya membina kerukunan antar umat beragama kita tidak boleh saling curiga. Teruslah berpikir positif. Insya Allah kita ini akan menjadi bangsa yang besar yang memiliki peradaban, serta menjaga keberagamaan dan keragaman  masyarakat. Jika ada permasalahan, hendaknya duduk bersama untuk menyelesaikannya dengan baik-baik, diantara para tokoh agama yang ada,” katanya.

Bupati Juliyatmono mengatakan, pandemi corona yang sampai sekarang masih belum mereda telah memberi pelajaran yang sangat penting bagi masyarakat. Setiap orang perlu membangun  kerja sama dengan berbagai pihak untuk senantiasa menjaga kerukunan  antar umat beragama di masyarakat.

“FKUB merupakan sebuah organisasi yang bertujuan untuk memelihara dan mengembangkan kerukunan antar umat beragama dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Karena itu saya berharap, peran yang sangat strategis ini menjadi sarana berkhidmat bagi pengurus FKUB untuk bekerja semaksimal mungkin sehingga apa yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya,” harapnya.

Sedang Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah, Taslim Syahlan dalam sambutan mengemukakan, rakor dan silaturahmi antar anggota dan pengurus FKUB se Solo Raya ini diadakan untuk meningkatkan kerukunan antar umat beragama serta menjaga persatuan dan kesatuan yang menjadi tugas bersama.

“Silaturahmi ini dilaksanakan untuk meningkatkan kerukunan antar umat beragama serta untuk menjaga persatuan dan kesatuan  bersama. Kita semua bergerak dan berjuang bersama untuk menjaga kerukunan antar umat beragama, khususnya se-Solo Raya,” ujarnya.

Taslim Sahlan menambahkan, rakor ini diharapkan dapat mempererat tali silaturahmi maupun mempererat tali persaudaraan. “Sehingga dalam pertemuan ini nanti akan muncul ide-ide ataupun gagasan guna mewujudkan kerukunan antar umat beragama dan kepercayaan di masyarakat,” imbuhnya.

Taslim menyatakan, kualitas kedewasan dan moderasi kehidupan beragama diupayakan terus menerus dan selalu ditingkatkan seiring dengan telah ditandatanginya Piagam Watugong beberapa waktu yang lalu di Semarang oleh sejumlah elemen masyarakat yang merindukan kedamaian, ketenteraman, rasa aman, dan kerukunan hidup dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

“Kualitas kedewasan dan moderasi kehidupan beragama diupayakan terus menerus melalui pemberdayaan dan penguatan FKUB serta percepatan upaya mewujudkan kerukunan  antar umat beragama dan kepercayaan terus ditingkatkan dengan kedewasaan beragama, solidaritas, dan sinergitas  jejaring sebagai pendekatan untuk memperkokoh kerukunan antar umat beragama di  masyarakat,” jelasnya.

Taslim juga menyampaikan setiap ada undangan selalu mengajak beberapa perwakilan dari tokoh lintas agama dan kepercayaan. "Dalam beberapa acara saya tidak datang sendiri, seperti sekarang saya ajak saudara-saudara dari lintas agama dan kepercayaan, bahkan lintas mazhab yang mereka juga perwakilan dari elemen penandatanganan Piagam Watugong. Diantaranya ada Romo dari Vihara Buddhagaya Watugong, Pendeta dari Persaudaraan lintas agama (Pelita), Mubaligh dari Jemaat Ahmadiyah Indonesia, saudara dari Syiah, dan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa", imbuhnya.

Setelah dibuka Bupati, acara rakor FKUB se Solo Raya diteruskan dengan mendengarkan ceramah  umum oleh Dosen Pasca Sarjana UIN Walisongo Semarang Fadlolan Musyaffa’ dengan tema “Tuduhan Radikalisme dan Terorisme Berkedok Agama”.

Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati dan Wakil Bupati Karanganyar, Forkompinda, Kepala Kemenag Karanganyar, Ketua MUI, Ketua dan pengurus FKUB se- Solo Raya, Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah bersama elemen Toga Tomas Tingkat Provinsi, serta tamu undangan lainnya.   

 

 

 

 

sumber : wartakita.org

Selasa, 24 November 2020

GERBANG Watugong gelar "Silaturahmi Kebangsaan" di Magelang

Menindaklanjuti Piagam Watugong yang lahir pada tanggal 10 Oktober 2020, Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Tengah membentuk Gerakan Kebangsaan (GERBANG) Watugong pada acara ‘Silaturahmi Kebangsaan’ yang bertempat di Ballroom Semanggi Hotel Grand Artos, Magelang, Jawa Tengah pada Selasa, (21/11/2020).

“Gerbang Watugong dimaksudkan untuk menguatkan tiga komitmen kebangsaan yang ada di Piagam Watugong menjadi gerakan yang konkrit,” kata Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah, Taslim Syahlan setelah acara selesai.

Pada acara yang dihadiri oleh 75 orang dari 44 organisasi yang menandatangani Piagam Watugong tersebut, Taslim menjelaskan bahwa, Gerbang Watugong merupakan rumah bersama dalam membangun toleransi dan melawan intoleransi antar umat beragama dan kepercayaan khususnya di Jawa Tengah.

“Di samping menjadi gerakan konkrit, ini (Gerbang Watugong) adalah sound system kita dalam menyuarakan toleransi di Jawa Tengah ini. Sehingga, Jawa Tengah dapat menjadi teladan untuk berbagai daerah di Indonesia,” tutur Pria kelahiran Jepara tersebut. “Kami (FKUB Jawa Tengah) tidak dapat berjalan sendiri dalam menjaga toleransi di Jawa Tengah.”

Pada sesi Focus Group Discussion (FGD), Taslim secara gamblang menjelaskan kepada para hadirin bahwa Gerbang Watugong merupakan legitimasi dalam melakukan aksi nyata untuk mewujudkan kerukunan berbagai umat beragama serta penghayat kepercayaan.

Tidak sampai di situ, menurut Taslim Gerbang Watugong adalah rumah yang lebih besar dari organisasi-organisasi yang ada di Jawa Tengah khususnya organisasi yang telah menyepakati 3 komitmen kebangsaan di dalam Piagam Watugong.

Menurut inisiator Piagam Watugong, Saefullah Ahmad Faruk, Gerbang Watugong tersebut merupakan bukti keseriusan untuk menjaga kerukunan dan toleransi di negara Indonesia khususnya di Jawa Tengah.

“Setelah lebih dari satu bulan, kita perlu mengokohkan kembali kesepakatan dalam Piagam Watugong dan pengokohan itu kita lakukan dengan menyepakati Gerakan Kebangsaan saat ini,” tutur pria yang akrab dipanggil Maulana Saefullah tersebut.

Apresiasi dari Berbagai Pihak
Acara silaturahmi kebangsaan Gerbang Watugong turut dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama Jawa Tengah, Musta’in Ahmad. “Piagam Watugong dan Gerbang Watugong merupakan sejarah yang baik dalam pembangunan agama dan kepercayaan yang damai di Jawa Tengah,” ujar Musta’in saat menerima Piagam Watugong dari Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah.

Dalam acara tersebut juga diadakan webinar sekaligus penyerahan Piagam Watugong secara virtual kepada Koordinator Jaringan GUSDURian Nasional, Alissa Wahid. Dalam kesempatan tersebut, putri dari mendiang Gus Dur tersebut turut mengapresiasi atas lahirnya Piagam Watugong dan Gerbang Watugong.

“Ini merupakan suatu dobrakan bagi kita semua untuk berbagai persoalan umat beragama dan pengahayat kepercayaan yang ada di Indonesia,” kata Alissa melalui telekonferensi dengan aplikasi zoom.

Alissa yang tidak dapat hadir secara langsung dalam acara silaturahmi kebangsaan tersebut menyampaikan apresiasi karena gerakan kebangsaan yang ada di Jawa Tengah dilahirkan secara bersama-sama oleh berbagai lembaga. “Ini sangat istimewa,” ungkap putri sulung Presiden RI keempat tersebut.

“Saya turut mengapresiasi gerakan ini. Ini adalah sesuatu yang istimewa. Sebab dalam beberapa deklarasi tidak banyak menghadirkan lembaga. Tapi ini (Gerbang Watugong) sangat semarak” tuturnya.

Bagi Alissa, Piagam Watugong dan Gerbang Watugong di Jawa Tengah ini hadir di saat yang tepat. Ketika Indonesia mengalami tantangan toleransi dan pemenuhan hak kemerdekaan beragama. Dirinya berpesan bahwa Gerbang Watugong tidak hanya berhenti di Piagam Watugong tapi juga menjadi persaudaraan sejati antar umat beragama dan kepercayaan.

“Semoga ini dapat membawa kebaikan dan mejadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia,” harapnya.

Harapan yang sama juga dituturkan oleh Mubaligh Jemaat Ahmadiyah Indonesia Semarang yang sekaligus menjadi inisiator Piagam Watugong, Saefullah Ahmad Faruk. Selain menjadi contoh bagi daerah lain, ia berharap Gerbang Watugong dapat memperkuat toleransi serta bisa menjadi jembatan komunikasi dan advokasi.

Saat ditanya soal harapan ke depan terkai Gerbang Watugong, Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah, Taslim Syahlan berharap, Gerbang Watugong dapat menjadi ‘rumah bersama’ semua agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

“Ada banyak pekerjaan strategis yang dapat dilakukan. Mulai dari penguatan toleransi yang berbasis pada moderasi, penggunaan Pancasila sebagai kompas utama gerakan hingga mewujudkan kepedulian atas dasar kemanusiaan,” tutur Taslim melalui aplikasi berbagi pesan WhatsApp. [Sidik Pramono]

 






sumber : elsaonline.com

 

 

 

Minggu, 22 November 2020

Ganjar Pranowo : Siapapun yang ganggu Ideologi Pancasila, Kita Lawan.

SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo secara tegas akan melawan bagi siapapun yang mencoba mengganggu keutuhan NKRI atau merubah ideologi pancasila. Hal itu disampaikan usai menggelar sarasehan kebangsaan bersama sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat di Gedung Gradhika Bhakti Provinsi Jawa Tengah, Jumat (20/11/2020).

 “ Clear, kita akan bersikap terhadap problem yang dihadapi. Seandainya ada yang mengganggu ideologi atau mengganti NKRI dan pancasila, kita sepakat akan melawan,” tegas Ganjar.

Sarasehan Kebangsaan bertajuk “Jaga Jawa Tengah, Jaga Indonesia” itu turut menghadirkan TNI, Polri, Kejaksaan dan BIN. Tujuannya, untuk mengurai masalah yang dihadapi dan mencari solusi bersama. Ada dua hal yang ditekankan dalam pembahasan pada pertemuan ini, yakni Pandemi COVID-19 dan ideologi negara. 

“Tadi sudah disampaikan oleh Habib Luthfi bahwa pandemi ini serius, tapi persoalan ideologi jangan sampai abai,” lanjutnya.

Dari situlah, Ganjar menggelar sarasehan kebangsaan untuk meminta pendapat dari tokoh agama, tokoh masyarakat dan elemen yang lain. 

“Ada banyak urgensi, hari ini kita undang tokoh agama dan tokoh masyarakat di Jawa Tengah. Kalau saya memulai tadi, kita mendengarkan dari tokoh agama menyampaikan kondisi yang ada di umatnya masing-masing, dan tokoh masyarakat juga menyampaikan kondisi Jawa Tengah. Ada ekonomi, sosial, dan politik,” ujar Ganjar.

Ia berharap, kegiatan tersebut mampu memberikan dampak yang baik bagi Jawa Tengah. Jika memang diperlukan, kegiatan tersebut akan digelar secara rutin.

“Semua juga sepakat kondisi ini belum baik, semua akan mendukung. Pemerintah diminta merumuskan dan menggerakkan formula seluruh sektor yang ada agar semuanya bisa baik. Bukan hanya urusan lahiriah tapi juga batiniah, agar mental kita menjadi baik spiritual kita menjadi baik, nanti akan berujung kebaikan. Konsultasi ini kita lakukan agar jateng bisa menjadi tenang, senang dan semua bisa mengikuti kegiatan dengan protokol kesehatan yang baik.”  paparnya.

Senada dengan Ganjar, Kapolda Jateng, Irjen Pol Ahmad Luthfi memastikan untuk tidak akan memberi ruang bagi kelompok intoleran di Jawa Tengah, dalam hal ini Polda akan bersikap tegas.

"Tidak ada kesempatan dan ruang buat kelompok intoleran. Khususnya di wilayah Polda Jateng itu harga mati. Seluruh jajaran Kapolres sudah saya perintahkan,” ungkapnya.

Kapolda juga menambahkan bahwa saat ini pihaknya turut melakukan penanganan COVID-19  dan pengamanan Pilkada serentak 2020. 

“Pada prinsipnya kita menegakkan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” tandasnya.

 

Sumber : humas.jatengprov.go.id

Senin, 16 November 2020

Dilereng Gunung Slamet ini, Gerbang Watugong diresmikan.

Sabtu Pon (14/11), Gerakan Kebangsaan Watugong atau disingkat sebagai Gerbang Watugong resmi digunakan untuk penyebutan Gerakan Solidaritas Kemanusiaan dan Silaturahmi Kebangsaan oleh para tokoh lintas agama dan kepercayaan yang terlibat dalam Piagam Watugong.

Peresmian istilah ini dilakukan saat para tokoh lintas agama dan kepercayaan melakukan Silaturahmi Kebangsaan di Padepokan Wulan Tumanggal yang terletak dilereng Gunung Slamet tepatnya di Desa Dukuhtengah Kec. Bojong, Kab. Tegal pada hari Sabtu Pon (14/11).

Rombongan yang dipimpin oleh Ketua FKUB Jawa Tengah KH. Taslim Syahlan ini diterima langsung oleh Pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru KP Panji Suryaningrat II.

Dalam Silaturahmi Kebangsaan ini, rombongan juga berkesempatan menyerahkan Piagam Watugong kepada Pembina Perguruan Trijaya. 

"Ini menjadi salah satu agenda penyerahan Piagam Watugong yang ditandatangi oleh 44 elemen/organisasi/lembaga/majelis agama dan kepercayaan di Vihara Budhagaya Watugong Semarang, 10 Oktober 2020 lalu kepada para tokoh pimpinan organisasi, termasuk Perguruan Trijaya yang merupakan salah satu organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa tingkat pusat yang berpusat di Tegal", jelas KH. Taslim Syahlan.

Setelah penyerahan Piagam Watugong, KH. Taslim Syahlan meminta restu Romo Panji untuk meresmikan Gerbang Watugong sebagai istilah gerakan ini yang bertiujuan untuk membumikan nilai toleransi dan kerukunan antar umat beragama dan kepercayaan di Jawa Tengah khususnya dan di seluruh Indonesia pada umumnya.

Selain Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah, beberapa tokoh lintas agama yang ikut hadir di Padepokan Wulan Tumanggal antara lain Setyawan Budy (Koordinator Persaudaraan Lintas Agama), Mln. Saefullah A. Farouk (Mubaligh Daerah JAI Provinsi Jawa Tengah), Bhante Ditthisampano (Sekwil Sangha Agung Indonesia Provinsi Jawa Tengah), Bhante Jatiko (Wakil Koordinator Sangha Agung Indonesia Provinsi Jawa Tengah), Samanera Santi Phalo (Badrasanti Institute), Anton Baskoro (Humanity First Indonesia), Abdul Somad (Ketua JAI Semarang), Naufal Sebastian (LBH Semarang), Gabriela Adeline T. (Ketua Cabang PMKRI Kota Semarang), Cahya Astika T. (Sekretaris GUSDURian Semarang), Dewi Kandiati (Bendahara GUSDURian Semarang), Nuhab Mujtaba (GUSDURian Peduli), dan Iqbal Alma G.A. (Koordinator GUSDURian Unnes).


 

 

 

 

 


 

   

Selasa, 27 Oktober 2020

Kirab dan Selametan Kebangsaan, mengawali pembangunan Gereja di Semarang

Sabtu Pon, 24 Oktober 2020 menjadi hari yang bersejarah bagi jemaat GBI Tlogosari. Penantian panjang selama 22 tahun menemui jalan terang dengan diberikannya IMB baru oleh Walikota Semarang. 

Sebelum pembangunan yang sempat terhenti dimulai kembali, jemaat GBI Tlogosari mengadakan acara "Kirab Kebangsaan" dan "Selametan Kebangsaan" guna memohon doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar proses pembangunan berjalan dengan lancar serta keberadaan gereja membawa berkat bagi jemaat dan masyarakat.

Acara "Kirab Kebangsaan" dan "Selametan Kebangsaan" tidak hanya dihadiri oleh jemaat GBI Tlogosari saja, melainkan juga beberapa tokoh agama dan kepercayaan yang ada di Kota Semarang. Beberapa tokoh agama dan kepercayaan yang hadir, antara lain: I Komang Dipta Jananuraga (PHDI Kota Semarang), Pandhita Aggadhammo Warta (Ketua Magabudhi Provinsi Jawa Tengah), H. Taslim Syahlan (Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah), Maulana Saefullah A. Farouk (Mubaligh Jamaah Muslim Ahmadiyah Provinsi Jawa Tengah), Ahmad Sajidin (Koordinator GUSDURian Semarang), Habib Nuhab Mujtaba (Penggerak GUSDURian Semarang), Romo Eduardus Didik, SJ (Ketua Komisi HAK-KAS), Sr. Marlina (Suster PI), Pdt. Bambang Mulyono (Ketua Bamag Kota Semarang), Pdt. Kornelius Surman (Ketua BPD Sinode Baptis Kota Semarang), Ws. Andi Tjiok (Wakil Ketua Matakin Provinsi Jawa Tengah), KRT. Bambang Permadi (Perguruan Trijaya), dan masih banyak lagi.

Acara diawali dengan "Kirab Kebangsaan" dari seberang gereja. Urutan peserta "Kirab Kebangsaan", yakni tim rebana GUSDURian Semarang; tumpeng "Selametan Kebangsaan" yang ditandu oleh rekan-rekan GUSDURian Semarang; Pdt. Wahyudi (membawa kendi berisi air), Ibu Eunike (membawa sapu lidi), dan salah seorang jemaat (membawa teplok). Tokoh-tokoh lintas agama dan kepercayaan yang hadir berbaris rapi di belakangnya.

Pada saat memasuki halaman gereja, Pdt. Wahyudi menuangkan air di dalam kendi sebagai imbol tanah air (Indonesia). Diharapkan keberadaan GBI Tlogosari mampu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kebhinekaan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Kemudian Ibu Eunike, istri Pdt. Wahyudi, secara simbolis menyapu halaman gereja menggunakan sapu lidi yang merupakan simbolisasi untuk menyingkirkan segala halangan dan rintangan. 

Selain itu sapu lidi juga merupakan simbol akan pentingnya persatuan baik di intern jemaat GBI Tlogosari maupun antara jemaat GBI Tlogosari dengan warga sekitar. Sedangkan lampu teplok adalah simbol pelita. Harapannya perjalanan GBI Tlogosari ke depan senantiasa diterangi sehingga dapat berjalan dalam kebenaran dan keberadaan GBI Tlogosari membawa manfaat positif bagi lingkungan di sekitarnya.

Pdt. Kornelius Surman (Ketua BPD Sinode Baptis Kota Semarang) memimpin doa pembukaan. Pemotongan tumpeng dilakukan oleh H. Taslim Syahlan (Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah) dan diserahkan kepada Pdt. Wahyudi (Gembala Sidang GBI Tlogosari). Beberapa tokoh agama dan kepercayaan yang hadir secara simbolis memasang batu bata sebagai bentuk dukungan moril kepada GBI Tlogosari. Sesudahnya plang IMB baru GBI Tlogosari diserahkan secara estafet oleh tokoh-tokoh agama dan kepercayaan yang hadir kepada Pdt. Wahyudi untuk dipasang di dinding depan gereja. 

Doa penutup dipimpin oleh Maulana Saefullah A. Farouk (Mubaligh Jamaah Muslim Ahmadiyah Provinsi Jawa Tengah). Acara terakhir adalah ramah tamah. Seluruh hadirin menikmati hidangan yang disediakan termasuk warga di sekitar gereja juga mendapatkan hantaran nasi kotak yang diserahkan oleh perwakilan jemaat GBI Tlogosari dan rekan-rekan GUSDURian Semarang.

"Kiranya apa yang diharapkan melalui prosesi "Kirab Kebangsaan" dan "Selametan Kebangsaan" ini dikabulkan oleh Tuhan YME sehingga proses pembangunan GBI Tlogosari dapat berjalan lancar", jelas Setyawan Budy, Koordinator Pelita Semarang yang juga sebagai penggagas acara.

Selasa, 20 Oktober 2020

Piagam Watugong diterima Ganjar Pranowo


Senin 18 Oktober 2020 merupakan momentum penting, Gerakan Silaturrahmi dan Solidaritas Kebangsaan (GASSIK) berkesempatan menyerahkan Piagam Watugong kepada Gubernur Jawa Tengah.

Bermula dari undangan Kapolda Jawa Tengah kepada Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah untuk mengahadiri acara Deklarasi Cinta Damai di Mapolda Jawa Tengah, kemudian saya usul melalui Humas Polda Jawa Tengah agar dalam rangkaian acara ini dapat diberi kesempatan untuk menyerahkan Piagam Watugong kepada Kapolda Jawa Tengah. 

Selang sehari kemudian usul saya diterima. Minggu 17 Oktober 2020 telah ada informasi kepastian. Kapolda berkenan menerima persembahan Piagam Watugong yang diacarakan secara resmi dalam rangkaian acara Deklarasi Cinta Damai.

Informasi kepastian ini kemudian saya teruskan kepada kawan-kawan Gassik. Terutama kepada mas Setyawan Budi, koordinator PELITA Semarang. Saya minta bantuan mas Wawan (panggilan akrab mas Setyawan Budy) untuk meneruskan kepada kawan-kawan lain agar berkenan turut serta hadir di Mapolda Jawa Tengah untuk bersama-sama menyaksikan peristiwa penting ini. Beberapa kawan menyatakan bersedia untuk hadir bersama.

Senin (18/10) kami pun bersepakat kumpul di kantor secretariat Jemaat Ahmdiyah Indonesia (JAI) Jawa Tengah di Jl. Erlangga Semarang. Saya sendiri (FKUB), Romo Warto (FKUB/Budha) mas Wawan (PELITA), mas KRT. Bambang Permadi atau nama bekenya mas Boim Nusantara (Perguruan Trijaya), Mln. Saefullah Ahmad Farouk (JAI), mas Anton Baskoro (HFI) berangkat bersama menuju Mapolda di Jl. Pahlawan Semarang. Sesampai di lokas mas Eko Pujianto (FKUB/Hindu) menyusul hadir.

Sesampai di lokasi acara, Humas Polda Jawa Tengah mempersilakan kami masuk ruang acara. Setelah mengisi daftar hadir saya diarahkan untuk mengikuti rappid test covid-19 terlebih dahulu. Semantara kawan-kawan memposisikan diri duduk di roudtable yang sudah disediakan oleh panitia. Seusai menjalani rappid test saya pun diarahkan oleh Humas Polda untuk bertemu Dirbinmas Polda Jawa Tengah. Dengan begitu saya berkesempatan untuk menjelaskan cerita singkat tentang lahirnya Piagam Watugong 2020.

Setelah bercerita secukupnya kepada Dirbinmas, saya diarahkan oleh protokol untuk duduk di tempat yang sudah disediakan. Kursi pun telah ditulis “KETUA FKUB” bersebalahan dengan kursi MUI Jawa Tengah. Namun Ketua Umum MUI Jawa Tengah tidak hadir. 

Saya duduk bersebelahan dengan Ibu Padma dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah dan pak Afif yang mewakili Ka Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah. Oleh karena kursi MUI kosong, maka saya berinisiatif untuk mempersilkan Romo Anggadamo Warto untuk berkenan duduk menempati kursi Ketua Umum MUI Jawa Tengah persis di samping saya.

Di saat-saat menunggu acara dimulai, saya dihampiri oleh pengatur acara. Saya dibisiki bahwa Piagam Watugong yang  renacana saya serahkan itu yang akan  menerima bapak Gubernur Ganjar Pranowo. Hal ini atas arahan dari Kapolda Jawa Tengah. Saya pun mengiyakan sesuai pengarah acara.

Sesaat kemudian MC menginformasikan bahwa Gubernur Jawa Tengah segera memasuki ruangan. Hadirin dimohon berdiri. Kami pun serentak berdiri. Segeralah Gubernur memasuki auditorium yang diikuti rombongan terdiri dari Kapolda Jawa Tengah, Pangdam IV/Diponegoro dan Rektor UNDIP Semarang.

Rangkain acara yang dipandu oleh MC segera bergulir. Diwali dengan pengucapan Deklarasi Cinta Damai yang dipimpin oleh Rektor UNDIP Semarang. Beberapa orang perakilan organisasi diminta untuk naik ke panggung menyertai Rektor UNDIP Semarang. Saya pun bergegas naik panggung untuk bersama-sama mengucapkan Deklarasi Cinta Damai. 

Dalam durasi sekira 5 menit prosesi deklarasi selesai. Kemudian dilanjutkan penandataganan bersama naskah deklarasi yang telah dibaca bersama-sama.

Penandatanganan deklarasi yang disaksikan Gubernur Jawa Tengah, Kapolda Jawa Tengah, Pangdam IV/Diponegoro dan Rektor UNDIP Semarang selesai. Kemudian MC segera menyampaikan bahwa acara selanjutnya penyerahan Piagam Watugong dari Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah kepada Gubernur Jawa Tengah. 

Sesegera mungkin petugas yang membawa Piagam Watugong menghampiri saya untuk memberikan Piagam Watugong yang memang sudah disiapkan dengan pigura yang baik. Saya pun segera menyerahkanya kepada Gubernur Jawa Tengah, H. Ganjar Pranowo, SH., MIP.

Ketika momentum serah terima dengan pose saling memegangi pigura yang relatif besar dengan warna dominan keemasan itu saya sempatkan menyampaikan penjelasan singkat kepada pak Gubernur tentang isi dan sejumlah organisasi yang menandatangani piagam watugong itu. 

Saya pun berucap singkat, “pak Gub piagam ini kami persembahkan kepada bapak sebagai jimat untuk melawan intoleransi di Jawa Tengah ini..”. Dengan tersipu pak Gub pun mengucap, “terimakasih..terimakasih..” dengan gaya khasnya sembari mengacungkan jempol kepada hadirin dan juba media massa yang mengabadikan peristiwa ini.


Catatan kaki Ketua FKUB Jawa Tengah, Drs. KH. Taslim Syahlan, M.Si.

Rabu, 14 Oktober 2020

Polimik tempat ibadah, GITJ Dermolo Jepara mengadu Ke FKUB Jawa Tengah

Setelah Sabtu kemarin menggelar Deklarasi Piagam Watugong, Ketua FKUB Jateng dan Jaringan Lintas Kepercayaan Kota Semarang yang terdiri dari Pelita Semarang, Gusdurian Semarang, Jemaat Ahmadiyah Semarang, GBI Tlogosari dan beberapa lembaga seperti LBH Semarang dan Elsa, Rabu siang (14/10) menerima rombongan tamu dari GTIJ (Gereja Injili di Tanah Jawa) Jepara. 

Kedatangan mereka terkait dengan polemik kebebasan beribadah yang mereka alami selama bertahun-tahun. Pertemuan ini bertempat di ruang aula Jemaat Ahmadiyah Semarang dan dipimpin oleh Setyawan Budy (Kordinator Pelita Semarang). 

Di awal, Setyawan Budy membuka rapat dan memperkenalkan peserta rapat dan menyampaikan maksud diadakannya pertemuan, yakni mencari solusi bersama berkaitan dengan polemik yang sedang dihadapi oleh Gereja Injili di Tanah Jawa, di Desa Dermolo, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara.  

Pendeta Theofillus Tumijan sebagai perwakilan dari GITJ menyampaikan uraian kronologis polemik yang sedang mereka hadapi. Pendeta Theo menyampaikan apa yang dialami mereka merupakan proses yang panjang. "Secara hukum, berkaitan dengan perizinan pendirian dan penggunaan gereja begitu clear, sehingga penolakan yang dilakukan Forum Solidaritas Muslim Dermolo (FSMD) tidaklah rasional dan tidak dapat diterima dengan akal sehat", jelas Pendeta Theo. 

Seperti disampaikan, hingga saat ini jemaat Gereja belum bisa melakukan ibadah dengan tenang. "Pemerintah dan aparat setempat bukannya melaksanakan kewajiban untuk melindungi kebebasan beribadah warga negara, malah melindungi pihak yang melakukan penolakan aktivitas ibadah gereja", tambah Pendeta Theo.

Perwakilan dari Elsa, Cepprudin menyampaikan bahwa hingga saat ini pihaknya belum bisa menemui pihak yang mengaku menolak karena sangat tertutup dan terkesan sembunyi-sembunyi namun aktif untuk mempengaruhi warga setempat. "FKUB Jepara pernah menyampaikan informasi yang keliru kepada pihak Elsa tentang 90 tanda tangan yang diperoleh adalah karena dibayar", tambah Cepprudin.

Direktur LBH Semarang yang diwakili oleh Naufal Sebastian, menyampaikan bahwa perjuangan GBI Tlogosari memberikan energi positif kepada daerah lain yang mengalami persoalan serupa. "Persoalan GBI Tlogosari dan GITJ Jepara merupakan contoh kecil dari potret buramnya toleransi dan kualitas jaminan kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan masing -masing", jelas Naufal.

"Sudah seharusnya semua pihak yang berkompeten, ikut mendorong kehadiran negara agar memastikan jaminan untuk kebebasan beribadah sesuai dengan keyakinan masing sesuai amanat dari konstitusi terpenuhi pelaksanaannya", tambah Naufal.

Di akhir pertemuan, KH. Taslim Syahlan selaku Ketua FKUB Jawa Tengah menyampaikan beberapa poin, diantaranya bahwa FKUB Jateng tidak dapat mengambil keputusan karena kasus ini merupakan wilayah FKUB Jepara. FKUB Jawa Tengah akan  melakukan komunikasi dan koordinasi guna meluruskan beberapa kekeliruan berkaitan dengan kasus GITJ Jepara.

Taslim juga menambahkan, FKUB Jateng sepakat untuk bergerak bersama, membangun Jawa Tengah yang toleran. "Organ-organ yang tergabung dalam penandatanganan Piagam Watugong dapat diikutsertakan dalam upaya pengawalan", jelas Taslim. 

"Silaturahmi Kebangsaan yang menjadi salah astu point Piagam Watugong dapat dijalankan dengan berkolaborasi bersama untuk mengawal kasus-kasus intoleransi yang terjadi di wilayah Jawa tengah", tambah Taslim. (Iqbal)

Selasa, 13 Oktober 2020

Berbagai Kuliner Tradisional warnai Deklarasi Piagam Watugong

Setiap acara yang melibatkan banyak orang tak lepas dari anggaran komsumsi baik dalam bentuk makanan maupun minuman. Begitupun pada acara deklarasi Piagam Watugong yang digelar Sabtu lalu (10/10) di Pelataran Pagoda Avalokitesvara Vihara Buddhagaya Watugong, Banyumanik, Semarang.

Acara yang merupakan gagasan oleh beberapa perwakilan dari organisasi/lembaga, majelis agama dan kepercayaan di Jawa Tengah ini memang tidak dianggarkan secara spesifik. Acara ini murni dari gerakan beberapa elemen masyarakat, tanpa melibatkan instansi pemerintah, termasuk juga dalam hal pendanaan. 

 "Ini adalah usaha mandiri kita, semua mengalir baik sarana prasarana, hingga termasuk konsumsi. Untuk makan siang dan snack, adalah sumbangan dari teman-teman muda dari perwakilan elemen yang terlibat", Jelas Ketua FKUB Jawa Tengah KH. Taslim Syahlan dan juga pemrakarsa acara tersebut.

Beberapa sumbangan konsumsi tersebut diantaranya adalah makanan tradisional. Yaitu Sego Berkat Godong Jati atau biasa disingkat SBGJ, yang merupakan sumbangan dari Pelita (Persaudaraan Lintas Agama). SBGJ adalah makanan tradisonal tempo dulu yang saat ini mulai jarang ditemui apalagi di masyarakat perkotaan. 

SBGJ dibuat sekumpulan ibu-ibu di Kota Semarang, tepatnya di kelurahan Bangetayu Wetan, Kecamatan Genuk, yang sejak Covid-19 melanda negeri ini, banyak mereka yang menjadi korban pandemi secara ekonomi. Diantaranya ada yang berprofesi sebagai perias pengantin, jasa laundry, guru TK, dan juga korban dirumahkan.

"Selain untuk membantu ibu-ibu di Bangetayu yang terdampak Covid-19 secara ekonomi, kami pilih SBGJ karena menu ini sangat murah yaitu lima ribu rupiah per-bungkus, sehat dan nikmat dengan aroma khas daun jati" Jelas Setyawan Budy selaku Koordinator Pelita.

Menurut informasi, SBGJ diolah tanpa memakai micin/penyedap rasa dan juga ramah lingkungan karena tanpa menggunakan pembungkus plastik.

Berikutnya ada menu Nasi Ulam Bunga Telang yang merupakan sumbangan dari Yayasan Rasa Dharma. Meskipun sekilas mirip dengan nasi tumpeng, nasi ulam punya varian topping dan lauk yang berbeda. Ada berbagai sayuran seperti wortel serta daun bawang, kedelai sangrai, ikan asin, dan satai lilit. Nggak cuma itu, nasi ulam juga disertai berbagai macam sambal seperti sambal kelapa, sambal goreng ati dan sambal kecombrang. Pangsit dan emping melinjo pun menambah kelezatan nasi ulam.

Menariknya, nasi ulam berwarna biru muda. Konon, warna nasi yang nggak biasa ini melambangkan keanekaragaman suku dan etnis di Indonesia.Untuk menyantap kuliner ini, semua elemen harus dicampur sehingga merata. Setelah tercampur rata pun, nasi ulam akan tetap bercita rasa istimewa. Dalam satu suapan nasi ulam, sensasi pedas, gurih, wangi, sedap, dan crunchy tercampur jadi satu. Lauk nasi ulam ini berupa sate lilit yang melambangkan persatuan bangsa yang melekat erat. 

“Nasi ulam ini adalah simbol dari Bhinneka Tunggal Ika, karena beraneka ragam dan bermacam-macam dicampur jadi satu tanpa kehilangan identitas dan menciptakan rasa baru yang luar biasa,” tutur Harjanto Halim, perwakilan dari Yayasan Rasa Dharma yang juga pengusaha ternama di Kota Semarang.

Selanjutnya ada minuman khas dari India, yaitu Chai. Minuman ini adalah gabungan antara teh, susu dan bermacam rempah-rempah. Selain rasanya yang nikmat, minuman chai memiliki banyak khasiat untuk tubuh, karena kandungan rempah-rempahnya. Seperti jahe yang menghangatkan badan, dan membantu meningkatkan imunitas. Begitu juga dengan lada hitam, cengkih, kayu manis dan adas, yang selain bermanfaat untuk daya tahan tubuh, juga mengandung antioksidan yang tinggi.

Chai ini merupakan sumbangan dari JAI (Jamaat Ahmadiyah Indonesia) Semarang. Minuman ini sering dijumpai diacara-acara yang diselenggarakan oleh para Jemaat Ahmadiyah diseluruh dunia.

Minggu, 11 Oktober 2020

Piagam Watugong, simbol pemersatu masyarakat Jawa Tengah.

Sabtu, 10 Oktober 2020 pukul 10.00 WIB, perwakilan dari 44 organisasi, lembaga, komunitas, majelis agama, dan penghayat kepercayaan di Jawa Tengah berkumpul di Vihara Buddhagaya Watugong dalam acara penandatanganan dan deklarasi Piagam Watugong.
 
Acara berlangsung tepat di depan Pagoda Avalokitesvara dan dibawah pohon Boddhi yang berasal dari Sri Lanka. Pohon Boddhi ini ditanam oleh Bhante Naradha Mahathera pada 1955. Dua pohon Boddhi lainnya ditanam di Istana Bogor dan Candi Borobudur. Ketiganya merupakan pohon Boddhi pertama di Indonesia.
 
Bertindak sebagai pembawa acara, yakni Ahmad Sajidin (Koordinator GUSDURian Semarang) dan Luqyana Chaerun Nisa (Kader Penggerak GUSDURian Semarang). Gabriela Adeline T. (Ketua PC PMKRI Kota Semarang) menjadi dirigent Indonesia Raya dan Ibu Yani (Puanhayati Provinsi Jawa Tengah) memimpin pembacaan Pancasila. 
 
Sebelum dimulainya penandatanganan Piagam Watugong, H. Taslim Syahlan (Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah) memberikan sambutan mengenai maksud dan tujuan dari acara ini. Beliau menegaskan bahwa Piagam Watugong adalah simbol pemersatu masyarakat Jawa Tengah.
 
Acara penandatanganan Piagam Watugong berlangsung khidmat. Sesudah semua perwakilan organisasi, lembaga, komunitas, majelis agama, dan penghayat kepercayaan menandatangani Piagam Watugong, H. Taslim Syahlan memimpin deklarasi Piagam Watugong diikuti oleh seluruh perwakilan organisasi, lembaga, komunitas, majelis agama, dan penghayat kepercayaan yang hadir. 
 
Wayang Potehi menghibur para hadirin sembari menikmati sajian nasi ulam bunga telang, nasi bungkus daun jati, minuman cae, dan pelbagai hidangan lain. Dipenghujung acara, Romo Aggadhammo Warta (Ketua Magabudhi Provinsi Jawa Tengah) memimpin doa penutup. 
 
"Semoga Piagam Watugong ini bisa menjadi penyemangat semua elemen masyarakat khususnya para generasi muda, untuk memberikan kontribusi positif dalam usaha menciptakan perdamaian, kerukunan, dan kebhinekaan di Jawa Tengah dan lebih luas lagi di negara kita tercinta," jelas Setyawan Budy selaku Koordinator Persaudaraan Linas Agama (PELITA), yang juga salah satu penggagas Piagam Watugong ini. (SB)

Daftar 44 organisasi/lembaga yang menandatangani Piagam Watugong.
 
1.      Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Tengah
2.      Persaudaraan Lintas Agama 
3.      Jemaat Ahmadiyah Provinsi Jawa Tengah 
4.      Humanity First Indonesia
5.      Majelis Khuddamul Ahmadiyah Indonesia Provinsi Jawa Tengah
6.      Perguruan Trijaya
7.      GUSDURian Semarang
8.      PC Perhimpunan Mahasiswa Katolik Kota Semarang,
9.      Pondok Pesantren Raudhatus Solihin,
10.  Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Jawa Tengah,
11.  Dewan Pimpinan Daerah Perwakilan Umat Budha Indonesia ProvinsiJawa Tengah,
12.  Persatuan Umat Budha Indonesia Provinsi Jawa Tengah,
13.  Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Provinsi Jawa Tengah,
14.  Dewan Pimpinan Wilayah Lembaga Dakwah Islam Indonesia ProvinsiJawa Tengah,
15.  Dewan Pimpinan Wilayah Ahlul Bait Indonesia Provinsi Jawa Tengah,
16.  Majelis Nichiren Soshu Budha Dharma Indonesia ProvinsiJawa Tengah,
17.  Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang,
18.  Majelis Agama Budha Theravada Indonesia Provinsi Jawa Tengah,
19.  Yayasan Lembaga Studi Sosial dan Agama Semarang,
20.  Persekutuan Gereja-gereja Indonesia Wilayah Provinsi Jawa Tengah,
21.  Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia ProvinsiJawa Tengah,
22.  Generasi Muda Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Tengah,
23.  Perempuan Penghayat Indonesia,
24.  Sekolah Moderasi Beragama,
25.  Persatuan Warga Sapta Dharma Provinsi Jawa Tengah
26.  Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia Provinsi Jawa Tengah
27.  Yayasan Panembahan Senopati
28.  Energi Bangsa
29.  Badan Musyawarah Antar Gereja Provinsi Jawa Tengah
30.  Parisada Budha Dharma Niciren Syosyu Indonesia Provinsi Jawa Tengah
31.  Gereja Jemaat Allah Global Indonesia
32.  EIN Institute
33.  Jorrnalist Creative
34.  Perkumpulan Rasa Dharma
35.  Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia – Lembaga Bantuan Hukum Semarang
36.  PC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kota Semarang
37.  Forum Persaudaraan Antar Etnis Nusantara Provinsi Jawa Tengah
38.  Persekutuan Gereja-gereja Kristen Kota Semarang
39.  PC Himpunan Mahasiswa Budhis Indonesia Kota Semarang
40.  Forum Persaudaraan Kebangsaan Provinsi Jawa Tengah
41.  Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Pendeta Indonesia Kota Semarang
42.  Klentheng “HokTik Bio” Ambarawa
43.  Peneliti Laboratorium Kebhinekaan
44.  Penghayat Kepercayaan Paguyuban Noormanto Kota Semarang

Jumat, 25 September 2020

Setelah 22 Tahun, GBI Tlogosari akhirnya bisa melanjutkan pembangunan Gereja

Setelah selama 22 tahun, akhirnya GBI (Gereja Babtis Indonesia) Tlogosari Semarang, bisa melanjutkan pembangunan tempat ibadah (gereja). Hal ini ditandai dengan penyerahan IMB baru yang diserahkan oleh Walikota Semarang Hendrar Prihadi kepada Pendeta Wahyudi dari GBI Tlogosari.

Penyerahan IMB tersebut dilakukan bersamaan dengan acara Pelantikan Pengurus Badan Musyawarah Gereja (BAMAG) Kota Semarang di Balaikota Semarang, Kamis (24/9).

"Saya serahkan IMB untuk gereja bapak, semoga bisa membuat situasi menjadi lebih baik, jemaatnya juga semakin hebat dan gerejanya bermanfaat" pesan Hendi, sapaan akrab walikota Semarang itu saat menyerahkan IMB kepada Pendeta Wahyudi.  

Dalam kesempatan tersebut, Pendeta Wahyudi yang didampingi oleh Naufal Sebastian dari LBH Semarang dan Setyawan Budy dari Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang, merasa senang menerima IMB Baru dari Walikota Semarang. 

 "Saya sangat senang sekali, perjalanan yang panjang untuk mewujudkan impian sebuah gedung gereja, diperlukan ketekunan, semangat, dan kesetiaan" jelas Pendeta Wahyudi.

"Semua bisa kita lalui berkat dukungan Keluarga Jemaat, LBH Semarang, Pelita (Persaudaraan Lintas Agama) Semarang, Elsa Semarang dan Gusdurian Semarang yang telah membuat kami bangga dan kuat dalam menghadapi pergumulan IMB yang kedua ini, kiranya segala kebaikan teman-teman pendamping, Tuhan sendiri yang membalasnya berlipat ganda", lanjut Pendeta Wahyudi.

IMB baru ini adalah hasil dari beberapa proses terakhir yang ditempuh GBI Tlogosari. Yaitu pada saat kasus ini dimediasi oleh Komnas HAM RI pada hari Kamis (17/9) di Balaikota Semarang yang menghasilkan putusan agar GBI Tlogosari segera mengurus IMB baru, meskipun IMB lama yang terbit tahun 1998 masih sah secara hukum. 

Hasil mediasi tersebut disambut baik oleh FKUB Kota Semarang dan Kemenag Kota Semarang yang menerbitkan rekomendasi untuk GBI Tlogosari yang diterbitkan secara cepat yaitu pada hari Sabtu (19/9). 

Surat rekomendasi inilah yang menjadi syarat utama hingga Pemkot Semarang mengeluarkan IMB untuk GBI Tlogosari yang teletak di Jl. Malangsari No. 83 Semarang.  

 

 

Sabtu, 29 Agustus 2020

Karena pandemi, peringatan Asyura digelar secara sederhana oleh Muslim Syiah di Semarang.


M
erayakan sebuah perayaan merupakan hak setiap individu dan oleh siapa saja tanpa terkecuali. Tanpa memandang status agama, aliran, hingga status sosial. 

Di setiap tanggal 10 Muharram selalu diperingati saudara-saudara Syiah sebagai peringatan Asyura. Pada tanggal 10 Muharram 1442 H atau bertepatan dengan tanggal 29 Agustus 2020 ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, saudara-saudara Syiah yang ada di Semarang tetap memperingati Asyura walau di tengah keadaan Pandemi Covid-19. 

Peringatan Asyura pada tahun ini, diperingati dengan menerapkan protokol kesehatan sebagaimana yang diatur oleh pemerintah dengan mengaruskan mencuci tangan bagi para jamaah, memakai masker, menggunakan hand sanitizer, dan menjaga jarak. Acara tersebut dilakukan secara online yang disiarkan langsung melalui kanal youtube Alhurr TV dan dilaksanakan secara offline yang dihadiri oleh sekitar 50 jamaah.

Acara peringatan Asyura tersebut dimulai pada pukul 12.30 WIB. Peringatan tersebut dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Tengah, Taslim Syahlan. Dalam sambutannya, Taslim mengatakan, dirinya sangat bersyukur dapat datang dan bisa berkumpul dengan saudara-saudara Syiah dalam acara peringatan Asyura pada tahun ini. 

“Ini merupakan sebuah hal yang luar biasa bagi saya. Kesempatan yang sangat membanggakan bagi saya. Saya sangat senang sekali bisa datang dan dapat mejalin silaturahim dengan panjenengan semua.” sambut Taslim. 

Menurut Taslim, kegiatan yang dilakukan oleh saudara-saudara Syiah tersebut harus diapresiasi oleh semua pihak. “Siapapun tidak boleh merepresi perayaan agama yang itu diperbolehkan untuk diekspresikan semua warga negara,” tuturnya. Kita semua boleh mengekspresikan ekspresi keberagamaan masing-masing.

“Pada bulan Muharram tepatnya pada tanggal 10 Muharram ini, memang menjadi sejarah yang sangat memilukan dalam bagi kita semua. Tapi ada sisi lain yang dapat kita pelajari dari sejarah kelam tersebut. Kita perlu berkaca kepada Kuda kesayangan Nabi Muhammad SAW yang sangat mencintai Sayyidina Husen. Ketika Sayyidina Husen sudah tidak berdaya kuda itu tetap menunjukan kasih sayangnya. Karena itu kami sowan dengan saudara-saudara semuannya pada acara ini paling tidak untuk meneladani kuda Nabi Muhammad SAW yang notabene adalah binatang, tapi kasih sayangnya luar biasa kepada Sayyidina Husen. Maka dari itu, hadirnya kami di sini adalah untuk mengapresiasi bahwa acara yang digelar pada siang ini merupakan kegiatan yang baik, kegiatan yang harus apresiasi semua orang. Serta acara ini menjadi ekspresi kasih sayang kita kepada semua umat manusia bukan hanya kepada umat islam,” jelas Taslim di hadapan jamaah yang datang.

Dalam akhir sambutannya, Taslim menuturkan, Tragedi Karbala di satu sisi adalah kepiluan tetapi mari kita bangkit dan menjadi satu sisi untuk mendisemenasi kemanuasiaan kita terhadap semua umat manusia. “Pesan khusus dari saya, mari kita bersama-sama menjadi perekat dan jangan sampai menjadi penyekat di antara kita. Kita ini sejatinya saudara, dan mari bersama menguatkan ukhuwah kita baik ukhuwah islamiyyah, ukhuwah insaniyah, dan ukhuwah wathoniyyah,” jelas Taslim.

Setelah sambutan oleh Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah, acara dilanjutkan dengan tausiyah dari Sayyid Thoha Musawa. Dalam pembukaan tausiyahnya, Sayyid Thoha menjelaskan, Karbala mengandung pengajaran bagi kita semua bahwa kita tidak dapat menginjak-injak hak orang lain dengan mengatasnamakan agama. Namun kenyataannya, apa yang mereka lakukan (menginjak-injak hak) sangat jauh dari ajaran agama. “Siapapun yang berusaha memaksakan keherndaknya, menekan ekspresi keberagamaan manusia merdeka dan bertindak semena-mena bukanlah ajaran serta jauh dari agama yang di bawa Nabi Muhammad SAW yang mulia.”

Dalam tausiyahnya, Sayyid Thoha di samping menjelaskan tentang kejadian Karbala, beliau mengapresiasi kehadiran Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah. Menurut beliau, keberagaman merupakan sunnatullah yang tidak dapat dihindari, akan tetapi kita tidak boleh mengintervensi dan memakasa manusia merdeka untuk mengikuti kehendak orang lain. “Masing-masing kita tidak boleh diintervensi dalam mengekspresikan ekspresi keagamaan,” tutur Sayyid Thoha.

Acara peringatan Asyura yang diadakan oleh saudara-saudara Syiah Kota Semarang berlangsung dengan lancar dan aman tanpa kendala apapun. Para jamaah begitu hikmat mengikuti prosesi peringatan Asyura. Khususnya pada saat acara Maqtal yang dilangsungkan pasca tausiyah selesai. Acara Maqtal dipimpin oleh Sayyid M. Ridho Assegaf. Para jamaah larut dalam kesedihan saat menghayati pembacaan maqtal tersebut. Pada saat acara Maqtal, seluruh jamaah tenggelam dalam tangis dan begitu khusyuk. Setelah acara Maqtal, acara dilanjutkan dengan pembacaan Syair yang dipimpin Sayyid Alwi Assegaf, dilanjutkan dengan doa dan ziarah yang dipimpin oeh Sayyid Lutfi Al-Idrus dan diakhiri dengan makan bersama oleh semua jamaah.

Pada acara tersebut, di samping dihadiri oleh Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah,turut hadir Koordinator Persaudaraan Lintas Agama (PELITA), Humanity First Indonesia, Perguruan Trijaya, Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Semarang, Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang, Lembaga Pers Mahasiswa Justisia yang juga mengapresiasi dan mengikuti acara peringatan Asyuro hingga akhir acara.

Selasa, 25 Agustus 2020

Silaturahim Kebhinnekaan FKUB Jateng ke Pondok Pesantren Darut Taqrib, Jepara

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah bekerjasama dengan Ponpes Darut Taghrib (DATA) Jepara menggelar kegiatan Silaturahim Kebhinekaan pada hari Selasa, 25 Agustus di Aula Ponpes Darut Taqhrib (DATA) yang dihadiri ratusan warga termasuk tokoh agama, penghayat kepercayaan, dan tokoh masyarakat di Kabupaten Jepara dan Provinsi Jawa Tengah. 

Silaturahim yang mengangkat tema "Memperkokoh Kerukunan Menuju Kejayaan dan Kesejahteraan di Masa Depan" itu dihadiri oleh Ketua FKUB Jepara, DR. KH Mashudi, M.Ag sekaligus ketua MUI Jepara, Ketua FKUB Jateng Drs. KH. Taslim Sahlan, MSI, Bupati Jepara H Dian Kristiandi S.SOS, Kapolres Jepara AKBP. Nuryanto Dwi Nugroho, SIK, M.H dan Dandim 0719/Jepara Letkol Arm Suharyanto S.SOS. Hadir dalam acara itu perwakilan enam penganut agama dan empat penghayat kepercayaan, antara lain dari Walubi, Permabudhi, Magabudhi, Pelita, GUSDURian, PMKRI, Hikmahbudhi, MNSBDI, JAI, Humanity First Indonesia, Perguruan Trijaya, dsb. 

Dalam sambutannya, Ustadz Miqdad Turkan sebagai pemimpin Ponpes memuji kehadiran para tokoh, aparat, ulama dan elemen masyarakat di sebuah ponpes Syiah, yang menurutnya, adalah satu tindakan berani dan harus diapresiasi. Dia menegaskan bahwa gerakan intoleran yang mengatasnamakan agama adalah penyebab terjadinya intoleransi yang membawa nama Tuhan.

Anggota Dewan Syuro ABI Pusat itu juga bersyukur atas terselenggaranya acara dan berharap gerakan anti intoleransi akan menjadi gerakan massif yang menyebar ke seluruh Jawa Tengah. "Ini adalah kita yang sama, saudara dalam kemanusiaan", tegasnya.

Ustad Miqdad juga mengucapkan terimaksih kepada seluruh aparat keamanan negara yang hadir dalam mengawal acara peringatan malam-malam Asyura. "Terima kasih kami ucapkan kepada jajaran Kapolres dan Kapolsek Jepara yang menjaga acara-acara Asyura di beberapa wilayah Jepara. Meski kita beda dalam agama namun kita tetap menjaga NKRI," pungkasnya.

Sementara itu ketua FKUB Jepara, DR. KH Mashudi, M.Ag dalam sambutannya mengatakan acara ini dibuat dalam rangka menjaga kerukunan dan merajut kebersamaan. 

"Kerukunan biasa dimulai dengan komunikasi dan silaturahmi. Keragaman adalah kenicayaan dan kita tidak bisa hidup sendiri, harus rukun dan toleran," katanya. "Bangsa yang besar tidak boleh dicabik-cabik oleh segelintir orang yang tidak jelas siapa pemesannya dan apa pesanannya."

"Di Jepara tidak boleh ada darah tercecer sia-sia," katanya menyinggung demo terbaru oleh sekelompok orang di desa Slagi yang mengibarkan bendera tertentu. "Ini adalah pembelajaran penting dalam toleransi sampai akhir hayat," tandasnya. 

Usai sambutan KH Mashudi, acara dilanjutkan dengan penyerahan secara simbolis Alat Pelindung Diri (ABD) kepada Ponpes DATA dari FKUB Jateng via Bupati Jepara dan diterima oleh Ustad Miqdad.

Ketua FKUB Jateng, Drs. KH. Taslim Sahlan, MSI yang hadir disertai 21 personil yang mayoritas adalah para pengusaha serta perwakilan organisasi, lembaga, maupun komunitas mengatakan, "Jawa Tengah harus terjaga dari sikap intoleransi. Semua elemen bangsa, apapun agama dan keyakinannya, tetap kita ayomi sekaligus saling menggayomi."

"Harus saling memperkuat dan memperekat kebangsaan. NU dengan ke-NU-annya, Syiah dengan ke-Syiah-annya dan tetap menjadi bagian warga NKRI dan bangsa Indonesia," tegasnya.

Bupati Jepara, Bapak H Dian Kristiandi S.SOS juga menegaskan, "Republik Indonesia berdiri bukan hanya untuk kelompok dan suku tertentu. Juga budaya dan adat istiadatnya adalah modal dasar berdirinya kemerdekaan.”

Dia juga menegaskan tidak ada paksaan adat istiadat, budaya dan ideologi sembari menyinggung konflik berkepanjangan di Suriah, yang menurutnya ada unsur paksaan dari kelompok tertentu dalam konflik tersebut. 

Mengakhiri sambutannya, Bupati Jepara menegaskan bahwa forum –forum seperti ini sangat dibutuhkan sebagai bagian dari sebuah kebutuhan bersama. 

Acara yang digelar pada pukul 10:25 pagi waktu setempat itu berakhir pada pukul 11:40 dengan pembacaan doa keselamatan bangsa oleh perwakilan Kemenag Jepara yang dilanjutkan dengan sholat Dhuhur berjamaah. Dalam shalat, setiap jamaah melaksanakan shalat sesuai dengan fikih masing-masing.

Acara yang digelar para pemuka agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) bersama Ponpes DATA itu diharapkan menjadi salah satu kunci dalam menjaga kondusifitas wilayah yang dihuni oleh masyarakat dengan keberagaman agama dan suku. Serta mendukung program pemerintah untuk mengantisipasi merebaknya paham radikalisme. 

Acara ini juga diharap mampu menciptakan suasana aman, nyaman, rukun dan damai dalam masyarakat heterogen, yang merupakan ciri khas Bangsa Indonesia.

Sebelum ini, beberapa peristiwa persekusi terjadi di sejumlah tempat, seperti Solo, yang dilakukan oleh kelompok tertentu menunjukkan adanya sentimen SARA untuk mencitakan konflik horisontal. 

Di masa depan, diharapkan kegiatan silaturahmi seperti ini tidak berhenti di panggung seremonial belaka tapi berlanjut dalam tindak kehidupan sehari-hari, dengan berbagai kegiatan nyata dan kesepakatan-kesepakatan supaya kerukunan antar umat beragama dapat terwujud dengan baik. (SB)