Sabtu, 29 Agustus 2020

Karena pandemi, peringatan Asyura digelar secara sederhana oleh Muslim Syiah di Semarang.


M
erayakan sebuah perayaan merupakan hak setiap individu dan oleh siapa saja tanpa terkecuali. Tanpa memandang status agama, aliran, hingga status sosial. 

Di setiap tanggal 10 Muharram selalu diperingati saudara-saudara Syiah sebagai peringatan Asyura. Pada tanggal 10 Muharram 1442 H atau bertepatan dengan tanggal 29 Agustus 2020 ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, saudara-saudara Syiah yang ada di Semarang tetap memperingati Asyura walau di tengah keadaan Pandemi Covid-19. 

Peringatan Asyura pada tahun ini, diperingati dengan menerapkan protokol kesehatan sebagaimana yang diatur oleh pemerintah dengan mengaruskan mencuci tangan bagi para jamaah, memakai masker, menggunakan hand sanitizer, dan menjaga jarak. Acara tersebut dilakukan secara online yang disiarkan langsung melalui kanal youtube Alhurr TV dan dilaksanakan secara offline yang dihadiri oleh sekitar 50 jamaah.

Acara peringatan Asyura tersebut dimulai pada pukul 12.30 WIB. Peringatan tersebut dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Tengah, Taslim Syahlan. Dalam sambutannya, Taslim mengatakan, dirinya sangat bersyukur dapat datang dan bisa berkumpul dengan saudara-saudara Syiah dalam acara peringatan Asyura pada tahun ini. 

“Ini merupakan sebuah hal yang luar biasa bagi saya. Kesempatan yang sangat membanggakan bagi saya. Saya sangat senang sekali bisa datang dan dapat mejalin silaturahim dengan panjenengan semua.” sambut Taslim. 

Menurut Taslim, kegiatan yang dilakukan oleh saudara-saudara Syiah tersebut harus diapresiasi oleh semua pihak. “Siapapun tidak boleh merepresi perayaan agama yang itu diperbolehkan untuk diekspresikan semua warga negara,” tuturnya. Kita semua boleh mengekspresikan ekspresi keberagamaan masing-masing.

“Pada bulan Muharram tepatnya pada tanggal 10 Muharram ini, memang menjadi sejarah yang sangat memilukan dalam bagi kita semua. Tapi ada sisi lain yang dapat kita pelajari dari sejarah kelam tersebut. Kita perlu berkaca kepada Kuda kesayangan Nabi Muhammad SAW yang sangat mencintai Sayyidina Husen. Ketika Sayyidina Husen sudah tidak berdaya kuda itu tetap menunjukan kasih sayangnya. Karena itu kami sowan dengan saudara-saudara semuannya pada acara ini paling tidak untuk meneladani kuda Nabi Muhammad SAW yang notabene adalah binatang, tapi kasih sayangnya luar biasa kepada Sayyidina Husen. Maka dari itu, hadirnya kami di sini adalah untuk mengapresiasi bahwa acara yang digelar pada siang ini merupakan kegiatan yang baik, kegiatan yang harus apresiasi semua orang. Serta acara ini menjadi ekspresi kasih sayang kita kepada semua umat manusia bukan hanya kepada umat islam,” jelas Taslim di hadapan jamaah yang datang.

Dalam akhir sambutannya, Taslim menuturkan, Tragedi Karbala di satu sisi adalah kepiluan tetapi mari kita bangkit dan menjadi satu sisi untuk mendisemenasi kemanuasiaan kita terhadap semua umat manusia. “Pesan khusus dari saya, mari kita bersama-sama menjadi perekat dan jangan sampai menjadi penyekat di antara kita. Kita ini sejatinya saudara, dan mari bersama menguatkan ukhuwah kita baik ukhuwah islamiyyah, ukhuwah insaniyah, dan ukhuwah wathoniyyah,” jelas Taslim.

Setelah sambutan oleh Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah, acara dilanjutkan dengan tausiyah dari Sayyid Thoha Musawa. Dalam pembukaan tausiyahnya, Sayyid Thoha menjelaskan, Karbala mengandung pengajaran bagi kita semua bahwa kita tidak dapat menginjak-injak hak orang lain dengan mengatasnamakan agama. Namun kenyataannya, apa yang mereka lakukan (menginjak-injak hak) sangat jauh dari ajaran agama. “Siapapun yang berusaha memaksakan keherndaknya, menekan ekspresi keberagamaan manusia merdeka dan bertindak semena-mena bukanlah ajaran serta jauh dari agama yang di bawa Nabi Muhammad SAW yang mulia.”

Dalam tausiyahnya, Sayyid Thoha di samping menjelaskan tentang kejadian Karbala, beliau mengapresiasi kehadiran Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah. Menurut beliau, keberagaman merupakan sunnatullah yang tidak dapat dihindari, akan tetapi kita tidak boleh mengintervensi dan memakasa manusia merdeka untuk mengikuti kehendak orang lain. “Masing-masing kita tidak boleh diintervensi dalam mengekspresikan ekspresi keagamaan,” tutur Sayyid Thoha.

Acara peringatan Asyura yang diadakan oleh saudara-saudara Syiah Kota Semarang berlangsung dengan lancar dan aman tanpa kendala apapun. Para jamaah begitu hikmat mengikuti prosesi peringatan Asyura. Khususnya pada saat acara Maqtal yang dilangsungkan pasca tausiyah selesai. Acara Maqtal dipimpin oleh Sayyid M. Ridho Assegaf. Para jamaah larut dalam kesedihan saat menghayati pembacaan maqtal tersebut. Pada saat acara Maqtal, seluruh jamaah tenggelam dalam tangis dan begitu khusyuk. Setelah acara Maqtal, acara dilanjutkan dengan pembacaan Syair yang dipimpin Sayyid Alwi Assegaf, dilanjutkan dengan doa dan ziarah yang dipimpin oeh Sayyid Lutfi Al-Idrus dan diakhiri dengan makan bersama oleh semua jamaah.

Pada acara tersebut, di samping dihadiri oleh Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah,turut hadir Koordinator Persaudaraan Lintas Agama (PELITA), Humanity First Indonesia, Perguruan Trijaya, Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Semarang, Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang, Lembaga Pers Mahasiswa Justisia yang juga mengapresiasi dan mengikuti acara peringatan Asyuro hingga akhir acara.

Selasa, 25 Agustus 2020

Silaturahim Kebhinnekaan FKUB Jateng ke Pondok Pesantren Darut Taqrib, Jepara

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah bekerjasama dengan Ponpes Darut Taghrib (DATA) Jepara menggelar kegiatan Silaturahim Kebhinekaan pada hari Selasa, 25 Agustus di Aula Ponpes Darut Taqhrib (DATA) yang dihadiri ratusan warga termasuk tokoh agama, penghayat kepercayaan, dan tokoh masyarakat di Kabupaten Jepara dan Provinsi Jawa Tengah. 

Silaturahim yang mengangkat tema "Memperkokoh Kerukunan Menuju Kejayaan dan Kesejahteraan di Masa Depan" itu dihadiri oleh Ketua FKUB Jepara, DR. KH Mashudi, M.Ag sekaligus ketua MUI Jepara, Ketua FKUB Jateng Drs. KH. Taslim Sahlan, MSI, Bupati Jepara H Dian Kristiandi S.SOS, Kapolres Jepara AKBP. Nuryanto Dwi Nugroho, SIK, M.H dan Dandim 0719/Jepara Letkol Arm Suharyanto S.SOS. Hadir dalam acara itu perwakilan enam penganut agama dan empat penghayat kepercayaan, antara lain dari Walubi, Permabudhi, Magabudhi, Pelita, GUSDURian, PMKRI, Hikmahbudhi, MNSBDI, JAI, Humanity First Indonesia, Perguruan Trijaya, dsb. 

Dalam sambutannya, Ustadz Miqdad Turkan sebagai pemimpin Ponpes memuji kehadiran para tokoh, aparat, ulama dan elemen masyarakat di sebuah ponpes Syiah, yang menurutnya, adalah satu tindakan berani dan harus diapresiasi. Dia menegaskan bahwa gerakan intoleran yang mengatasnamakan agama adalah penyebab terjadinya intoleransi yang membawa nama Tuhan.

Anggota Dewan Syuro ABI Pusat itu juga bersyukur atas terselenggaranya acara dan berharap gerakan anti intoleransi akan menjadi gerakan massif yang menyebar ke seluruh Jawa Tengah. "Ini adalah kita yang sama, saudara dalam kemanusiaan", tegasnya.

Ustad Miqdad juga mengucapkan terimaksih kepada seluruh aparat keamanan negara yang hadir dalam mengawal acara peringatan malam-malam Asyura. "Terima kasih kami ucapkan kepada jajaran Kapolres dan Kapolsek Jepara yang menjaga acara-acara Asyura di beberapa wilayah Jepara. Meski kita beda dalam agama namun kita tetap menjaga NKRI," pungkasnya.

Sementara itu ketua FKUB Jepara, DR. KH Mashudi, M.Ag dalam sambutannya mengatakan acara ini dibuat dalam rangka menjaga kerukunan dan merajut kebersamaan. 

"Kerukunan biasa dimulai dengan komunikasi dan silaturahmi. Keragaman adalah kenicayaan dan kita tidak bisa hidup sendiri, harus rukun dan toleran," katanya. "Bangsa yang besar tidak boleh dicabik-cabik oleh segelintir orang yang tidak jelas siapa pemesannya dan apa pesanannya."

"Di Jepara tidak boleh ada darah tercecer sia-sia," katanya menyinggung demo terbaru oleh sekelompok orang di desa Slagi yang mengibarkan bendera tertentu. "Ini adalah pembelajaran penting dalam toleransi sampai akhir hayat," tandasnya. 

Usai sambutan KH Mashudi, acara dilanjutkan dengan penyerahan secara simbolis Alat Pelindung Diri (ABD) kepada Ponpes DATA dari FKUB Jateng via Bupati Jepara dan diterima oleh Ustad Miqdad.

Ketua FKUB Jateng, Drs. KH. Taslim Sahlan, MSI yang hadir disertai 21 personil yang mayoritas adalah para pengusaha serta perwakilan organisasi, lembaga, maupun komunitas mengatakan, "Jawa Tengah harus terjaga dari sikap intoleransi. Semua elemen bangsa, apapun agama dan keyakinannya, tetap kita ayomi sekaligus saling menggayomi."

"Harus saling memperkuat dan memperekat kebangsaan. NU dengan ke-NU-annya, Syiah dengan ke-Syiah-annya dan tetap menjadi bagian warga NKRI dan bangsa Indonesia," tegasnya.

Bupati Jepara, Bapak H Dian Kristiandi S.SOS juga menegaskan, "Republik Indonesia berdiri bukan hanya untuk kelompok dan suku tertentu. Juga budaya dan adat istiadatnya adalah modal dasar berdirinya kemerdekaan.”

Dia juga menegaskan tidak ada paksaan adat istiadat, budaya dan ideologi sembari menyinggung konflik berkepanjangan di Suriah, yang menurutnya ada unsur paksaan dari kelompok tertentu dalam konflik tersebut. 

Mengakhiri sambutannya, Bupati Jepara menegaskan bahwa forum –forum seperti ini sangat dibutuhkan sebagai bagian dari sebuah kebutuhan bersama. 

Acara yang digelar pada pukul 10:25 pagi waktu setempat itu berakhir pada pukul 11:40 dengan pembacaan doa keselamatan bangsa oleh perwakilan Kemenag Jepara yang dilanjutkan dengan sholat Dhuhur berjamaah. Dalam shalat, setiap jamaah melaksanakan shalat sesuai dengan fikih masing-masing.

Acara yang digelar para pemuka agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) bersama Ponpes DATA itu diharapkan menjadi salah satu kunci dalam menjaga kondusifitas wilayah yang dihuni oleh masyarakat dengan keberagaman agama dan suku. Serta mendukung program pemerintah untuk mengantisipasi merebaknya paham radikalisme. 

Acara ini juga diharap mampu menciptakan suasana aman, nyaman, rukun dan damai dalam masyarakat heterogen, yang merupakan ciri khas Bangsa Indonesia.

Sebelum ini, beberapa peristiwa persekusi terjadi di sejumlah tempat, seperti Solo, yang dilakukan oleh kelompok tertentu menunjukkan adanya sentimen SARA untuk mencitakan konflik horisontal. 

Di masa depan, diharapkan kegiatan silaturahmi seperti ini tidak berhenti di panggung seremonial belaka tapi berlanjut dalam tindak kehidupan sehari-hari, dengan berbagai kegiatan nyata dan kesepakatan-kesepakatan supaya kerukunan antar umat beragama dapat terwujud dengan baik. (SB)

Rabu, 05 Agustus 2020

Gelar Baksos, Lembaga Keagamaan Buddha gandeng FKUB dan komunitas lintas agama

Lembaga Keagamaan Buddha dan Bimas Buddha Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah, menggelar bakti sosial di Vihara Vajra Bumi Dharma Sugata, Bringin, Kab. Semarang, kemarin Rabu, 5 Juli 2020. 

Lembaga Keagamaan Buddha dalam hal ini DPD Walubi Jawa Tengah dalam melaksanakan bantuan kemanusiaan ini menggandeng FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Provinsi Jawa Tengah, FKUB Kab. Semarang, Pelita (Persaudaraan Lintas Agama) Semarang, Humanity First Indonesia, Gusdurian Semarang, JAI Salatiga, dan Perguruan Trijaya. 

Bakti Sosial dalam bentuk sembako dan alat kesehatan penunjang protokol pencegahan Covid-19 ini ditujukan untuk beberapa Vihara dan Penyuluh Buddha di 4 Wilayah yaitu, Kab. Semarang, Salatiga, Boyololi dan Grobogan. Semoga bermanfaat dalam upaya pencegahan perluasan Covid-19. 

Ketua DPD WALUBI Provinsi Jawa Tengah Tanto Sugito, menyampaikan terimakasih kepada semua pendukung di kegiatan sosial ini. 

Meskipun acara ini mendadak, tetapi kehadiran Pengurus FKUB baik Provinsi Jawa Tengah maupun Kabupaten Semarang serta beberapa organisasi lintas agama dan kepercayaan semakin menguatkan kebersamaan dan kerukunan atar umat agama yang ada di Jawa Tengah ini, khususnya di Kabupaten Semarang", jelas Tanto. 

Pembimas Buddha Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah, Sutarso, menjelaskan bahwa untuk agama Budha di Kanwil Kemenag Jawa Tengah terdiri dari 22 Satker, tetapi jumlah Kota dan Kabupaten total ada 35, yang dikategorikan menjadi 6 eks karisedanan. 35 Kabupaten ini rencana akan dibantu Walubi baik sembako maupun alat kesehatan protokol covid-19.

"Kami sangat berterimakasih kepada Walubi yang selalu bersemangat melakukan bakti sosial, dan ini sangat bagus karena didukung oleh FKUB dan organisasi kepemudaaan lintas agama dan kepercayaan", jelas Sutarso.

Lebih lanjut Sutarso menjelaskan bahwa kegiatan bersama ini akan semakin meningkatkan kerukunan yang diaplikasikan di Jawa Tengah. Hal ini sesuai dengan program Kementerian Agama yaitu Peningkatan Kualitas Keimanan, Kerukunan, dan Pendidikan.

"Mari kita senantiasa tingkatkan kerukunan, sentuhan kasih yang diberikan secara kuantitas memang tidak seberapa, tetapi kebersamaan ini kita tonjolkan maka akan diikuti umat didaerah ini, sehingga kebersamaan tetap terjaga", pungkas Sutarso.

Ketua FKUB Jawa Tengah, KH. Taslim Syahlan menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Walubi Jawa Tengah dan Bimas Budha Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah yang sekaligus menggandeng organisasi lintas agama dan kepercayaan dalam melaksanakan bakti soial ini. 

"Perjumpaan lintas agama dan kepercayaan terhadap Tuhan YME ini merupakan salah satu wujud nyata dalam memperkokoh kerukunan umat beragama" jelas Taslim.

"Kokohnya kerukunan umat beragama tentu menjadi modal sosial yang penting dalam merealisasikan Jawa Tengah yang gayeng dan majeng" tukas Ketua FKUB Jawa Tengah ini.

Minggu, 02 Agustus 2020

HF Indonesia Gandeng FKUB Jawa Tengah dan Komunitas Lintas Agama untuk "HFBerQurban"

Humanity First (HF) Indonesia kembali melakukan aksi bantuan kemanusiaan berupa penyaluran hewan qurban ke Masjid Jami Baitussalam di Desa Bringin, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara.

Dalam aksi sosial ini, HF Indonesia menggandeng FKUB Jawa Tengah, Persaudaraaan Lintas Agama (Pelita) Semarang, GUSDURian Semarang, Yayasan Panembahan Senopati Semarang (YPSS), JAI Semarang dan Penghayat Kepercayaan Perguruan Trijaya.

"Kami lakukan ini sebagai bentuk empati terhadap masyarakat dimasa pandemi Covid-19, dan kami lakukan bersama ini untuk menjalin kebersamaan dan kerukunan berbangsa khususnya di Jawa Tengah", Jelas Anton Baskoro, Kabid Finance HF Indonesia wilayah Jawa Tengah.

Lebih lanjut lagi Anton mengatakan bahwa selain di Jepara, kami juga menyalurkan hewan qurban ke Demak, Gorontalo dan Masamba. "Dua tempat terakhir ini kami pilih karena kita tahu dua wilayah tersebut terakhir dilanda bencana alam, baik gempa bumi maupun banjir bandang", lanjut Anton.

Ketua FKUB Jawa Tengah, H. Taslim Syahlan menyampaikan apresiasi terhadap HF Indonesia yang telah menggandeng FKUB dan beberapa organisasi lintas agama dan kepercayaan dalam malaksanakan bantuan kemanusiaan ini.

"Semoga pola kebersamaan ini bisa terus belangsung dan menjadi contoh, untuk lebih meningkatkan rasa persatuan dan kerukunan antar sesama manusia, tak membeda-bedakan agama dan kepercayaan", jelas Taslim.