Selasa, 20 Oktober 2020

Piagam Watugong diterima Ganjar Pranowo


Senin 18 Oktober 2020 merupakan momentum penting, Gerakan Silaturrahmi dan Solidaritas Kebangsaan (GASSIK) berkesempatan menyerahkan Piagam Watugong kepada Gubernur Jawa Tengah.

Bermula dari undangan Kapolda Jawa Tengah kepada Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah untuk mengahadiri acara Deklarasi Cinta Damai di Mapolda Jawa Tengah, kemudian saya usul melalui Humas Polda Jawa Tengah agar dalam rangkaian acara ini dapat diberi kesempatan untuk menyerahkan Piagam Watugong kepada Kapolda Jawa Tengah. 

Selang sehari kemudian usul saya diterima. Minggu 17 Oktober 2020 telah ada informasi kepastian. Kapolda berkenan menerima persembahan Piagam Watugong yang diacarakan secara resmi dalam rangkaian acara Deklarasi Cinta Damai.

Informasi kepastian ini kemudian saya teruskan kepada kawan-kawan Gassik. Terutama kepada mas Setyawan Budi, koordinator PELITA Semarang. Saya minta bantuan mas Wawan (panggilan akrab mas Setyawan Budy) untuk meneruskan kepada kawan-kawan lain agar berkenan turut serta hadir di Mapolda Jawa Tengah untuk bersama-sama menyaksikan peristiwa penting ini. Beberapa kawan menyatakan bersedia untuk hadir bersama.

Senin (18/10) kami pun bersepakat kumpul di kantor secretariat Jemaat Ahmdiyah Indonesia (JAI) Jawa Tengah di Jl. Erlangga Semarang. Saya sendiri (FKUB), Romo Warto (FKUB/Budha) mas Wawan (PELITA), mas KRT. Bambang Permadi atau nama bekenya mas Boim Nusantara (Perguruan Trijaya), Mln. Saefullah Ahmad Farouk (JAI), mas Anton Baskoro (HFI) berangkat bersama menuju Mapolda di Jl. Pahlawan Semarang. Sesampai di lokas mas Eko Pujianto (FKUB/Hindu) menyusul hadir.

Sesampai di lokasi acara, Humas Polda Jawa Tengah mempersilakan kami masuk ruang acara. Setelah mengisi daftar hadir saya diarahkan untuk mengikuti rappid test covid-19 terlebih dahulu. Semantara kawan-kawan memposisikan diri duduk di roudtable yang sudah disediakan oleh panitia. Seusai menjalani rappid test saya pun diarahkan oleh Humas Polda untuk bertemu Dirbinmas Polda Jawa Tengah. Dengan begitu saya berkesempatan untuk menjelaskan cerita singkat tentang lahirnya Piagam Watugong 2020.

Setelah bercerita secukupnya kepada Dirbinmas, saya diarahkan oleh protokol untuk duduk di tempat yang sudah disediakan. Kursi pun telah ditulis “KETUA FKUB” bersebalahan dengan kursi MUI Jawa Tengah. Namun Ketua Umum MUI Jawa Tengah tidak hadir. 

Saya duduk bersebelahan dengan Ibu Padma dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah dan pak Afif yang mewakili Ka Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah. Oleh karena kursi MUI kosong, maka saya berinisiatif untuk mempersilkan Romo Anggadamo Warto untuk berkenan duduk menempati kursi Ketua Umum MUI Jawa Tengah persis di samping saya.

Di saat-saat menunggu acara dimulai, saya dihampiri oleh pengatur acara. Saya dibisiki bahwa Piagam Watugong yang  renacana saya serahkan itu yang akan  menerima bapak Gubernur Ganjar Pranowo. Hal ini atas arahan dari Kapolda Jawa Tengah. Saya pun mengiyakan sesuai pengarah acara.

Sesaat kemudian MC menginformasikan bahwa Gubernur Jawa Tengah segera memasuki ruangan. Hadirin dimohon berdiri. Kami pun serentak berdiri. Segeralah Gubernur memasuki auditorium yang diikuti rombongan terdiri dari Kapolda Jawa Tengah, Pangdam IV/Diponegoro dan Rektor UNDIP Semarang.

Rangkain acara yang dipandu oleh MC segera bergulir. Diwali dengan pengucapan Deklarasi Cinta Damai yang dipimpin oleh Rektor UNDIP Semarang. Beberapa orang perakilan organisasi diminta untuk naik ke panggung menyertai Rektor UNDIP Semarang. Saya pun bergegas naik panggung untuk bersama-sama mengucapkan Deklarasi Cinta Damai. 

Dalam durasi sekira 5 menit prosesi deklarasi selesai. Kemudian dilanjutkan penandataganan bersama naskah deklarasi yang telah dibaca bersama-sama.

Penandatanganan deklarasi yang disaksikan Gubernur Jawa Tengah, Kapolda Jawa Tengah, Pangdam IV/Diponegoro dan Rektor UNDIP Semarang selesai. Kemudian MC segera menyampaikan bahwa acara selanjutnya penyerahan Piagam Watugong dari Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah kepada Gubernur Jawa Tengah. 

Sesegera mungkin petugas yang membawa Piagam Watugong menghampiri saya untuk memberikan Piagam Watugong yang memang sudah disiapkan dengan pigura yang baik. Saya pun segera menyerahkanya kepada Gubernur Jawa Tengah, H. Ganjar Pranowo, SH., MIP.

Ketika momentum serah terima dengan pose saling memegangi pigura yang relatif besar dengan warna dominan keemasan itu saya sempatkan menyampaikan penjelasan singkat kepada pak Gubernur tentang isi dan sejumlah organisasi yang menandatangani piagam watugong itu. 

Saya pun berucap singkat, “pak Gub piagam ini kami persembahkan kepada bapak sebagai jimat untuk melawan intoleransi di Jawa Tengah ini..”. Dengan tersipu pak Gub pun mengucap, “terimakasih..terimakasih..” dengan gaya khasnya sembari mengacungkan jempol kepada hadirin dan juba media massa yang mengabadikan peristiwa ini.


Catatan kaki Ketua FKUB Jawa Tengah, Drs. KH. Taslim Syahlan, M.Si.

Rabu, 14 Oktober 2020

Polimik tempat ibadah, GITJ Dermolo Jepara mengadu Ke FKUB Jawa Tengah

Setelah Sabtu kemarin menggelar Deklarasi Piagam Watugong, Ketua FKUB Jateng dan Jaringan Lintas Kepercayaan Kota Semarang yang terdiri dari Pelita Semarang, Gusdurian Semarang, Jemaat Ahmadiyah Semarang, GBI Tlogosari dan beberapa lembaga seperti LBH Semarang dan Elsa, Rabu siang (14/10) menerima rombongan tamu dari GTIJ (Gereja Injili di Tanah Jawa) Jepara. 

Kedatangan mereka terkait dengan polemik kebebasan beribadah yang mereka alami selama bertahun-tahun. Pertemuan ini bertempat di ruang aula Jemaat Ahmadiyah Semarang dan dipimpin oleh Setyawan Budy (Kordinator Pelita Semarang). 

Di awal, Setyawan Budy membuka rapat dan memperkenalkan peserta rapat dan menyampaikan maksud diadakannya pertemuan, yakni mencari solusi bersama berkaitan dengan polemik yang sedang dihadapi oleh Gereja Injili di Tanah Jawa, di Desa Dermolo, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara.  

Pendeta Theofillus Tumijan sebagai perwakilan dari GITJ menyampaikan uraian kronologis polemik yang sedang mereka hadapi. Pendeta Theo menyampaikan apa yang dialami mereka merupakan proses yang panjang. "Secara hukum, berkaitan dengan perizinan pendirian dan penggunaan gereja begitu clear, sehingga penolakan yang dilakukan Forum Solidaritas Muslim Dermolo (FSMD) tidaklah rasional dan tidak dapat diterima dengan akal sehat", jelas Pendeta Theo. 

Seperti disampaikan, hingga saat ini jemaat Gereja belum bisa melakukan ibadah dengan tenang. "Pemerintah dan aparat setempat bukannya melaksanakan kewajiban untuk melindungi kebebasan beribadah warga negara, malah melindungi pihak yang melakukan penolakan aktivitas ibadah gereja", tambah Pendeta Theo.

Perwakilan dari Elsa, Cepprudin menyampaikan bahwa hingga saat ini pihaknya belum bisa menemui pihak yang mengaku menolak karena sangat tertutup dan terkesan sembunyi-sembunyi namun aktif untuk mempengaruhi warga setempat. "FKUB Jepara pernah menyampaikan informasi yang keliru kepada pihak Elsa tentang 90 tanda tangan yang diperoleh adalah karena dibayar", tambah Cepprudin.

Direktur LBH Semarang yang diwakili oleh Naufal Sebastian, menyampaikan bahwa perjuangan GBI Tlogosari memberikan energi positif kepada daerah lain yang mengalami persoalan serupa. "Persoalan GBI Tlogosari dan GITJ Jepara merupakan contoh kecil dari potret buramnya toleransi dan kualitas jaminan kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan masing -masing", jelas Naufal.

"Sudah seharusnya semua pihak yang berkompeten, ikut mendorong kehadiran negara agar memastikan jaminan untuk kebebasan beribadah sesuai dengan keyakinan masing sesuai amanat dari konstitusi terpenuhi pelaksanaannya", tambah Naufal.

Di akhir pertemuan, KH. Taslim Syahlan selaku Ketua FKUB Jawa Tengah menyampaikan beberapa poin, diantaranya bahwa FKUB Jateng tidak dapat mengambil keputusan karena kasus ini merupakan wilayah FKUB Jepara. FKUB Jawa Tengah akan  melakukan komunikasi dan koordinasi guna meluruskan beberapa kekeliruan berkaitan dengan kasus GITJ Jepara.

Taslim juga menambahkan, FKUB Jateng sepakat untuk bergerak bersama, membangun Jawa Tengah yang toleran. "Organ-organ yang tergabung dalam penandatanganan Piagam Watugong dapat diikutsertakan dalam upaya pengawalan", jelas Taslim. 

"Silaturahmi Kebangsaan yang menjadi salah astu point Piagam Watugong dapat dijalankan dengan berkolaborasi bersama untuk mengawal kasus-kasus intoleransi yang terjadi di wilayah Jawa tengah", tambah Taslim. (Iqbal)

Selasa, 13 Oktober 2020

Berbagai Kuliner Tradisional warnai Deklarasi Piagam Watugong

Setiap acara yang melibatkan banyak orang tak lepas dari anggaran komsumsi baik dalam bentuk makanan maupun minuman. Begitupun pada acara deklarasi Piagam Watugong yang digelar Sabtu lalu (10/10) di Pelataran Pagoda Avalokitesvara Vihara Buddhagaya Watugong, Banyumanik, Semarang.

Acara yang merupakan gagasan oleh beberapa perwakilan dari organisasi/lembaga, majelis agama dan kepercayaan di Jawa Tengah ini memang tidak dianggarkan secara spesifik. Acara ini murni dari gerakan beberapa elemen masyarakat, tanpa melibatkan instansi pemerintah, termasuk juga dalam hal pendanaan. 

 "Ini adalah usaha mandiri kita, semua mengalir baik sarana prasarana, hingga termasuk konsumsi. Untuk makan siang dan snack, adalah sumbangan dari teman-teman muda dari perwakilan elemen yang terlibat", Jelas Ketua FKUB Jawa Tengah KH. Taslim Syahlan dan juga pemrakarsa acara tersebut.

Beberapa sumbangan konsumsi tersebut diantaranya adalah makanan tradisional. Yaitu Sego Berkat Godong Jati atau biasa disingkat SBGJ, yang merupakan sumbangan dari Pelita (Persaudaraan Lintas Agama). SBGJ adalah makanan tradisonal tempo dulu yang saat ini mulai jarang ditemui apalagi di masyarakat perkotaan. 

SBGJ dibuat sekumpulan ibu-ibu di Kota Semarang, tepatnya di kelurahan Bangetayu Wetan, Kecamatan Genuk, yang sejak Covid-19 melanda negeri ini, banyak mereka yang menjadi korban pandemi secara ekonomi. Diantaranya ada yang berprofesi sebagai perias pengantin, jasa laundry, guru TK, dan juga korban dirumahkan.

"Selain untuk membantu ibu-ibu di Bangetayu yang terdampak Covid-19 secara ekonomi, kami pilih SBGJ karena menu ini sangat murah yaitu lima ribu rupiah per-bungkus, sehat dan nikmat dengan aroma khas daun jati" Jelas Setyawan Budy selaku Koordinator Pelita.

Menurut informasi, SBGJ diolah tanpa memakai micin/penyedap rasa dan juga ramah lingkungan karena tanpa menggunakan pembungkus plastik.

Berikutnya ada menu Nasi Ulam Bunga Telang yang merupakan sumbangan dari Yayasan Rasa Dharma. Meskipun sekilas mirip dengan nasi tumpeng, nasi ulam punya varian topping dan lauk yang berbeda. Ada berbagai sayuran seperti wortel serta daun bawang, kedelai sangrai, ikan asin, dan satai lilit. Nggak cuma itu, nasi ulam juga disertai berbagai macam sambal seperti sambal kelapa, sambal goreng ati dan sambal kecombrang. Pangsit dan emping melinjo pun menambah kelezatan nasi ulam.

Menariknya, nasi ulam berwarna biru muda. Konon, warna nasi yang nggak biasa ini melambangkan keanekaragaman suku dan etnis di Indonesia.Untuk menyantap kuliner ini, semua elemen harus dicampur sehingga merata. Setelah tercampur rata pun, nasi ulam akan tetap bercita rasa istimewa. Dalam satu suapan nasi ulam, sensasi pedas, gurih, wangi, sedap, dan crunchy tercampur jadi satu. Lauk nasi ulam ini berupa sate lilit yang melambangkan persatuan bangsa yang melekat erat. 

“Nasi ulam ini adalah simbol dari Bhinneka Tunggal Ika, karena beraneka ragam dan bermacam-macam dicampur jadi satu tanpa kehilangan identitas dan menciptakan rasa baru yang luar biasa,” tutur Harjanto Halim, perwakilan dari Yayasan Rasa Dharma yang juga pengusaha ternama di Kota Semarang.

Selanjutnya ada minuman khas dari India, yaitu Chai. Minuman ini adalah gabungan antara teh, susu dan bermacam rempah-rempah. Selain rasanya yang nikmat, minuman chai memiliki banyak khasiat untuk tubuh, karena kandungan rempah-rempahnya. Seperti jahe yang menghangatkan badan, dan membantu meningkatkan imunitas. Begitu juga dengan lada hitam, cengkih, kayu manis dan adas, yang selain bermanfaat untuk daya tahan tubuh, juga mengandung antioksidan yang tinggi.

Chai ini merupakan sumbangan dari JAI (Jamaat Ahmadiyah Indonesia) Semarang. Minuman ini sering dijumpai diacara-acara yang diselenggarakan oleh para Jemaat Ahmadiyah diseluruh dunia.

Minggu, 11 Oktober 2020

Piagam Watugong, simbol pemersatu masyarakat Jawa Tengah.

Sabtu, 10 Oktober 2020 pukul 10.00 WIB, perwakilan dari 44 organisasi, lembaga, komunitas, majelis agama, dan penghayat kepercayaan di Jawa Tengah berkumpul di Vihara Buddhagaya Watugong dalam acara penandatanganan dan deklarasi Piagam Watugong.
 
Acara berlangsung tepat di depan Pagoda Avalokitesvara dan dibawah pohon Boddhi yang berasal dari Sri Lanka. Pohon Boddhi ini ditanam oleh Bhante Naradha Mahathera pada 1955. Dua pohon Boddhi lainnya ditanam di Istana Bogor dan Candi Borobudur. Ketiganya merupakan pohon Boddhi pertama di Indonesia.
 
Bertindak sebagai pembawa acara, yakni Ahmad Sajidin (Koordinator GUSDURian Semarang) dan Luqyana Chaerun Nisa (Kader Penggerak GUSDURian Semarang). Gabriela Adeline T. (Ketua PC PMKRI Kota Semarang) menjadi dirigent Indonesia Raya dan Ibu Yani (Puanhayati Provinsi Jawa Tengah) memimpin pembacaan Pancasila. 
 
Sebelum dimulainya penandatanganan Piagam Watugong, H. Taslim Syahlan (Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah) memberikan sambutan mengenai maksud dan tujuan dari acara ini. Beliau menegaskan bahwa Piagam Watugong adalah simbol pemersatu masyarakat Jawa Tengah.
 
Acara penandatanganan Piagam Watugong berlangsung khidmat. Sesudah semua perwakilan organisasi, lembaga, komunitas, majelis agama, dan penghayat kepercayaan menandatangani Piagam Watugong, H. Taslim Syahlan memimpin deklarasi Piagam Watugong diikuti oleh seluruh perwakilan organisasi, lembaga, komunitas, majelis agama, dan penghayat kepercayaan yang hadir. 
 
Wayang Potehi menghibur para hadirin sembari menikmati sajian nasi ulam bunga telang, nasi bungkus daun jati, minuman cae, dan pelbagai hidangan lain. Dipenghujung acara, Romo Aggadhammo Warta (Ketua Magabudhi Provinsi Jawa Tengah) memimpin doa penutup. 
 
"Semoga Piagam Watugong ini bisa menjadi penyemangat semua elemen masyarakat khususnya para generasi muda, untuk memberikan kontribusi positif dalam usaha menciptakan perdamaian, kerukunan, dan kebhinekaan di Jawa Tengah dan lebih luas lagi di negara kita tercinta," jelas Setyawan Budy selaku Koordinator Persaudaraan Linas Agama (PELITA), yang juga salah satu penggagas Piagam Watugong ini. (SB)

Daftar 44 organisasi/lembaga yang menandatangani Piagam Watugong.
 
1.      Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Tengah
2.      Persaudaraan Lintas Agama 
3.      Jemaat Ahmadiyah Provinsi Jawa Tengah 
4.      Humanity First Indonesia
5.      Majelis Khuddamul Ahmadiyah Indonesia Provinsi Jawa Tengah
6.      Perguruan Trijaya
7.      GUSDURian Semarang
8.      PC Perhimpunan Mahasiswa Katolik Kota Semarang,
9.      Pondok Pesantren Raudhatus Solihin,
10.  Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Jawa Tengah,
11.  Dewan Pimpinan Daerah Perwakilan Umat Budha Indonesia ProvinsiJawa Tengah,
12.  Persatuan Umat Budha Indonesia Provinsi Jawa Tengah,
13.  Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Provinsi Jawa Tengah,
14.  Dewan Pimpinan Wilayah Lembaga Dakwah Islam Indonesia ProvinsiJawa Tengah,
15.  Dewan Pimpinan Wilayah Ahlul Bait Indonesia Provinsi Jawa Tengah,
16.  Majelis Nichiren Soshu Budha Dharma Indonesia ProvinsiJawa Tengah,
17.  Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang,
18.  Majelis Agama Budha Theravada Indonesia Provinsi Jawa Tengah,
19.  Yayasan Lembaga Studi Sosial dan Agama Semarang,
20.  Persekutuan Gereja-gereja Indonesia Wilayah Provinsi Jawa Tengah,
21.  Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia ProvinsiJawa Tengah,
22.  Generasi Muda Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Tengah,
23.  Perempuan Penghayat Indonesia,
24.  Sekolah Moderasi Beragama,
25.  Persatuan Warga Sapta Dharma Provinsi Jawa Tengah
26.  Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia Provinsi Jawa Tengah
27.  Yayasan Panembahan Senopati
28.  Energi Bangsa
29.  Badan Musyawarah Antar Gereja Provinsi Jawa Tengah
30.  Parisada Budha Dharma Niciren Syosyu Indonesia Provinsi Jawa Tengah
31.  Gereja Jemaat Allah Global Indonesia
32.  EIN Institute
33.  Jorrnalist Creative
34.  Perkumpulan Rasa Dharma
35.  Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia – Lembaga Bantuan Hukum Semarang
36.  PC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kota Semarang
37.  Forum Persaudaraan Antar Etnis Nusantara Provinsi Jawa Tengah
38.  Persekutuan Gereja-gereja Kristen Kota Semarang
39.  PC Himpunan Mahasiswa Budhis Indonesia Kota Semarang
40.  Forum Persaudaraan Kebangsaan Provinsi Jawa Tengah
41.  Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Pendeta Indonesia Kota Semarang
42.  Klentheng “HokTik Bio” Ambarawa
43.  Peneliti Laboratorium Kebhinekaan
44.  Penghayat Kepercayaan Paguyuban Noormanto Kota Semarang