Selasa, 13 Oktober 2020

Berbagai Kuliner Tradisional warnai Deklarasi Piagam Watugong

Setiap acara yang melibatkan banyak orang tak lepas dari anggaran komsumsi baik dalam bentuk makanan maupun minuman. Begitupun pada acara deklarasi Piagam Watugong yang digelar Sabtu lalu (10/10) di Pelataran Pagoda Avalokitesvara Vihara Buddhagaya Watugong, Banyumanik, Semarang.

Acara yang merupakan gagasan oleh beberapa perwakilan dari organisasi/lembaga, majelis agama dan kepercayaan di Jawa Tengah ini memang tidak dianggarkan secara spesifik. Acara ini murni dari gerakan beberapa elemen masyarakat, tanpa melibatkan instansi pemerintah, termasuk juga dalam hal pendanaan. 

 "Ini adalah usaha mandiri kita, semua mengalir baik sarana prasarana, hingga termasuk konsumsi. Untuk makan siang dan snack, adalah sumbangan dari teman-teman muda dari perwakilan elemen yang terlibat", Jelas Ketua FKUB Jawa Tengah KH. Taslim Syahlan dan juga pemrakarsa acara tersebut.

Beberapa sumbangan konsumsi tersebut diantaranya adalah makanan tradisional. Yaitu Sego Berkat Godong Jati atau biasa disingkat SBGJ, yang merupakan sumbangan dari Pelita (Persaudaraan Lintas Agama). SBGJ adalah makanan tradisonal tempo dulu yang saat ini mulai jarang ditemui apalagi di masyarakat perkotaan. 

SBGJ dibuat sekumpulan ibu-ibu di Kota Semarang, tepatnya di kelurahan Bangetayu Wetan, Kecamatan Genuk, yang sejak Covid-19 melanda negeri ini, banyak mereka yang menjadi korban pandemi secara ekonomi. Diantaranya ada yang berprofesi sebagai perias pengantin, jasa laundry, guru TK, dan juga korban dirumahkan.

"Selain untuk membantu ibu-ibu di Bangetayu yang terdampak Covid-19 secara ekonomi, kami pilih SBGJ karena menu ini sangat murah yaitu lima ribu rupiah per-bungkus, sehat dan nikmat dengan aroma khas daun jati" Jelas Setyawan Budy selaku Koordinator Pelita.

Menurut informasi, SBGJ diolah tanpa memakai micin/penyedap rasa dan juga ramah lingkungan karena tanpa menggunakan pembungkus plastik.

Berikutnya ada menu Nasi Ulam Bunga Telang yang merupakan sumbangan dari Yayasan Rasa Dharma. Meskipun sekilas mirip dengan nasi tumpeng, nasi ulam punya varian topping dan lauk yang berbeda. Ada berbagai sayuran seperti wortel serta daun bawang, kedelai sangrai, ikan asin, dan satai lilit. Nggak cuma itu, nasi ulam juga disertai berbagai macam sambal seperti sambal kelapa, sambal goreng ati dan sambal kecombrang. Pangsit dan emping melinjo pun menambah kelezatan nasi ulam.

Menariknya, nasi ulam berwarna biru muda. Konon, warna nasi yang nggak biasa ini melambangkan keanekaragaman suku dan etnis di Indonesia.Untuk menyantap kuliner ini, semua elemen harus dicampur sehingga merata. Setelah tercampur rata pun, nasi ulam akan tetap bercita rasa istimewa. Dalam satu suapan nasi ulam, sensasi pedas, gurih, wangi, sedap, dan crunchy tercampur jadi satu. Lauk nasi ulam ini berupa sate lilit yang melambangkan persatuan bangsa yang melekat erat. 

“Nasi ulam ini adalah simbol dari Bhinneka Tunggal Ika, karena beraneka ragam dan bermacam-macam dicampur jadi satu tanpa kehilangan identitas dan menciptakan rasa baru yang luar biasa,” tutur Harjanto Halim, perwakilan dari Yayasan Rasa Dharma yang juga pengusaha ternama di Kota Semarang.

Selanjutnya ada minuman khas dari India, yaitu Chai. Minuman ini adalah gabungan antara teh, susu dan bermacam rempah-rempah. Selain rasanya yang nikmat, minuman chai memiliki banyak khasiat untuk tubuh, karena kandungan rempah-rempahnya. Seperti jahe yang menghangatkan badan, dan membantu meningkatkan imunitas. Begitu juga dengan lada hitam, cengkih, kayu manis dan adas, yang selain bermanfaat untuk daya tahan tubuh, juga mengandung antioksidan yang tinggi.

Chai ini merupakan sumbangan dari JAI (Jamaat Ahmadiyah Indonesia) Semarang. Minuman ini sering dijumpai diacara-acara yang diselenggarakan oleh para Jemaat Ahmadiyah diseluruh dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar