Selasa, 27 Oktober 2020

Kirab dan Selametan Kebangsaan, mengawali pembangunan Gereja di Semarang

Sabtu Pon, 24 Oktober 2020 menjadi hari yang bersejarah bagi jemaat GBI Tlogosari. Penantian panjang selama 22 tahun menemui jalan terang dengan diberikannya IMB baru oleh Walikota Semarang. 

Sebelum pembangunan yang sempat terhenti dimulai kembali, jemaat GBI Tlogosari mengadakan acara "Kirab Kebangsaan" dan "Selametan Kebangsaan" guna memohon doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar proses pembangunan berjalan dengan lancar serta keberadaan gereja membawa berkat bagi jemaat dan masyarakat.

Acara "Kirab Kebangsaan" dan "Selametan Kebangsaan" tidak hanya dihadiri oleh jemaat GBI Tlogosari saja, melainkan juga beberapa tokoh agama dan kepercayaan yang ada di Kota Semarang. Beberapa tokoh agama dan kepercayaan yang hadir, antara lain: I Komang Dipta Jananuraga (PHDI Kota Semarang), Pandhita Aggadhammo Warta (Ketua Magabudhi Provinsi Jawa Tengah), H. Taslim Syahlan (Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah), Maulana Saefullah A. Farouk (Mubaligh Jamaah Muslim Ahmadiyah Provinsi Jawa Tengah), Ahmad Sajidin (Koordinator GUSDURian Semarang), Habib Nuhab Mujtaba (Penggerak GUSDURian Semarang), Romo Eduardus Didik, SJ (Ketua Komisi HAK-KAS), Sr. Marlina (Suster PI), Pdt. Bambang Mulyono (Ketua Bamag Kota Semarang), Pdt. Kornelius Surman (Ketua BPD Sinode Baptis Kota Semarang), Ws. Andi Tjiok (Wakil Ketua Matakin Provinsi Jawa Tengah), KRT. Bambang Permadi (Perguruan Trijaya), dan masih banyak lagi.

Acara diawali dengan "Kirab Kebangsaan" dari seberang gereja. Urutan peserta "Kirab Kebangsaan", yakni tim rebana GUSDURian Semarang; tumpeng "Selametan Kebangsaan" yang ditandu oleh rekan-rekan GUSDURian Semarang; Pdt. Wahyudi (membawa kendi berisi air), Ibu Eunike (membawa sapu lidi), dan salah seorang jemaat (membawa teplok). Tokoh-tokoh lintas agama dan kepercayaan yang hadir berbaris rapi di belakangnya.

Pada saat memasuki halaman gereja, Pdt. Wahyudi menuangkan air di dalam kendi sebagai imbol tanah air (Indonesia). Diharapkan keberadaan GBI Tlogosari mampu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kebhinekaan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Kemudian Ibu Eunike, istri Pdt. Wahyudi, secara simbolis menyapu halaman gereja menggunakan sapu lidi yang merupakan simbolisasi untuk menyingkirkan segala halangan dan rintangan. 

Selain itu sapu lidi juga merupakan simbol akan pentingnya persatuan baik di intern jemaat GBI Tlogosari maupun antara jemaat GBI Tlogosari dengan warga sekitar. Sedangkan lampu teplok adalah simbol pelita. Harapannya perjalanan GBI Tlogosari ke depan senantiasa diterangi sehingga dapat berjalan dalam kebenaran dan keberadaan GBI Tlogosari membawa manfaat positif bagi lingkungan di sekitarnya.

Pdt. Kornelius Surman (Ketua BPD Sinode Baptis Kota Semarang) memimpin doa pembukaan. Pemotongan tumpeng dilakukan oleh H. Taslim Syahlan (Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah) dan diserahkan kepada Pdt. Wahyudi (Gembala Sidang GBI Tlogosari). Beberapa tokoh agama dan kepercayaan yang hadir secara simbolis memasang batu bata sebagai bentuk dukungan moril kepada GBI Tlogosari. Sesudahnya plang IMB baru GBI Tlogosari diserahkan secara estafet oleh tokoh-tokoh agama dan kepercayaan yang hadir kepada Pdt. Wahyudi untuk dipasang di dinding depan gereja. 

Doa penutup dipimpin oleh Maulana Saefullah A. Farouk (Mubaligh Jamaah Muslim Ahmadiyah Provinsi Jawa Tengah). Acara terakhir adalah ramah tamah. Seluruh hadirin menikmati hidangan yang disediakan termasuk warga di sekitar gereja juga mendapatkan hantaran nasi kotak yang diserahkan oleh perwakilan jemaat GBI Tlogosari dan rekan-rekan GUSDURian Semarang.

"Kiranya apa yang diharapkan melalui prosesi "Kirab Kebangsaan" dan "Selametan Kebangsaan" ini dikabulkan oleh Tuhan YME sehingga proses pembangunan GBI Tlogosari dapat berjalan lancar", jelas Setyawan Budy, Koordinator Pelita Semarang yang juga sebagai penggagas acara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar