Selasa, 24 November 2020

GERBANG Watugong gelar "Silaturahmi Kebangsaan" di Magelang

Menindaklanjuti Piagam Watugong yang lahir pada tanggal 10 Oktober 2020, Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Tengah membentuk Gerakan Kebangsaan (GERBANG) Watugong pada acara ‘Silaturahmi Kebangsaan’ yang bertempat di Ballroom Semanggi Hotel Grand Artos, Magelang, Jawa Tengah pada Selasa, (21/11/2020).

“Gerbang Watugong dimaksudkan untuk menguatkan tiga komitmen kebangsaan yang ada di Piagam Watugong menjadi gerakan yang konkrit,” kata Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah, Taslim Syahlan setelah acara selesai.

Pada acara yang dihadiri oleh 75 orang dari 44 organisasi yang menandatangani Piagam Watugong tersebut, Taslim menjelaskan bahwa, Gerbang Watugong merupakan rumah bersama dalam membangun toleransi dan melawan intoleransi antar umat beragama dan kepercayaan khususnya di Jawa Tengah.

“Di samping menjadi gerakan konkrit, ini (Gerbang Watugong) adalah sound system kita dalam menyuarakan toleransi di Jawa Tengah ini. Sehingga, Jawa Tengah dapat menjadi teladan untuk berbagai daerah di Indonesia,” tutur Pria kelahiran Jepara tersebut. “Kami (FKUB Jawa Tengah) tidak dapat berjalan sendiri dalam menjaga toleransi di Jawa Tengah.”

Pada sesi Focus Group Discussion (FGD), Taslim secara gamblang menjelaskan kepada para hadirin bahwa Gerbang Watugong merupakan legitimasi dalam melakukan aksi nyata untuk mewujudkan kerukunan berbagai umat beragama serta penghayat kepercayaan.

Tidak sampai di situ, menurut Taslim Gerbang Watugong adalah rumah yang lebih besar dari organisasi-organisasi yang ada di Jawa Tengah khususnya organisasi yang telah menyepakati 3 komitmen kebangsaan di dalam Piagam Watugong.

Menurut inisiator Piagam Watugong, Saefullah Ahmad Faruk, Gerbang Watugong tersebut merupakan bukti keseriusan untuk menjaga kerukunan dan toleransi di negara Indonesia khususnya di Jawa Tengah.

“Setelah lebih dari satu bulan, kita perlu mengokohkan kembali kesepakatan dalam Piagam Watugong dan pengokohan itu kita lakukan dengan menyepakati Gerakan Kebangsaan saat ini,” tutur pria yang akrab dipanggil Maulana Saefullah tersebut.

Apresiasi dari Berbagai Pihak
Acara silaturahmi kebangsaan Gerbang Watugong turut dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama Jawa Tengah, Musta’in Ahmad. “Piagam Watugong dan Gerbang Watugong merupakan sejarah yang baik dalam pembangunan agama dan kepercayaan yang damai di Jawa Tengah,” ujar Musta’in saat menerima Piagam Watugong dari Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah.

Dalam acara tersebut juga diadakan webinar sekaligus penyerahan Piagam Watugong secara virtual kepada Koordinator Jaringan GUSDURian Nasional, Alissa Wahid. Dalam kesempatan tersebut, putri dari mendiang Gus Dur tersebut turut mengapresiasi atas lahirnya Piagam Watugong dan Gerbang Watugong.

“Ini merupakan suatu dobrakan bagi kita semua untuk berbagai persoalan umat beragama dan pengahayat kepercayaan yang ada di Indonesia,” kata Alissa melalui telekonferensi dengan aplikasi zoom.

Alissa yang tidak dapat hadir secara langsung dalam acara silaturahmi kebangsaan tersebut menyampaikan apresiasi karena gerakan kebangsaan yang ada di Jawa Tengah dilahirkan secara bersama-sama oleh berbagai lembaga. “Ini sangat istimewa,” ungkap putri sulung Presiden RI keempat tersebut.

“Saya turut mengapresiasi gerakan ini. Ini adalah sesuatu yang istimewa. Sebab dalam beberapa deklarasi tidak banyak menghadirkan lembaga. Tapi ini (Gerbang Watugong) sangat semarak” tuturnya.

Bagi Alissa, Piagam Watugong dan Gerbang Watugong di Jawa Tengah ini hadir di saat yang tepat. Ketika Indonesia mengalami tantangan toleransi dan pemenuhan hak kemerdekaan beragama. Dirinya berpesan bahwa Gerbang Watugong tidak hanya berhenti di Piagam Watugong tapi juga menjadi persaudaraan sejati antar umat beragama dan kepercayaan.

“Semoga ini dapat membawa kebaikan dan mejadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia,” harapnya.

Harapan yang sama juga dituturkan oleh Mubaligh Jemaat Ahmadiyah Indonesia Semarang yang sekaligus menjadi inisiator Piagam Watugong, Saefullah Ahmad Faruk. Selain menjadi contoh bagi daerah lain, ia berharap Gerbang Watugong dapat memperkuat toleransi serta bisa menjadi jembatan komunikasi dan advokasi.

Saat ditanya soal harapan ke depan terkai Gerbang Watugong, Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah, Taslim Syahlan berharap, Gerbang Watugong dapat menjadi ‘rumah bersama’ semua agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

“Ada banyak pekerjaan strategis yang dapat dilakukan. Mulai dari penguatan toleransi yang berbasis pada moderasi, penggunaan Pancasila sebagai kompas utama gerakan hingga mewujudkan kepedulian atas dasar kemanusiaan,” tutur Taslim melalui aplikasi berbagi pesan WhatsApp. [Sidik Pramono]

 






sumber : elsaonline.com

 

 

 

Minggu, 22 November 2020

Ganjar Pranowo : Siapapun yang ganggu Ideologi Pancasila, Kita Lawan.

SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo secara tegas akan melawan bagi siapapun yang mencoba mengganggu keutuhan NKRI atau merubah ideologi pancasila. Hal itu disampaikan usai menggelar sarasehan kebangsaan bersama sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat di Gedung Gradhika Bhakti Provinsi Jawa Tengah, Jumat (20/11/2020).

 “ Clear, kita akan bersikap terhadap problem yang dihadapi. Seandainya ada yang mengganggu ideologi atau mengganti NKRI dan pancasila, kita sepakat akan melawan,” tegas Ganjar.

Sarasehan Kebangsaan bertajuk “Jaga Jawa Tengah, Jaga Indonesia” itu turut menghadirkan TNI, Polri, Kejaksaan dan BIN. Tujuannya, untuk mengurai masalah yang dihadapi dan mencari solusi bersama. Ada dua hal yang ditekankan dalam pembahasan pada pertemuan ini, yakni Pandemi COVID-19 dan ideologi negara. 

“Tadi sudah disampaikan oleh Habib Luthfi bahwa pandemi ini serius, tapi persoalan ideologi jangan sampai abai,” lanjutnya.

Dari situlah, Ganjar menggelar sarasehan kebangsaan untuk meminta pendapat dari tokoh agama, tokoh masyarakat dan elemen yang lain. 

“Ada banyak urgensi, hari ini kita undang tokoh agama dan tokoh masyarakat di Jawa Tengah. Kalau saya memulai tadi, kita mendengarkan dari tokoh agama menyampaikan kondisi yang ada di umatnya masing-masing, dan tokoh masyarakat juga menyampaikan kondisi Jawa Tengah. Ada ekonomi, sosial, dan politik,” ujar Ganjar.

Ia berharap, kegiatan tersebut mampu memberikan dampak yang baik bagi Jawa Tengah. Jika memang diperlukan, kegiatan tersebut akan digelar secara rutin.

“Semua juga sepakat kondisi ini belum baik, semua akan mendukung. Pemerintah diminta merumuskan dan menggerakkan formula seluruh sektor yang ada agar semuanya bisa baik. Bukan hanya urusan lahiriah tapi juga batiniah, agar mental kita menjadi baik spiritual kita menjadi baik, nanti akan berujung kebaikan. Konsultasi ini kita lakukan agar jateng bisa menjadi tenang, senang dan semua bisa mengikuti kegiatan dengan protokol kesehatan yang baik.”  paparnya.

Senada dengan Ganjar, Kapolda Jateng, Irjen Pol Ahmad Luthfi memastikan untuk tidak akan memberi ruang bagi kelompok intoleran di Jawa Tengah, dalam hal ini Polda akan bersikap tegas.

"Tidak ada kesempatan dan ruang buat kelompok intoleran. Khususnya di wilayah Polda Jateng itu harga mati. Seluruh jajaran Kapolres sudah saya perintahkan,” ungkapnya.

Kapolda juga menambahkan bahwa saat ini pihaknya turut melakukan penanganan COVID-19  dan pengamanan Pilkada serentak 2020. 

“Pada prinsipnya kita menegakkan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” tandasnya.

 

Sumber : humas.jatengprov.go.id

Senin, 16 November 2020

Dilereng Gunung Slamet ini, Gerbang Watugong diresmikan.

Sabtu Pon (14/11), Gerakan Kebangsaan Watugong atau disingkat sebagai Gerbang Watugong resmi digunakan untuk penyebutan Gerakan Solidaritas Kemanusiaan dan Silaturahmi Kebangsaan oleh para tokoh lintas agama dan kepercayaan yang terlibat dalam Piagam Watugong.

Peresmian istilah ini dilakukan saat para tokoh lintas agama dan kepercayaan melakukan Silaturahmi Kebangsaan di Padepokan Wulan Tumanggal yang terletak dilereng Gunung Slamet tepatnya di Desa Dukuhtengah Kec. Bojong, Kab. Tegal pada hari Sabtu Pon (14/11).

Rombongan yang dipimpin oleh Ketua FKUB Jawa Tengah KH. Taslim Syahlan ini diterima langsung oleh Pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru KP Panji Suryaningrat II.

Dalam Silaturahmi Kebangsaan ini, rombongan juga berkesempatan menyerahkan Piagam Watugong kepada Pembina Perguruan Trijaya. 

"Ini menjadi salah satu agenda penyerahan Piagam Watugong yang ditandatangi oleh 44 elemen/organisasi/lembaga/majelis agama dan kepercayaan di Vihara Budhagaya Watugong Semarang, 10 Oktober 2020 lalu kepada para tokoh pimpinan organisasi, termasuk Perguruan Trijaya yang merupakan salah satu organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa tingkat pusat yang berpusat di Tegal", jelas KH. Taslim Syahlan.

Setelah penyerahan Piagam Watugong, KH. Taslim Syahlan meminta restu Romo Panji untuk meresmikan Gerbang Watugong sebagai istilah gerakan ini yang bertiujuan untuk membumikan nilai toleransi dan kerukunan antar umat beragama dan kepercayaan di Jawa Tengah khususnya dan di seluruh Indonesia pada umumnya.

Selain Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah, beberapa tokoh lintas agama yang ikut hadir di Padepokan Wulan Tumanggal antara lain Setyawan Budy (Koordinator Persaudaraan Lintas Agama), Mln. Saefullah A. Farouk (Mubaligh Daerah JAI Provinsi Jawa Tengah), Bhante Ditthisampano (Sekwil Sangha Agung Indonesia Provinsi Jawa Tengah), Bhante Jatiko (Wakil Koordinator Sangha Agung Indonesia Provinsi Jawa Tengah), Samanera Santi Phalo (Badrasanti Institute), Anton Baskoro (Humanity First Indonesia), Abdul Somad (Ketua JAI Semarang), Naufal Sebastian (LBH Semarang), Gabriela Adeline T. (Ketua Cabang PMKRI Kota Semarang), Cahya Astika T. (Sekretaris GUSDURian Semarang), Dewi Kandiati (Bendahara GUSDURian Semarang), Nuhab Mujtaba (GUSDURian Peduli), dan Iqbal Alma G.A. (Koordinator GUSDURian Unnes).