Jumat, 06 Juli 2018

Menggali talenta anak, melalui Festival Wayang Orang Anak

Sungguh menggetarkan jiwa, jika melihat anak anak kecil dengan penuh perasaan, kepiawaian, dan kelincahannya, menyatukan seni tari, drama, musik, dan macapat dalam sebuah wayang orang anak.

Rabu, 27 Juni 2018

Dengan Paduan Suara, tumbuh karakter kebangsaan

Selasa (26/6), Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Tengah, menggelar audisi Paduan Suara Gita Bahana Nusantara (PS GBN) di Museum Ronggowarsito, Semarang.

Audisi ini diikuti 90 peserta mewakili kabupaten/kota se provinsi Jawa Tengah. Setiap kabupaten diwajibkan untuk memenuhi semua kategori yang dilombakan, yaitu jenis suara alto, sopran, tenor dan bas.

Jumat, 08 Juni 2018

Ada Pelita di Sanggar Sapta Dharma


Sore itu hari Kamis, (7/6) sekitar pukul 16.30 langit biru cerah, nampak mini bus milik Gereja Pantekosta Kota Semarang merapat di halaman Sanggar Candi Busana Blater Desa Jimbaran Bandungan Kabupaten Semarang. Dua puluh dua orang  turun bus dari menyambangi Warga Penghayat Kerokhanian Sapta Darma yang sudah siap menyambut kedatangan mereka.

Beberapa lainnya datang menggunakan kendaraan pribadi. Mereka adalah pemuda pemudi Persaudaraan Lintas Agama (PELITA) Semarang dan alumni Pondok Damai 2018. Latar belakang dan agama yang beragama tidak menepis niat mereka untuk merajut persaudaraan dan rasa persatuan dalam kerangka Silahturahmi Kebangsaan.

Silahturahmi Kebangsaan ini adalah yang ke 6 (enam) kalinya dilaksanakan sejak Pelita dibentuk tahun 2016.  Setyawan Budi, selaku Koordinator Pelita menerangkan hal ini pada sesi pembukaan. Kemudian acara dilanjutkan dengan sesi perkenalan. Peserta memperkenalkan diri satu per satu nama dan latar belakangnya. Anggota Pelita sendiri berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, ada yang mewakili organisasi baik organisasi masyarakat, keagamaan, kepercayaan, akademisi, profesi maupun atas nama diri pribadi. Mewakili organisasi ada dari kalangan pendeta, anggota Ganaspati, Mahasiswa HMJ Studi Agama-Agama (SAA) UIN, eLSA, EIN Institute, Perguruan Trijaya, Gusdurian, dan lain-lain.

Acara dilanjutkan dengan uraian materi seputar Ajaran Kerokhanian Sapta Darma oleh  Slamet Haryanto selaku Tuntunan Kerokhanian Sapta Darma (KSD) Provinsi Jawa Tengah. Hadir juga Hari Suyitno selaku Tuntunan KSD Kabupaten Semarang dan Juari selaku ketua Persada Kabupaten Semarang.

Materi yang disampaikan antara lain tentang sejarah turunnya wahyu Sapta Darma oleh Bapa Panuntun Agung Sri Gutomo pada tahun 1952, kelengkapan wahyu ajaran sapta darma antara lain Sujud, Simbol Pribadi Manusia, Wewarah Tujuh dan Sesanti. Riwayat keberadaan Sanggar Candi Sapta Rengga di tingkat pusat Yogyakarta dan Sanggar candi busana di tingkat daerah.  Struktur kelembagaan Sapta Darma yang terdiri dari Tuntunan sebagai pemegang kelembagaan tertinggi dalam kerokhanian Sapta Darma, Organisasi Persada yang berdiri sejak terbitnya UU no 8 th 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan dan Yayasan Srati Darma sebagai bokor kencono yang menampung sumbangan dari warga Sapta Darma dan sumbangan lain yang tidak mengikat.

Menghormati bulan Ramadhan bagi pemeluk agama Islam yang menjalankan ibadah puasa. Acara direhat sementara saat irine tanda waktu buka puasa berbunyi. Peserta pun beranjak untuk berbuka bersama di lokasi Pemancingan Suharno I yang berada satu area dengan SCB Blater Jimbaran Bandungan. Hidangan yang tersaji antara lain sup buah, teh hangat, ikan lele dan nila plus lalap sambal yang ditata khusus pada pelepah daun pisang.

Pasangan suami istri, pengelola pemancingan, yang juga merupakan penghayat Sapta Darma mengaku gembira dan dengan senang hati menerima kunjungan dari Pelita. “ Kami sangat bangga dan mengapresiasi antusias teman-teman PELITA dan Pondok Damai menyambut undangan kami untuk berkunjung ke SCB Blater milik penghayat Sapta Darma. Semoga Pelita semakin sukses dalam menjaga perdamaian dan kerukunan antar umat beragama dan kepercayaan,” tutur Dwi Setiyani, sang istri yang juga merupakan alumni Pondok Damai 2018.

Usai berbuka puasa dan menjalankan ibadah sholat maghrib, acara kembali dilanjutkan dengan dua sesi tanya jawab antara lain tentang peragaan sujud atau tata cara peribadahan penghayat Sapta Darma, tentang siapakah Sri Pawenang, tata cara perkawinan, kematian, dan juga pendidikan secara Sapta Darma dan kemungkinan agama lokal dapat diteorikan seperti agama-agama monoteisme yang lain.

Satu demi satu pertanyaan dijawab dengan baik “Kami  menjelaskan kebenaran ajaran Sapta Darma yang baru berusia 66 tahun ini, secara manajemen penataan, kami mengakui agama yang lain sudah lebih tertata dengan baik. Hal ini juga karena usianya yang sudah ribuan tahun.  Selebihnya kami serahkan kepada masyarakat untuk menilai”, tukas Slamet Haryanto menutup acara.

Senin, 04 Juni 2018

"Nderek Lampah", perjalanan spiritual terpanjang dan terbesar

Perguruan Trijaya yang merupakan sebuah organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa tingkat nasional yang berpusat di Tegal, beberapa.hari yang lalu telah melakukan sebuah perjalanan spiritual 9 hari, tepatnya mulai 25 Mei - 2 Juni 2018. 

Perjalanan yang diberi nama "Nderek Lampah Satuhu Risang Guru" ini diikuti 170 orang dengan 31 mobil pribadi dengan menemuh jarak kurang lebih 2.300 km. Perjalanan ini melintasi 4 provinsi yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan DIY.

Nderek Lampah dilepas oleh Pembina Perguruan Trijaya, Romo Guru KRA. Panji Suryaningrat II di Cemoro Kandang, Tawangmangu, Sabtu Legi (26/5) pukul 11.00. Kemudian seluruh rombongan melakukan perjalanan di lokasi berikutnya yaitu Gunung Bromo.






Minggu, 13 Mei 2018

Rakernas Pertama Puan Hayati

Anggun dan bersahaja dalam balutan busana kebaya putih dan selendang merah, perempuan – perempuan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa nampak hikmat mengikuti upacara pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Puan Hayati Tingkat Nasional di Bromo meeting room Hotel Aria Centra Surabaya, siang kemarin, Sabtu (12/5). Tari Jejer Banyuwangi disuguhkan menjadi pembuka acara tersebut.

Bergelora lagu mars Puan Hayati untuk pertama kalinya berkumandang dipimpin langsung oleh sang pencipta lagu Rohayani, perempuan penghayat asal Bandung. Dilanjutkan dengan pembukaan secara resmi oleh  Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Ir. Drs. Nono Adyo Supriyatna, MM, Mmt, yang sekaligus didaulat menjadi keynote speaker.

Rakernas diikuti 90 orang peserta yang terdiri dari perwakilan Puan Hayati tingkat provinsi se Indonesia, perwakilan departemen wanita MLKI se Jatim, perwakilan organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan organisasi wanita lintas iman Jawa Timur.

Rakernas ini baru pertama kali dilaksanakan pasca terbentuknya Puan Hayati Pusat, 13 Mei 2017. Acara yang dihelat tgl 12-13 Mei 2018 ini diselenggarakan oleh Puan Hayati Pusat berkat dukungan dari Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan tradisi dan para simpatisan.

Dian Jennie Tjahjawati, Ketua Umum Puan Hayati Pusat menyatakan bahwa rakernas telah merumuskan agenda organsasi untuk meneguhkan sikap dan komitmen pada kebangsaan, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. “Kebutuhan peran tersebut telah menyatakan diri dalam tragedi bom di Surabaya pagi ini akibat lemahnya penghayatan terhadap nilai-nilai warisan para pendiri bangsa dan leluhur kita,” ungkapnya prihatin.

Rakernas juga telah merumuskan hal terkait eksistensi perempuan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, terutama pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal pencatuman identitas Kepercayaan pada kolom agama di Kartu Tanda Penduduk. Berbagai perkembangan aktual tersebut telah menjadi faktor yang sangat menentukan perlunya pemupukan identitas Penghayat, sekaligus menjadi tantangan besar untuk semakin meneguhkan komitmen perempuan Penghayat terhadap kebangsaan Indonesia.

Inilah salah satu pokok pikiran yang disampaikan Eva K. Sundari dalam sesi pleno terakhir Rakernas tersebut. “ Puan Hayati hadir pada momen yang tepat, di tengah tantangan kebangsaan dan Bhineka Tunggal Ika yang tengah diserang oleh kekuatan radikalisme dan terorisme. Puan Hayati harus berkiprah karena bangsa sudah memanggil,” paparnya.

Eva Sundari, ketua Kaukus Pancasila mengajak seluruh pengurus dan anggota Puan Hayati untuk melakukan hening cipta bagi para korban aksi terorisme di Surabaya.

Adapun materi dan narasumber acara tersebut antara lain Ustad  Nakhoi (Perwakilan Komnas Perempuan) tentang Kesetaraan gender dan hak Perempuan dalam akses perempuan, Dian Jennie Cahyawati, S.sos, tentang Peran Perempuan dalam transformasi nilai-nilai ajaran, Akhol Firdaus, M.ag, M.pd (Akademisi) tentang Perempuan sebagai aktor kunci perubahan, Eva Sundari tentang Perempuan Penghayat sebagai Pilar Kebangsaan dan Kebhinekaan, Sri Hartini, M.si (Sekretaris Dirjen Kebudayaan) tentang Membangun Eksistensi Perempuan Penghayat Kepercayaan dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

Sabtu, 12 Mei 2018

Ternyata pakai Iket, lebih ganteng

Ratusan pelajar di Kabupaten Cilacap tampak berbeda siang itu, Jumat (11/5). Mereka terlihat lebih ganteng dengan memakai iket (jawa : ikat kepala) dalam acara Workshop Seni dan Budaya yang digelar di Aula Diklat Praja, Cilacap.

Tidak hanya pelajar laki-laki, antusias pun juga terlihat dari pelajar perempuan yang juga serius belajar memakai iket.

Iket merupakan busana daerah yang dipakai khusus dikepala, yang mempunyai filosofi sebagai pengikat antara pikiran dan hati agar tetap selalu berpikir dan berperilaku yang baik, jelas Muslam, salah satu narasumber di acara tersebut.

Panji, salah satu peserta mengatakan bahwa memakai pakai iket itu ternyata kelihatan lebih ganteng. Setelah mengikuti workshop tersebut, semua peserta diwajibkan mengikuti lomba memakai iket yang digelar langsung usai materi disampaikan.

Acara yang diselenggarakan Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Tengah ini juga menghadirkan narasumber dari Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Joko Wicaksono.

Minggu, 06 Mei 2018

Deklarasi Puan Hayati Jawa Tengah

Ada yang berbeda dari Sarasehan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa wilayah Jateng, Jatim dan DIY tahun ini. Pada tengah acara, usai sesi diskusi yang disampaikan oleh Ir. Drs. Nono Adyo Supriyatno, MM, M.T, Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Msha Esa dan tradisi, Kemendikbud RI dua belas perempuan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dari dua generasi di Jawa Tengah nampak berdiri bersatu padu dalam kebaya nuansa ungu.

Pada siang itu Direktorat memberikan ruang terselenggaranya pelantikan dan deklarasi Puan Hayati Provinsi Jawa Tengah. Puan Hayati adalah wadah perempuan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Msha Esa Indonesia yang berada dibawah naungan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI).

Pengucapan Panca Ikrar Puan Hayati Jateng pada saat pelantikan oleh Dian Jennie Cahyawati, S.sos, ketua Puan Hayati Pusat, menjadi tanda bahwa kepengurusan Puan Hayati Jawa Tengah telah dikukuhkan.

Berikut ini merupakan point dari Panca ikrar Puan Hayati  :
1. Puan Hayati adalah anak bangsa yang selalu setia kepada Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.
2. Puan Hayati adalah insan pertiwi yang menjunjung tinggi kepribadian bangsa Indonesia sebagai karakter perempuan penghayat sejati
3. Puan hayati senantiasa menjunjung tinggi nilai nilai kearifan lokal sebagai pencerminan dari nilai-nilai ajaran luhur bangsa.
4.Puan hayati adalah perempuan Indonesia yang berhati mulia, berperilaku jujur, pantang menyerah, berani membela kebenaran dan keadilan.
5. Puan hayati adalah perempuan pendidik anak bangsa yang berbudi pekerti luhur, cerdas serta memiliki jiwa nasionalisme.

Dalam sambutannya, Ir. Drs. Nono Adyo Suprayatno, MM, MT, sangat mengapresiasi terbentuknya kepengurusan Puan Hayati Jawa Tengah. Ia berharap dengan terbentuknya kepengurusan ini,  regenerasi dan pelestarian ajaran Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dapat berjalan baik dan tetap terjaga secara berkesinambungan.

Dian Jennie Cahyawati, S.sos, pada sesi pemaparannya yang mengulas Peran Perempuan dalam mewariskan nilai Kepercayaan terhadap keluarga, juga  terhadap Tuhan YME Jawa Tengah semakin menunjukkan eksistensinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. “Memang berat mengawali langkah setelah sekian lama tertidur, tapi dengan tekad dan semangat yang tinggi, mulailah dengan membuat kegiatan seperti anjangsana dan workshop” ujarnya memberikan semangat.