Rabu, 18 April 2018

Persada Jateng Gelar Penataran Rohani

Untuk pertama kalinya Persatuan Warga Sapta Darma (PERSADA) Provinsi Jawa Tengah menggelar acara penataran rohani berupa Sujud Penggalian Pribadi Manusia tingkat Jawa Tengah.

Acara yang dilaksanakan 6 hari 6 malam, mulai Minggu (15/4) sampai dengan Sabtu (21/4) di Sanggar Candi Busana (SCB) Blater Kabupaten Semarang ini, mendapat antusias positif dari Warga Kerokhanian Sapta Darma (KSD).

Dari 40 Peserta yang mengikuti penggalian, 27 orang merupakan peserta laki-laki dan 13 orang peserta perempuan. Antara lain dari Kabupaten Semarang, Kota Semarang, Kabupaten Kendal, Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Banyumas, Kab Pati, dan Kabupaten Cilacap.

Biasanya warga KSD Jawa Tengah  aktif mengikuti kegiatan penggalian yang dilaksanakan 4-5 kali dalam satu tahun di Sanggar Candi Sapta Rengga Yogyakarta yang biasa disebut “Sanggar Agung” atau Sanggar Pusat.

Sujud Penggalian Pribadi Manusia merupakan penataran rohani bagi warga Sapta Darma sebagai sarana untuk meningkatkan mutu kerokhanian demi terwujudnya pembangunan dan pembinaan mental spiritual dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Ajaran Sapta Darma bukan sekedar ajaran untuk warga KSD saja, tetapi memberikan penerangan dan pencerahan bagi umat manusia yang sedang dalam kegelapan, sebagai wujud pengamalan budi pakarti yang luhur.

Tiga hal yang menjadi tujuan acara ini antara lain adalah menyempurnakan pengabdiannya kepada Hyang Maha Kuasa dan umat manusia, meningkatkan mutu kerokhanian warga Sapta Darma dan membentuk Satrio Utomo yang berbudi luhur, berkepribadian dan berkewaspadaan tinggi. Manusia yang dapat memayu hayu bagya bawana. Hal ini sesuai wewarah kerokhanian Sapta Darma yang disampaikan oleh Slamet Haryanto selaku Tuntunan Kerokhanian Sapta Darma Provinsi Jawa Tengah.

Ketidakpercayaan publik, kebrutalan massa dan gejolak lain dalam kehidupan berbangsa bernegara yang terjadi selama ini mempresentasikan sebuah kemerosotan dan kemunduran moral warganya.

Penataran rohani (Sujud Penggalian) ini merupakan salah satu solusi untuk membangun mental dan moral masyarakat serta mengembalikan jati diri bangsa Indonesia yang sopan santun, ramah tamah, beradab dan berbudi luhur.

Oleh : Dwi S Utami

Minggu, 15 April 2018

Ritual "Bangun Tulak" bawa Jateng sebagai Penyaji Terbaik pada Pawai Budaya Nusantara

Kontingen Jateng saat menampilkan Ritual Bangun Tulak
Sebuah upacara adat masyarakat Wonogiri Jawa Tengah yang bernama Ritual Bangun Tulak, siang tadi menghebohkan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Ritual yang biasa dilaksanakan saat panen padi di desa Tanggulangin kecamatan Jatisrono itu dipentaskan dalam bentuk pawai budaya.

Persembahan provinsi Jawa Tengah ini pun dinobatkan sebagai penyaji terbaik sekaligus menjadi juara umum, pada Pawai Budaya Nusantara 2018. Perhelatan tingkat nasional ini diselenggarakan oleh pihak TMII dalam acara Pekan Ulang Tahun TMII ke 43.

Sebanyak 17 provinsi ikut andil dalam ajang bergengsi ini. Setiap kontingen berjalan sekitar 400 meter, dengan mengambil start di depan Candi Bentar dan finish di Tugu Api Pancasila, tepatnya setelah podium kehormatan. Selama berjalan setiap kontingen diharuskan menampilkan atraksinya tanpa putus, karena tim pengamat tersebar disepanjang rute pawai. Tim pengamat tersebut diantaranya Abdul Rohim, Frans Sartono, dan Sigit Gunarjo.

Abdul Rohim yang menjadi ketua tim pengamat menyampaikan bahwa secara keseluruhan peserta tahun ini lebih baik dari pada tahun-tahun sebelumnya. Tim pengamat pun harus bekerja keras untuk memberikan penilaian, namun beberapa kriteria pokok yang ada didalam juknis menjadi panduan utama dalam tim pengamat menilai. "Ini bukan seni panggung, melainkan seni berjalan dan disini dibutuhkan kontinuitas dalam gerak sepanjang rute pawai", tambahnya.

Dengan meraih penyaji terbaik, kontingen Jawa Tengah berhak memboyong piala dan piagam penghargaan dari Menteri Pariwisata RI serta uang pembinaan sebesar 10 juta rupiah dari Dirut TMII. Hadiah diterima oleh Eny Haryanti, S.Pd. M.Pd. Kasubbag Pendidikan Kebudayaan dan Perpustakaan, Biro Kesra Sekda Provinsi Jawa Tengah sebagai penanggungjawab kontingen.

"Ini adalah kerja keras tim, baik dari peserta maupun tim pendukung semua bekerja siang malam, bahkan sampai disini (TMII) kami hanya tidur beberapa jam saja untuk mempersiapkan segalanya baik properti maupun untuk gladi" Jelasnya.


foto bersama dengan Kepala Biro Kesra Setda Prov Jateng,
Drs. Supriyono, MM. (di belakang tengah membawa piala)
Kepala Biro Kesra Setda Provinsi Jawa Tengah, Drs. Supriyono, MM, yang juga hadir di acara ini menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah bekerja keras dan mampu mengharumkan nama Jawa Tengah dikancah nasional. Ini disampaikannya setelah menyerahkan hadiah uang pembinaan dari dirut TMII kepada ketua kontingen, Loediro Pantjoko.

Sebelum diumumkan sebagai penyaji terbaik, Jawa Tengah masuk dalam 5 penyaji unggulan bersama dengan provinsi DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan dan DKI Jakarta.

PBN kali ini juga merebutkan 3 pemenang kategori lainnya. Diantaranya Penata Gerak Terbaik yang jatuh pada provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan berhak mendapatkan piala dan piagam dari Menteri Pariwisata RI dan uang pembinaan dari Dirut TMII sebesar 3 juta rupiah.

Untuk kategori Penata Musik/Iringan Terbaik jatuh pada provinsi Riau, dan berhak mendapatkan piala dan uang pembinaan sebesar 3 juta rupiah dari Direktur TMII. Sedangkan Penata Busana dan Rias Terbaik diraih provinsi Kalimantan Selatan dan mendapatkan piala dan piagam dari Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI serta uang pembinaan dari Dirut TMII sebesar 3 juta rupiah.


Minggu, 08 April 2018

Pondok Damai, Merajut Harmoni Memupus Prasangka

Bertempat di Muria Training Center (MTC) Salatiga, Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang menggelar sebuah kegiatan dengan nama Pondok Damai 2018. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari, dibuka Jumat malam (6/4) dan ditutup Minggu siang (8/4).

Merajut Harmoni, Memupus Prasangka, menjadi tema kegiatan ini karena diikuti perwakilan generasi muda dari berbagai agama dan kepercayaan di wilayah Semarang dan sekitarnya. Bahkan ada peserta datang langsung dari Singaraja (Bali) dan Jayapura (Papua).

Pondok Damai merupakan kegiatan yang mengumpulkan para pemuda lintas agama dan kepercayaan untuk membangun dan menanamkan benih-benih  perdamaian didalam keragamaan, berbagi pengalaman perjumpaan dengan orang yang berbeda agama dan keyakinan, serta saling memahami perbedaan masing-masing. 

Pondok Damai ini diikuti 22 peserta. Diantaranya mereka dari Islam NU, Islam Ahmadiyah, Islam Syiah, Katolik, Kristen Trinitarian, Kristen Unitarian, Hindu, Budha dan Sapta Darma yang mewakili Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Setyawan Budi, koordinator Pelita sekaligus ketua penitia menjelaskan bahwa sasaran utama dari kegiatan ini adalah generasi muda sehingga kesadaran mereka sebagai agent of peace (agen perdamaian) terbentuk. Mereka lah yang kelak mempertahankan pondasi perdamaian yang sudah diletakkan oleh para pendiri bangsa Indonesia. 

Kegiatan Pondok Damai merupakan salah satu upaya untuk memenuhi panggilan sebagai anak bangsa dalam menjaga keutuhan NKRI. Sebab, untuk menginternalisasikan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam Pancasila dan menjaga keluhuran Pancasila sebagai ideologi negara, diperlukan peran aktif generasi muda, tambahnya.

Kegiatan ini terdiri atas beberapa sesi. Untuk sesi dialog, disini dimunculkan bukan tentang teori bagaimana manusia beragama melainkan dialog yang lebih membahas tentang perjalanan spiritual anggota komunitas masing- masing. Dialog seperti ini jarang dilakukan oleh lembaga kerukunan umat beragama yang formal, karena lebih membuka ruang kepada peserta untuk menyampaikan hal yang private. Sehingga afeksi antar peserta lintas agama dan kepercayaan terbangun. Prasangka-prasangka buruk yang ada diantara para peserta pun akan terkikis.  

Tidak hanya berdialog, pada hari kedua, para peserta diajak berkunjung ke beberapa tempat ibadah yang ada di kota Salatiga. Diantara di Klenteng Hok Tek Bio, Gereja Katolik Santo Paulus Miki, Vihara Damma Phala dan Masjid Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI).

Kunjungan ke beberapa tempat ibadah tersebut juga dibuka ruang dialog antara peserta Pondok Damai dengan pihak tempat ibadah. Dari tanya jawab tersebut banyak membuka pemahaman tentang cara pendang tentang ibadah dan konsep-konsep ketuhanan dari masing-masing agama yang dikunjungi. 

Meskipun komunitas  ini masih dalam lingkup terbatas  dan informal. Namun, aktivitas- aktivitas yang dilakukan oleh peserta Pondok Damai akan sangat  berdampak positif bagi keutuhan Negara Republik Indonesia. Pondok Damai dapat menciptakan kerukunan umat beragama. Para perintis  Pondok Damai tetap konsisten menyemai benih-benih perdamaian, seiring berjalannya waktu apa yang telah mereka rintis telah membuahkan hasil.  

Para alumni Pondok Damai pun hingga sekarang masih berkontribusi dalam tiap kegiatan damai lintas agama. Dari berbagai testimoni yang dikumpulkan, gerakan kultural seperti ini memiliki ikatan yang lebih kuat dibanding dengan organisasi formal. Karena para peserta disini membuktikan bahwa kerukunaan beragama itu dipromosikan dan dihidupkan oleh kita sendiri, selaku masyarakat yang ber-Bhineka Tunggal Ika, pungkas Wawan, panggilan akrab koordinator Pelita.

Pondok Damai adalah kegiatan rutin yang diadakan setiap tahun sejak tahun 2007. Kali  ini merupakan kegiatan yang ke 11 dan diselenggarakan oleh Pelita Semarang. 

Pelita merupakan jaringan yang menghubungkan berbagai organisasi, lembaga, maupun komunitas yang bergerak dalam isu sosial keagamaan di Semarang dan sekitarnya.  Pelita terbentuk atas inisiasi kolektif yang bertujuan untuk menjaga keragaman dan kerukunan antar agama dan keyakinan, khususnya di Kota Semarang.



Minggu, 25 Maret 2018

Brandal Raseno "gegerkan" Taman Mini

Sabtu malam (24/3) seorang brandal (jawa:perampok) yang bernama Raseno dari Jepara Jateng menggegerkan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tepatnya di Anjungan Jawa Tengah. Dia menjadi sosok yang dicari pihak aparat keamanan karena perilakunya meresahkan masyarakat tingkat atasnya khususnya para saudagar kaya.

Berbanding terbalik, keberadaanya jusru dipuji-puji masyarakat miskin, yang dalam kehidupan sehari-harinya untuk makan saja susah. Tak ayal, Raseno merupakan sosok perampok yang sering merampas kekayaan para saudagar kaya, dan hasil rampoknya diberikan kepada rakyat miskin.

Dramatari Brandal Raseno ini diambil dari cerita rakyat yang merupakan satu dari sajian hiburan pada malam Paket Acara Khusus (PAK) di Anjungan Jawa Tengah, TMII. Khusus kali ini dipersembahkan oleh Pemkab Jepara.

Acara ini dihadiri wakil bupati Jepara dan beberapa duta besar dan senat negara-negara sahabat. Hadir pula anggota DPRD Jawa Tengah, pejabat di jajaran Pemprov Jateng.

Dalam sambutannya, wakil bupati Jepara Dian Kritiandi menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh tamu undangan, khususnya para duta besar negara-negara sehabat. "Ini merupakan sebagian kecil dari potensi yang kami punya, selebihnya kami undang bapak ibu semua untuk datang ke Jepara", tambahnya.


Sabtu, 17 Maret 2018

JAMU, WAYANG DAN TOPENG DALANG MENJADI TARGET DI JEJAK BUDAYA JATENG 2018

Ada 3 (tiga) karya budaya yang menjadi tujuan utama dalam kegiatan Jejak Budaya Jawa Tengah tahun 2018. Diantaranya Jamu Tradisional di Sukoharjo, Wayang di Wonogiri dan Topeng Dalang di Klaten.

Kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Dindikbud Provinsi Jawa Tengah ini diikuti 70 pelajar SMA/SMK se Jawa Tengah dan dilaksanakan selama 3 (tiga) mulai Selasa (13/3) sampai dengan Kamis (15/3).

Jejak Tradisi ini dibuka oleh Kepala Pembinaan Kebudayaan Dindikbud Jateng Drs. Bambang Supriyanto, M.Pd di Hotel Brothers Solo Baru, Sukoharjo, Selasa malam (13/3). Sebelumnya para peserta kegiatan dihibur oleh tampilan Tari Mundong (Jamu Gendong) yang ditampilkan apik oleh 5 siswi SMA 1 Sukoharjo

Kunjungan ke 3 lokasi karya budaya tersebut dilaksanakan semalam sehari penuh. Tujuan pertama adalah di Pasar Jamu Nguter, Sukoharjo. Disini para peserta diajak menjelajahi ke semua sudut pasar. Mereka mencari data sebanyak-banyaknya tentang Jamu Tradisional, dari bahan, cara pembuatan, dan lain lainnya.

Setelah cukup berkeliling di pasar, semua peserta diajak ke sekeratariat Kojai (Koperasi Jamu Indonesia) di Desa Nguter, Sukoharjo. Disini mereka diajak berdialog dengan ketua Kojai. Setelah itu mereka mengikuti workshop singkat pembuatan jamu. Kemudian dilanjutkan minum jamu bersama.

Tak hanya itu mereka juga diajak ke salah satu perusahaan kecil penghasil jamu. Para peserta bisa melihat berbagai tanaman herbal sebagai bahan jamu. Disini mereka juga diperlihatkan proses singkat pembuatan jamu instan, dari pencucian, pengeringan, uji lab, pengemasan, hingga penjelasan distribusi jamu instan tersebut.

Selasa, 27 Februari 2018

Tari Angguk Grobogan, tambah koleksi tarian khas Jawa Tengah

Tari Angguk Grobogan, menambah satu lagi kekayaan tari tradisi di provinsi Jawa Tengah yang berasal dari kabupaten Grobogan. Tari ini diangkat menjadi bahan ajar pada acara Workshop Seni Tari Tradisi yang digelar di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo, Selasa (27/2).

Workshop ini diikuti 40 pengajar tari dari kabupaten dan kota se Solo Raya, meliputi Surakarta, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, Boyolali, Klaten, dan Karanganyar.

Tari Angguk Grobogan merupakan sebuah tari garapan yang diciptakan Warsito, S.Sn atau biasa dipanggil Sitek, seorang seniman tari lulusan ISI Surakarta yang sekarang bekerja di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Grobogan. Warsito juga dipercaya sebagai narasumber pada pelatihan ini, dan didampingi oleh Suyandari, S.Sn.

Sejarah Tari Angguk tidak lepas dari perjuangan Pangeran Diponegoro. Tari ini adalah satu dari kesenian rakyat Mataram yang menggambarkan gagah berani rakyat yang sedang mengadakan latihan perang untuk melawan kolonialis Belanda.

Tari Angguk yang terkenal berasal dari Kulonprogo (DIY) ini merupakan pengembangan dari Tari Dolalak asal Purworejo (Jawa Tengah). Terlihat ada beberapa kesamaan dari gerak, iringan musik, kostum yang mengenakan topi, baju berpangkat, kacamata hitam, celana pendek selutut dan lain-lainnya.

Tari Angguk Grobogan pertama kali ditampilkan pada acara pembukaan Lomba MTQ Pelajar ke 29 Tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun 2014, dimana kabupaten Grobogan terpilih menjadi tuan rumah.

Untuk kostum tidak baku, silakan kami bebaskan kepada para peserta pelatihan untuk berkreasi, tapi harus ada unsur tutup kepala seperti topi, kalung kace, baju berpangkat, kipas dan kaca mata serta untuk garapan tari bisa dirubah tapi ada hal yang baku seperti nyapu kipas, Shalawatan karena itu semua khas Tari Angguk Grobogan, jelas Warsito.

Permadi, pengamat seni tradisi dari Semarang mengatakan bahwa jika dari segi gerak, tari Angguk Grobogan ini memang punya pijakan tradisi. Tetapi jika dilihat dari segi iringan musiknya, kemungkinan tari ini akan susah berkembang lebih luas karena ada syair Shalawatan yang biasa digunakan dalam acara-acara keagamaan (islam).

Garapan musik tersebut berpengaruh besar pada terbatasnya segmen pasar penikmat tari tradisi, meskipun dipertengahan musik tersebut juga ada syair Lir - ilir. Tari ini lebih tepat disebut sebagai tari garapan bernuansa islami dan mungkin hanya bisa berkembang dilingkungan ponpes atau sekolah-sekolah berbasis islam, imbuhnya.

Salah satu peserta dari Wonogiri, Ludiro mengatakan bahwa Tari Angguk tersebut berpijak pada tari tradisi yang sudah dikreasikan. Saya lebih mengapresiasi gerak tarinya, untuk garapan musiknya mungkin nanti akan saya ubah dan kembangkan lagi, menyesuaikan kebutuhan konsumsi masyarakat, jelasnya.

Seksi Pertunjukan TBJT, Bagus Jatmiko menjelaskan bahwa Tari Angguk Grobogan ini bisa menjadi kekayaan materi bahan ajar di sekolah, dan bisa dikembangkan didaerah masing-masing. Untuk tahun ini dipilih Angguk, mungkin tahun depan bisa Lengger, Barongan, Jaranan, atau tari-tari lainnya yang menjadi identitas Jawa Tengah, sehingga apresiasi masyarakat terhadap kesenian tradisi akan terpelihara.