BETULKAH KEPERCAYAAN PRIBUMI BUKAN AGAMA DAN TIDAK TAHU DIRI KARENA MENUNTUT KESETARAAN ?

Sebetulnya prasa atau istilah "agama' itu sendiri adalah prasa/istilah asli milik bangsa Nusantara (Kawi atau Sunda/Jawa Kuna.yang artinya a (ha) = Kang Hana, maksudnya Tuhan, dan gama = patokan/tatanan, sehingga arti agama adalah patokan/tatanan Tuhan. Prasa Agama ini terdapat dalam naskah-naskah kuna Sunda, diantaranya terdapat dalam "Siksa Kandang Karesian", "Amanat Galunggung", dan "Sewakadarma", sehingga jaman dulu sistem keyakinan/ kepercayaan yang ada di Nusantara disebut "agama" saja, tidak pakai merk lainnya.

Ketika Hindu masuk disebut agama Hindu (agama dari Hindustan), Budha masuk disebut Agama Budha, Islam masuk disebut Agama Islam, demikian seterusnya Kristen Protestan, Kristen Katholik, Konghucu, dll. yang dikemudian hari, prasa agama direbut dan hanya diperuntukan bagi sistem kepercayaan yang datang dari luar, sedangkan pemilik aslinya tidak boleh dan tidak diakui sebagai "agama", namun diganti/disudutkan dengan istilah animisme/dinamisme, kejawen, abangan, kebatinan/kerokhanian (bathin dan rokhani dari bahasa Arab), dan terakhir sejak masuk GBHN tahun 1973 disebut sebagai Aliran Kepercayaan dan dinyatakan bukan agama, melainkan sebagai budaya spiritual.

Pemaksaan penganut agama asli Nusantara sebagai aliran kepercayaan terus menerus ditanamkan selama puluhan tahun, sehingga tanpa disadari, akhirnya penganut agama Nusantara menjadi mengakui bahwa sistem keyakinan yang dianutnya bukan agama dan menerima disebut sebagai aliran kepercayaan yang dalam persepsi umum kedudukannya lebih rendah dari agama, padahal kembali seharusnya agama adalah untuk dan milik sistem keyakinan pribumi Nusantara.

Sungguh ironis, sekarang ini agama telah direbut dan menjadi milik kepercayaan pendatang, dan mereka (terutama oknum penganut Islam) menjadi penentu/hakim apakah suatu sistem keyakinan disebut agama atau bukan, dengan kriteria yang mereka tentukan sendiri, padahal istilah yang mereka punya adalah din/nilah/milah (Islam), dan Dharma untuk Hindu. Pengertian agama pun berubah menjadi a = tidak dan gama = kacau (kalau begitu jaman Majapahit dikenal istilah Nagarakartagama, jadi berarti negara sejahtera kacau????).

Banyak tokoh Islam yang mencibir katanya para penganut kepercayaan tidak tahu diri dan menyatakan "dikasih hati minta ampela", ketika para penghayat menuntut hak-hak sipilnya dan hak untuk tidak didiskriminatif.... Ya begitulah Bangsa kita INDONESIA, pola berfikirnya masih memprihatinkan. Entah kapan bisa terbebas dari kegelapan berfikir dan berperasaan.


Oleh : Engkus Ruswana , Ketua Umum Budi Daya - Organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar