Per-EMPU-an



Hendira Ayudia Sorentia
Pada suatu malam, purnama penuh, bulan keduabelas, orang-orang Tireman Jawa-asli yang memeluk “agama” Hwuning, melakukan upacara sembahyang di tripamujan, dipimpin seorang Nini Ampu, menggunakan baju kurung dan jarit tenun hitam, telinganya mengenakan sumping dari dedaunan, menghadap Timur, meluhurkan Sang Purwaning Dumadhi. Dupa pewangi, sesajen, bau bunga menebar ke empat penjuru angin. Makanan tanpa lauk daging, jajanan pasar yang melambangkan lingga dan yoni, berupa dumbeg dan jadah-gendhuk. Di belakang Nini Ampu, para gadis suci juga bersikap silasanti-manganjali, mengenakan atasan warna pareanom, tapih tenun wanabadra. Rambutnya diikat menaik, leher jenjang diterpa angin dan suara mantera, tusuk rambut tertutup rangkaian kembang, mawar dan melati. Para pendeta lelaki berjubah putih, di belakang mereka ada para pemuda, serta pendeta perempuan berada di kiri Nini Ampu yang menjadi pusat pemimpin upacara. Malam itu, Dewi Sri turun dari surga mertiloka, menurunkan kesuburan, memberkati para pasangan pengantin yang akan memasuki lumbung, dan musim cocok-tanam bersama, tiba. (Milovich, 2011)

Perempuan dalam Relasi Manusia dengan Tuhannya
Ora ana apa – apa, kang ana mung Ingsun, Ingsuning Ingsun, Kang Yasa Ingsun, iya iku Hyang Hana Tan Hana nanging pasti anane, tanpa kawitan tanpa pungkasan, jumeneng kalawan Pribadi, sabab karana sakabehing sabab, sangkan paraning dumadi. (Koesoemaboedaja, 1992)

 Sesungguhnya setiap perancang (pencipta) memiliki maksud (purpose) dan tujuan ketika merancang atau menciptakannya. Kita bisa mengetahui maksud dan tujuan dari perancang (pencipta)  dengan  melihat  hasil  rancangan  atau  produk  ciptaannya.  Misalnya  rancangan sebuah mobil, bila kita melihat suatu mobil dengan kursi sebanyak 40 buah, maka kita tahu bahwa maksud perancangnya adalah membuat mobil untuk mengangkut banyak penumpang. Bila kita lihat rancangan mobil menggunakan bak di belakangnya, maka kita menyebutnya untuk alat angkut barang.

Bagaimana  dengan  penciptaan  manusia?  Seperti  halnya  mobil  dibuat  untuk  mengangkut benda dari satu tempat ke tempat lain, maka manusia diciptakan untuk memberi manfaat atau kontribusi bagi lingkungan atau orang lain. Manusia juga diciptakan dengan rancangan atau fitur yang berbeda-beda. Tuhan pasti memiliki maksud dan tujuan tertentu dengan menciptakan manusia dengan bentuk dan rupa yang berbeda-beda. Tetapi secara biologis, manusia diciptakan oleh Tuhan hanya dalam dua bentuk yang berbeda, lelaki dan perempuan.

Secara fisiologis, tubuh perempuan momot (memuat) beberapa organ vital yang fungsinya lebih kompleks dibandingkan tubuh lelaki. Konsekuensinya, fungsi fisiologis perempuan berbeda dengan lelaki, sehingga maksud dan tujuan penciptaan perempuan tentu saja berbeda dengan maksud dan tujuan penciptaan lelaki.
Dalam dunia kepenghayatan kepercayaan terhadap Tuhan YME (selanjutnya disebut penghayat), perbedaan antara perempuan dan lelaki, sejatinya hanya berhenti pada fungsi fisiologis tubuh. Hal ini dikemukakan oleh Koesoemaboedaja (1992) bahwa “Sejatine menungsa iku padha nunggal kahanan jati Kang Jumeneng Pribadi, nanging rasa pangrasane padha pisah – pisah. Kang aran Aku iku dudu badan, dudu rasa, dudu angen – angen, dudu budi, dudu nyawa. Badan, rasa, angen – angen, budi, nyawa iku kabeh pirantine wadhaging alam kan kawengku ing Aku, dadi Aku iku wengkune.”

Sejatinya manusia itu semua menyatu pada pokok pengalaman dalam berke-Tuhan-an, tetapi terasanya terpisah. Yang disebut Aku (manusia) itu bukan tubuh, bukan perasaan, bukan pemikiran, bukan budi pekerti, bukan pula nyawa. Tubuh, perasaan, pemikiran, budi – pekerti dan nyawa, itu semua hanyalah alat perwujudan fisikawi yang termuat di dalam Aku (manusia), sehingga Aku (manusia) itulah tempat (wadah)nya. (Penulis)

Dunia penghayat menganggap relasi manusia dengan Tuhannya sebagai suatu pengalaman (laku) utama yang nunggal (menyatu), sehingga manusia satu dengan manusia lainnya, setara. Tubuh yang secara fisiologis berbeda fungsi bukan merupakan wadah, tetapi hanya salah satu perwujudan fisikawi manusia. Dalam relasi manusia dengan Tuhannya, perempuan dan lelaki setara.

Jagad Permaknaan Intelektual Perempuan dan Lelaki
Pada segenap masyarakat adat dan penghayat dari rumpun protomelayu, memahami bahwa manusia terdiri atas unsur alam raya, dimana yang dipentingkan bukanlah penyatuan alam kodrat secara definitif sehabis hidup, melainkan pengalaman kesatuan sekarang (Subagya, 1981). Melalui latihan tertentu manusia sewaktu – waktu “merasa” dirinya mengalami  lebur dalam zat universal. Ke-aku-annya dirasa hilang. Pengalaman kekosongan itu memang dengan sengaja dituju. Pengalaman itu antara lain disebut dengan berbagai nama : suwung, sunya, ilang, lepas darat wiyat, mati sajroning ngaurip, sirna dan lain – lain. Berkat transformasi ini manusia mengetahui Sangkan Paraning Dumadi, sekti, aji, kebal, kemampuan memahami orang lain dan diri sendiri, kemampuan memahami peristiwa – peristiwa dalam kehidupannya, atau yang oleh masyarakat adat dan penghayat disebut ngelmu dan kawruh.

Masyarakat adat dan penghayat juga mempunyai ukuran atau standar yang dipergunakan untuk mengukur sikap atau tindakan pribadi anggotanya. Masyarakat adat dan penghayat sangat peka akan perasaan bahwa ia tidak hidup sendiri di dunia ini, bahwa disamping apa yang kasat mata (dapat dikontak oleh indera), masih luas sekali dunia yang datan kasat mata (tidak terkontak oleh indra), yaitu dunia halus di dalam jagad raya yang luas membentang (makrokosmos), maupun di alam jagadnya manusia sendiri, dan bahkan juga di sekitar tempat ia berpijak (mikrokosmos). Pengetahuan yang digunakan untuk memahami makrokosmos disebut ngelmu dan pengetahuan yang digunakan untuk memahami mikrokosmos disebut kawruh. Masyarakat adat dan penghayat menemukan bahwa hidupnya bergantung dari alam, dan bila dia selaras dengan alam, hidupnya beres. Keselarasan itu ditentukan oleh praktek, dimana pengetahuan dan teknik diterapkan dalam pengalaman (laku) hidupnya.

Kembali pada pemahaman bahwa sejatine menungsa iku padha nunggal kahanan jati Kang Jumeneng Pribadi, maka tuntunan dan tuntutan untuk ngudi elmu lan kawruh berlaku setara bagi perempuan dan lelaki anggota masyarakat adat dan penghayat. Kehidupan manusia pada prinsipnya meliputi periode kelahiran, perkawinan dan kematian, yang dalam rangka keberhasilan melaluinya, manusia, perempuan dan lelaki harus menempa diri dengan ngelmu lan kawruh untuk mengatasi problem – problem yang  muncul sebagai konsekuensi logis kehidupan.

Kiprah Perempuan Penghayat dalam Ranah Domestik dan Publik
Kehidupan manusia yang pada prinsipnya hanya menjalani tiga periode, kelahiran, perkawinan dan kematian, maka bagi kami, anggota masyarakat adat dan penghayat, tidak ada dikotomi antara ranah domestik dan ranah publik. Setiap, manusia, baik perempuan maupun lelaki, punya bobot tanggung jawab yang sama untuk mensukseskan perjalanan hidupnya, memahami dengan sebaik – baiknya bahwa untuk mencapai kemerdekaan sejati, manusia harus mensinergikan tubuh, perasaan, pemikiran, budi – pekerti dan nyawa yang termuat dalam kemanusiaannya.

Bahwa secara kodrati tubuh perempuan diciptakan dengan fungsi fisiologis yang lebih kompleks dibandingkan tubuh lelaki, sehingga maksud dan tujuan yang mengiringi penciptaan perempuan berbeda dengan lelaki. Tetapi tidak lantas dimaknai bahwa fungsi – fungsi kemanusiaannya hanya terbatas pada fungsi – fungsi fisiologis tubuhnya. Tubuh, hanya salah satu dari berbagai alat perwujudan fisikawi yang termuat di dalam Aku (manusia), sehingga Aku (manusia) itulah tempat (wadah)nya. Dengan begitu, dapatlah dipahami bahwa dalam masyarakat adat dan penghayat, perempuan sama bobotnya dengan lelaki.

1. Kelahiran
Perempuan momot, momong, kamot (mengandung, memelihara, mendidik)
Lelaki momong, kamot ( memelihara dan mendidik)
Koesoemaboedaja (1992) menjelaskan, bapa biyung mulang jiwaning si anak :
Sepisan : digulawentah lan dilelantih lair batin supaya Wening Budine, amarga kanti weninging budi ing pangajab si anak bisa nyarirani budi luhur lan slira pakarti luhur.
Kapindho : si anak digegulang marang kawicaksdanan dedalaning kasampurnan.
Katelu : si anak dilelithing sinau ngudi kasampurnan nggayuh kamardikan, iya iku manunggaling kawula Gusti, Sangkan Paraning Dumadi lan Kasidan Jati. Bali mulih marang mula – mulanira.
Kasekawan : Memayu hayu rahayuning Nuswantara lan Bawana, mrih langgenging Jagad Traya.

2. Perkawinan
Perempuan dan lelaki saling mengambil peran dan fungsinya yang setara dalam kehidupan. Dalam kondisi tertentu bisa bergantian peran. Kuncinya, tanggap ing sasmita.

3. Kematian
Yang masih hidup bertanggung jawab ngupakara (memelihara, menyiapkan segala sesuatu) bagi yang mati.

Persepsi Keliru Masyarakat Awam terhadap Masyarakat Adat dan Penghayat
Anggapan di masyarakat yang banyak berkembang saat ini, masyarakat adat dan penghayat dalam relasi antar manusianya, menggunakan konsep – konsep hubungan jender yang bersifat patriarkal. Hal ini mungkin disebabkan karena masyarakat awam “mewarisi” pemahaman bahwa masyarakat adat dan penghayat menggunakan konsep – konsep jawa ningrat Mataram Kota Gede sebagai hasil pergeseran ideologi Jawa Hindu Budha ke Islam yang kental unsur patriarkalnya.
Padahal sejatinya, masyarakat adat dan penghayat menggunakan pola komunal agraris bahari yang egaliter, nirjender yang menyatu dengan jagad raya. Perempuan dan lelaki adalah wujud keharmonisan alam, sepasang, setara dan sinergi.

Oleh: Hendira Ayudia Sorentia
Makalah : Seminar Nasional - Dinamika Kehidupan Perempuan Penghayat Kepercayaan, Semarang 16 April 2014 


 

2 komentar:

  1. Alhamdulillah...
    Nyi mas Ayudia.. telah mewakili suara hati seorang wanita
    Inilah yang di harapkan dari sang pelopor RA.KARTINI
    salam santun Kawulo alit saking bumi Arema

    BalasHapus
  2. Salam santun ... assalamualaikum
    Nyi mas Ayudia
    Saya Kawulo alit saking bumi Arema
    Sangat mendukung program kegiatan nyi mas.inilah yang di gadang -gadang oleh pelopor wanita RA.KARTINI.
    cekap atur Kawulo wasalam mualaikum..wr.wb

    BalasHapus