SEMUA KARENA CINTA MERAH PUTIH. TITIK.

Semuanya karena Cinta Merah Putih. Titik.

Semuanya karena Mas Gator Gunawan dan Agus Bebeng. Semuanya karena rasa cinta pada Merah Putih. Pada Indonesia. Cinta itu kemudian menyebar dengan cepat. Kedelapan penjuru mata angin. Cinta iu kemudian bermuara di situs Lembaga Pemasyarakatan Banceuy, Bandung Jumat (5/6) malam.

Sejak sore Gatot, kang Yadi dari Cicalengka dan kang Bayu dari Wastukancana 33 bergerak cepat. Menata alter di tempat Patung Bung Karno karya Prof. Surya Pernawa, pematung sekaligus Guru Besar Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Pelepah pisang pemberian Mbah Enjum dari Komunitas Seni Reak Cibiru, Kabupaten Bandung mereka potong dengan cepat. Ditata dengan sederhana. Di tengahnya dimasukkan lilin yang sudah diberi alas tembikar kecil. " Supaya lelehan lilin tidak mengotori lantai," kata kang Yadi.

Begitulah, dalam waktu cepat 114 lilin dinyalakan. Seratus empat belas lilin yang menandai usia Bung Karno yang lahir di Surabaya 6 Juni 1901.

Malam datang, Dan warga bangsa yang tahu diri bahwa bangsanya dimerdekakan secara simbolis melalui pernyataan Proklamasi yang dibacakan Soekarno, berdatangan. Tua dan muda. Beberapa anak kecil dari komunitas Seni di Subang dan Lembang langsung belarian. Bermain sambil sesekali mengitari sel kecil yang menjadi tempat penyekapan Bung Karno.

Beberapa pecinta seni pencak yang tergabung dalam Masyarakat Seni Pencak Tradisional Indonesia (Maspi) ikut sibuk. Menggelar karpet pinjaman.

Mbak Nanu, dosen tari dari Institut Seni Bandung Indonesia (ISBI) datang. Fotografer amatir Bandung datang. Mahasiwa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung muncul. Beberapa komunitas lain hadir.  Keluarga Besar Perguruan Trijaya dari Tegal datang dan langsung berbaur dengan peserta lainnya. Mas Aryanto Ketua Kelompok Intelektual Muda Anak Alam Nusantara (Keimanan) Perguruan Trijaya menghilang. Tak lama dia datang membawa air mineral.

Teh Nining, teh Enci dan pasukannya yang bersama Mas Gatot tergabung dalam Kelompok Anak Rakyat (Lokra) sibuk menata soud system. Pak Surya berdiri di keremangan cahaya. Dia seolah tak percaya masih ada yang ingat hari lahir sang Proklamator, " Semoga kita ingat dan mau menjalankan ajaran Bung Karno yakni Pancasila dan Marhaenisme,"katanya pelan.

Di tengah kesibukan, teh Levana Taufan Soekarno Putra, istri almarhum Taufan Soekarno anak Bung Karno dari perkawinanya dengan Hartini.

Acil Bimbo datang kemudian. Juru pelihara situs rumah Ibu Inggit juga terlihat bersama juru pelihara Gedung Indonesia Menggugat. Lampu mati dan acara kemudian dimulai dengan inspektur Upacara pak Tito, cucu angkat Bung Karno.


Goresan tinta : Aa Sudirman
Dalam acara Renungan Suci Memperingati Ulang Tahun Bung Karno ke 114 di
Lembaga Pemasyarakatan Banceuy, Bandung. Jumat 5 Juni 2015






 
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar